Tren Back to Analog Hidupkan Galeri Antik Medan, Koleksi Ribuan Buku dan Kaset Jadi Daya Tarik
Randy P.F Hutagaol June 27, 2026 06:27 PM

TRIBUN-MEDAN,com, MEDAN -  Di sebuah bangunan di Jalan H.M. Joni No. 8, Kota Medan, terdapat sebuah ruang yang menjadi surga bagi pencinta buku dan musik lawas. Meski baru beroperasi sekitar delapan bulan dengan nama Galeri Antik Medan, konsep tempat ini sejatinya telah dirintis sejak 2017 melalui Literasi Kopi. 

Pemilik Galeri Antik Medan, Jhon Fawer Siahaan (38), mengatakan tempat yang ia bangun bukan sekadar toko atau galeri, melainkan ruang yang menyatukan berbagai bentuk literasi dan nostalgia. 

"Galeri Antik Medan ini memang baru sekitar delapan bulan, tapi secara konsep barang-barang yang ada di sini sudah dimulai sejak Literasi Kopi pada tahun 2017," ujar Jhon. 

Di dalam galeri, pengunjung dapat menemukan ribuan buku, rilisan fisik berupa CD, VCD, Piringan Hitam hingga puluhan ribu kaset pita. Menurut Jhon, meningkatnya minat masyarakat terhadap barang-barang analog menjadi salah satu alasan semua koleksi itu disatukan dalam satu ruang. 

"Belakangan ini saya melihat antusias masyarakat dengan tren back to analog. Ada kesatuan yang sama antara buku, kaset, dan kopi. Makanya saya satukan semuanya di sini," katanya. 

Menariknya, Jhon mengaku dirinya bukan sosok yang sangat gemar membaca. Namun, ia justru menikmati proses mengumpulkan buku karena setiap koleksi selalu menghadirkan cerita dan membuka ruang diskusi baru. 

"Sebenarnya saya tidak terlalu hobi membaca. Tapi menurut saya mengumpulkan buku itu sesuatu yang menyenangkan. Ketika berdiskusi dengan orang lain, selalu ada tema-tema yang bisa digali dari pembicaraan itu," ungkapnya. 

Kecintaannya mengoleksi buku bertema lokal bermula saat menyusun skripsi mengenai sejarah Opera Batak. Pengalaman berkeliling dari satu perpustakaan kampus ke kampus lain di Kota Medan membuatnya prihatin karena minimnya referensi mengenai sejarah dan budaya daerah. 

"Saat menyusun skripsi dengan tema sejarah Opera Batak, saya mencari referensi ke berbagai perpustakaan kampus di Medan. Ternyata koleksi bertema daerah sangat memprihatinkan," ujarnya. 

Berangkat dari pengalaman tersebut, Jhon mulai mengumpulkan buku-buku yang membahas budaya dan sejarah suku-suku di Sumatera, mulai dari Batak, Simalungun, Melayu, hingga berbagai etnis lainnya. 

"Waktu itu referensi penelitian masih didominasi buku. Masalahnya, buku bertema lokal sangat sulit ditemukan. Kalaupun ada, harganya mahal. Akibatnya banyak mahasiswa yang kesulitan menyusun skripsi," katanya. 

Ia bahkan pernah bertemu dengan seorang guru besar yang menulis buku tentang sejarah agama Malim. Saat itu, sang akademisi harus mencari buku Sejarah Batak karya Batara Sangti Simanjuntak hingga ke Malaysia karena sulit ditemukan di daerah asalnya sendiri. 

"Padahal saat itu saya sebenarnya sudah memiliki buku tersebut, hanya saja belum saya buka untuk akses publik. Dari situ saya berpikir, ketika orang membutuhkan referensi studi lokal, Medan harus punya tempat yang bisa menjadi rujukan. Dari situlah Literasi Kopi yang kemudian berkembang menjadi Galeri Antik Medan," jelasnya. 

Komitmen itu juga diperkuat setelah dirinya melakukan perjalanan ke tujuh kabupaten di Sumatera Utara hingga Tapanuli Tengah. Hampir di setiap daerah, ia menemukan kondisi yang sama, yakni minimnya koleksi buku bertema lokal. 

"Saya sudah roadshow ke tujuh kabupaten di Sumatera Utara sampai ke Tapanuli Tengah. Koleksi buku bertema daerah memang sangat minim. Bahkan di Tarutung saja, buku mengenai sejarah lokal Tarutung juga sedikit," tuturnya. 

Kini, koleksi buku di Galeri Antik Medan mencapai sekitar 10 ribu eksemplar. Namun, buku bertema lokal hanya berkisar 300 judul karena memang sulit diperoleh. 

"Kalau total buku sekitar 10 ribuan. Tapi yang bertema lokal hanya sekitar 300-an. Terbitan setelah tahun 2000 sangat sedikit, bahkan yang terbit pada era 1990-an juga semakin sulit ditemukan," kata Jhon. 

Sebagian besar koleksi tersebut diperolehnya melalui pencarian panjang di internet, media sosial, hingga pasar elektronik. 

"Saya menemukan buku-buku ini kebanyakan dari internet, searching di media sosial dan pasar elektronik," ujarnya. 

Meski koleksinya tergolong langka dan berpotensi menjadi sumber referensi penting bagi masyarakat maupun akademisi, Jhon mengaku hingga kini belum ada perhatian dari pemerintah. 

"Sejauh ini belum ada pemerintah yang melirik koleksi saya," katanya. 

Tak hanya buku, Galeri Antik Medan juga menjadi tujuan para pencinta musik analog. Jhon memperkirakan koleksi kaset pita yang dimilikinya kini mencapai sekitar 50 ribu buah. 

Menurutnya, selera pengunjung pun beragam. Anak muda umumnya mencari musik alternatif seperti Green Day dan Oasis, sementara pengunjung yang lebih tua justru berburu kaset etnik atau rilisan era 1970-an yang sudah sulit ditemukan di platform digital. 

"Kalau anak muda biasanya mencari Green Day atau Oasis. Tapi kalau orang tua lebih menelisik kaset etnik dan rilisan tahun 70-an yang kadang tidak ada di YouTube. Jadi mereka datang ke sini," ujarnya. 

Fenomena menarik lainnya, kata Jhon, adalah semakin banyak anak-anak usia sekolah yang mulai tertarik mengenal musik analog. 

"Anak-anak SD sampai SMP sekarang juga sudah mulai datang ke sini, baik untuk membeli maupun sekadar mendengarkan lagu-lagu lawas," pungkasnya.

(cr33/tribun-medan.com) 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.