Samarinda (ANTARA) - Dalam rimbunnya Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat, Kecamatan Busang, Kutai Timur, Kalimantan Timur, suasana pagi itu terasa hening, namun sarat makna.
Angin berembus lembut menyapa dedaunan di pohon raksasa, sementara air Sungai Hagar, anak Sungai Menyuq, mengalir tenang membelah bentang alam yang masih terjaga keasliannya.
Tempat yang selama ini menjadi rumah bagi ribuan jenis flora dan fauna itu, pada Selasa, 23 Juni 2026, kembali menyambut tiga penghuni baru yang sebenarnya telah lama merindukan kebebasan.
Setelah menempuh perjalanan panjang dan penuh perjuangan, tiga individu bernama Bagus, Eboni, dan Ruby, akhirnya melangkah kembali ke pelukan rimba, alam liar yang seharusnya menjadi rumah mereka sejak lahir, hingga menua.
Pelepasliaran itu merupakan hasil kerja sama antara Balai Konservasi Sumber Daya Alam Kalimantan Timur (BKSDA Kaltim), Kesatuan Pengelolaan Hutan Produksi (KPHP) Kelinjau, serta Centre for Orangutan Protection (COP).
Bagi para pemerhati alam, momen ini bukan sekadar membuka pintu kandang, melainkan sebuah kemenangan besar dalam upaya mengembalikan keseimbangan alam dan menyelamatkan masa depan salah satu spesies langka yang terancam punah, orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus).
Wilayah Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat dipilih sebagai rumah baru mereka bukan tanpa alasan, karena kawasan itu dikelola secara ketat oleh KPHP Kelinjau yang memiliki struktur hutan lengkap.
Kawasan itu juga menyediakan ketersediaan pakan alami yang melimpah, mulai dari buah-buahan, daun, hingga tunas beragam spesies pohon, sehingga dinilai aman dan mampu mendukung keberlangsungan hidup ketiga satwa tersebut.
Pelepasliaran itu juga menjadi bagian dari rangkaian kegiatan menyongsong Hari Konservasi Alam Nasional yang diperingati setiap 10 Agustus. Sebuah kado berharga bagi alam, sekaligus pengingat bagi semua bahwa upaya menjaga kelestarian satwa tidak boleh berhenti.
Strategi matang
Melepaskan orangutan ke alam liar bukanlah perkara sederhana yang bisa dilakukan dengan tergesa-gesa. Setiap langkah harus direncanakan matang demi mengurangi risiko stres, sekaligus memastikan mereka mampu bertahan hidup di belantara.
Tim gabungan menerapkan strategi khusus dalam penentuan waktu dan lokasi pelepasan. Ketiga orangutan itu tidak dilepaskan secara bersamaan di satu titik, melainkan disebar dengan jarak dan waktu yang diatur sesuai perhitungan matang tim.
Urutan pelepasan dimulai dari Eboni, dilanjutkan dengan Bagus, dan diakhiri Ruby. Pembagian lokasi pun dirancang cermat. Eboni dan Ruby dilepaskan di hamparan daratan yang sama, namun jarak antar-titik pelepasan dipisah sekira 1 kilometer.
Sementara itu, Bagus menempuh perjalanan terpisah. Ia dilepaskan di seberang sungai, pada wilayah yang berbeda daratan, dengan jarak sekira 500 meter dari titik pelepasan dua rekannya.
"Strategi ini penting agar mereka punya ruang jelajah awal masing-masing, tanpa harus langsung bersaing memperebutkan wilayah atau pakan," ujar Widi Nursanti, Manajer Pusat Rehabilitasi Orangutan COP.
Seluruh titik pelepasan dipusatkan di sekitar aliran Sungai Hagar yang menjadi jantung kehidupan hutan itu. Dengan pembagian jarak seperti ini, tim memberi kesempatan tiap individu mengenali lingkungan baru secara perlahan dan tenang.
Jejak masa lalu
Di balik nama-nama yang terdengar akrab itu, tersimpan kisah perjalanan hidup yang penuh tantangan. Bagus, Eboni, dan Ruby semuanya memiliki latar belakang yang sama. Mereka adalah korban pemeliharaan ilegal oleh masyarakat.
Tiga orangutan itu kemudian berhasil diselamatkan BKSDA Kaltim bersama tim, lantas mereka harus menjalani proses penyembuhan panjang, sebelum akhirnya bisa kembali ke hutan.
Bagus merupakan individu pertama kali diselamatkan. Ia dievakuasi pada awal September 2020 dari Desa Merabu, Kabupaten Berau. Saat itu ia masih sangat muda dan telah terbiasa hidup di lingkungan rumah, jauh dari kebiasaan alaminya.
Menyusul Eboni, diamankan dari pemeliharaan warga pada akhir April 2022 di Desa Long Beliu, juga di wilayah Berau. Sementara Ruby adalah yang terakhir diselamatkan pada awal April 2024 dari Desa Persiapan Sekurau Atas, Kabupaten Kutai Timur.
Ketika baru tiba di pusat penanganan, kondisi mereka menyisakan kekhawatiran. Terlalu lama hidup berdampingan dengan manusia membuat insting liar mereka memudar.
