TRIBUN-TIMUR.COM – Desa Betao Riase, Kecamatan Pitu Riawa, bisa disebut 'Kampung Durian' di Kabupaten Sidrap.
Jarak Makassar ibu kota Sulsel ke Sidrap sekitar 219 Km.
Rerata warga Desa Betao Riase memilih bertani. Ada mengandalkan langsat, jeruk, dan rambutan.
Namun mayoritas menggantungkan mata pencaharian sebagai petani durian.
Berdasarkan data pemerintah desa, terdapat puluhan kelompok tani menjadi penggerak utama perekonomian masyarakat.
Ketika musim panen tiba, hasil yang diperoleh mampu memberikan perputaran ekonomi yang sangat besar.
Dalam satu musim, nilai transaksi penjualan durian diperkirakan mencapai sekitar Rp30 miliar.
Rata-rata setiap petani mengelola kebun seluas dua hingga tiga hektare.
Baca juga: BPS Rilis Data Terbaru, Sidrap Pimpin Penurunan Kemiskinan Ekstrem di Sulsel
Seorang petani mengaku mampu menjual 30 hingga 50 ikat durian setiap hari selama musim panen. Satu ikat berisi tiga buah dengan harga Rp50 ribu.
"Alhamdulillah, pendapatan kami saat musim panen bisa mencapai sekitar Rp1,5 juta hingga Rp2 juta per hari," ujar seorang petani yang meminta namanya tak ditulis, Sabtu (27/6/2026).
Tak hanya menjadi sentra produksi durian, Betao Riase kini juga berkembang sebagai tujuan wisata musiman.
Banyak petani membuka kebun mereka bagi pengunjung yang ingin menikmati durian langsung dari pohonnya.
Suasana kebun yang sejuk dengan panorama perbukitan menjadi daya tarik tersendiri.
Pengunjung tidak hanya dapat menikmati buah yang baru dipanen, tetapi juga memilih sendiri durian yang ingin disantap dengan harga yang relatif lebih murah dibandingkan di pasar.
Kepala Desa Betao Riase, Suardi Laupe, mengatakan minat wisatawan terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Menurutnya, media sosial berperan besar dalam memperkenalkan kebun-kebun durian kepada masyarakat luas.
"Sekarang petani sudah melek teknologi. Mereka memanfaatkan media sosial untuk mempromosikan kebun durian sehingga banyak pengunjung datang langsung," ujarnya.
Ada yang berasal dari Parepare, Wajo, Soppeng, hingga daerah lainnya.
"Biasanya mereka datang bersama keluarga untuk menikmati durian di kebun," katanya.
Suardi menilai berkembangnya agrowisata turut membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat.
Selain meningkatkan penjualan durian, kehadiran wisatawan juga memberi manfaat bagi pelaku usaha kecil dan jasa di sekitar desa.
Bagi warga Betao Riase, musim durian bukan sekadar masa panen.
Musim ini menjadi penggerak ekonomi desa sekaligus momentum memperkenalkan potensi agrowisata Sidrap kepada masyarakat yang lebih luas.
Laporan ReporterSidrap: Hardiyanti Kamaluddin