Tidak tahu cara memanjat pohon dengan lincah, tidak mengenali buah apa saja yang boleh dimakan, bahkan tidak memiliki kemampuan dasar membuat sarang untuk beristirahat di malam hari.
Bagi orangutan, kehilangan naluri ini sama artinya dengan kehilangan kemampuan bertahan hidup, sehingga harus dilakukan rehabilitasi untuk mengembalikan naluri alami mereka.
Kepala BKSDA Provinsi Kaltim M. Ari Wibawanto mengatakan bahwa proses rehabilitasi yang dilakukan tim merupakan jalan sangat panjang yang memakan waktu antara dua hingga enam tahun.
Mereka harus "disekolahkan" karena dari awal sudah terbiasa diberi makan, sehingga pelan-pelan mereka diajari mencari makan sendiri. Jika tidak melalui tahapan ini, melepaskannya ke hutan sama saja dengan membiarkan mati kelaparan atau terancam bahaya.

Menuju kemandirian
Perjalanan pulang ke alam liar dimulai dari ruang perawatan medis. Di pusat rehabilitasi Borneo Orangutan Rescue Alliance (BORA) Kabupaten Berau, ketiganya menjalani pemeriksaan kesehatan menyeluruh untuk memastikan bebas dari penyakit menular yang bisa menular ke populasi liar.
Setelah dinyatakan sehat, mereka memasuki tahap paling krusial, Sekolah Hutan. Di sekolah ini mereka belajar kembali keterampilan yang seharusnya didapatkan dari induknya.
Seperti terampil memanjat pohon, mengidentifikasi jenis tumbuhan yang menjadi sumber pakan, hingga merangkai ranting dan daun menjadi sarang yang nyaman dan aman dari gangguan hewan lain. Proses ini membutuhkan kesabaran luar biasa, karena perubahan perilaku tidak bisa dipaksakan dalam waktu singkat.
Sebagai ujian akhir, mereka harus menghabiskan waktu selama empat bulan di pulau pra-pelepasliaran, sebuah kawasan yang menyerupai habitat asli, namun masih terpisah dari hutan utama, sehingga tetap dalam pengawasan tim.
Di tempat inilah kemandirian mereka benar-benar diuji. Tanpa bantuan makanan dari manusia, mereka harus mengandalkan kemampuan sendiri untuk bertahan hidup.
Hasilnya memuaskan. Selama masa pengamatan di pulau tersebut, Bagus, Eboni, dan Ruby terpantau mampu beradaptasi dengan sangat baik. Naluri alami mereka perlahan pulih kembali.
Mereka aktif bergerak dari satu pohon ke pohon lain, mencari makan dengan cermat, dan membuat sarang setiap sore saat matahari mulai terbenam. Berdasarkan penilaian kesehatan dan perilaku ini, ketiganya akhirnya dinyatakan lolos dan layak dikembalikan ke habitat aslinya.
Populasi alam liar
Pelepasliaran ketiga individu ini menjadi bukti nyata bahwa kerja keras dan kolaborasi bisa membuahkan hasil. Sejak empat tahun terakhir, Hutan Lindung Gunung Batu Mesangat telah menjadi saksi keberhasilan upaya konservasi yang sama.
Sebelumnya sudah ada 15 individu orangutan hasil rehabilitasi dari BORA yang berhasil dilepasliarkan dan kini hidup bebas di kawasan itu, lsehingga dalam empat tahun terakhir, di kawasan tersebut ada 18 orangutan yang hidup bebas setelah "lulus sekolah".
Perjuangan tidak berhenti saat mereka melangkah keluar dari kandang transportasi. Tim pemantauan dari COP akan terus mengawasi pergerakan mereka secara intensif selama tiga bulan ke depan.
Melalui pengamatan langsung, tim akan memastikan mereka aman, mendapatkan cukup pakan, dan mampu menyatu dengan lingkungan serta populasi liar yang sudah ada sebelumnya.
Tugas tim tidak otomatis selesai setelah pintu kandang terbuka, karena pemantauan merupakan bagian penting untuk mendeteksi jika ada kendala yang dihadapi, sekaligus menjadi bahan evaluasi bagi upaya konservasi ke depan.
Bagi Ari Wibawanto, kegiatan ini menjadi wujud nyata komitmen menjaga warisan alam. Ini kerja sama banyak pihak, BKSDA, KPHP, Dinas Kehutanan, LSM, hingga dukungan masyarakat sekitar.
Tanpa sinergi, mustahil langkah besar seperti ini bisa terwujud. Ia pun ingin memastikan generasi mendatang masih bisa melihat orangutan hidup bebas di belantara, bukan hanya mendengar cerita atau melihatnya di buku dan layar kaca.
Kini, di tengah rimbunnya jutaan pohon tua di sepanjang Sungai Hagar, Bagus, Eboni, dan Ruby memulai lembaran baru dalam hidup mereka. Dari masa mereka terkurung dan kehilangan jati diri, kini berjalan kembali menjadi bagian tak terpisahkan oleh hutan.
Kehadiran mereka bukan hanya menambah jumlah populasi, tetapi juga menjadi harapan bahwa selama masih ada kesungguhan dan kepedulian, jalan untuk menyelamatkan satwa langka dan menjaga keseimbangan alam akan selalu terbuka lebar.





