Cuaca Surabaya Hari Ini Minggu 28 Juni 2026: Cerah Pagi Hari, Berawan Mendominasi Siang hingga Malam
Putra Dewangga Candra Seta June 28, 2026 06:32 AM

 

SURYA.co.id, SURABAYA – Warga Surabaya diperkirakan akan menikmati cuaca yang relatif bersahabat pada Minggu, 28 Juni 2026.

Berdasarkan prakiraan cuaca yang dirilis BMKG, kondisi cuaca di Kota Pahlawan didominasi langit berawan dengan periode cerah pada pagi hari.

Suhu udara diperkirakan berada pada kisaran 23 hingga 34 derajat Celsius, sehingga cuaca terasa cukup hangat terutama saat siang hari.

Angin bertiup dari arah utara dengan kecepatan sekitar 28 kilometer per jam.

Meski tidak ada indikasi hujan dalam prakiraan tersebut, masyarakat tetap disarankan memperhatikan perkembangan informasi cuaca terbaru. 

Aktivitas luar ruangan pada akhir pekan diperkirakan masih dapat berlangsung dengan nyaman apabila memperhatikan kondisi suhu yang cukup tinggi.

Pengendara juga diimbau tetap waspada karena perubahan cuaca dapat terjadi sewaktu-waktu.

Informasi prakiraan cuaca ini dapat menjadi acuan bagi masyarakat yang berencana berlibur, berolahraga, maupun melakukan perjalanan di wilayah Surabaya dan sekitarnya.

Cuaca Pagi: Cerah Sejak Dini Hari hingga Menjelang Siang

CERAH - Ilustrasi cuaca cerah. Simak prakiraan cuaca Surabaya hari ini, Kamis (18/6/2026). Diprediksi cerah hingga berawan.
CERAH - Ilustrasi cuaca cerah. Simak prakiraan cuaca Surabaya hari ini, Kamis (18/6/2026). Diprediksi cerah hingga berawan. (Tribun Wow)

Memasuki dini hari pukul 01.00 WIB, cuaca di Surabaya diperkirakan berawan.

Selanjutnya pada pukul 04.00 WIB dan 07.00 WIB, langit diprediksi cerah, sehingga masyarakat dapat memanfaatkan pagi hari untuk beraktivitas di luar ruangan seperti berolahraga, bersepeda, atau bepergian.

Menjelang pukul 10.00 WIB, kondisi cuaca kembali berubah menjadi berawan. Meski demikian, tidak terdapat potensi hujan dalam prakiraan tersebut.

Cuaca Siang: Berawan dengan Suhu Mencapai 34 Derajat Celsius

Pada periode siang hingga sore, tepatnya pukul 13.00 WIB dan 16.00 WIB, cuaca diperkirakan tetap berawan.

Suhu udara diperkirakan mencapai titik tertinggi sekitar 34 derajat Celsius, sehingga udara terasa cukup panas terutama di kawasan perkotaan.

Masyarakat yang beraktivitas di luar ruangan disarankan menjaga kecukupan cairan tubuh dan menggunakan pelindung seperti topi atau tabir surya untuk mengurangi paparan sinar matahari.

Cuaca Malam: Langit Berawan, Cerah Kembali Menjelang Larut

Memasuki malam hari pada pukul 19.00 WIB, cuaca di Surabaya masih diperkirakan berawan.

Kondisi tersebut berlanjut hingga malam sebelum akhirnya berubah menjadi cerah pada pukul 22.00 WIB.

Suhu udara pada malam hari diperkirakan kembali turun mendekati 23 derajat Celsius, sehingga udara terasa lebih nyaman dibandingkan siang hari.

Sementara itu, angin bertiup dari arah utara dengan kecepatan sekitar 28 km/jam, sehingga masyarakat yang beraktivitas di area terbuka tetap perlu mewaspadai hembusan angin yang cukup kencang.

Tips Beraktivitas pada Minggu, 28 Juni 2026

  • Manfaatkan cuaca cerah pada pagi hari untuk berolahraga atau bepergian.
  • Perbanyak minum air putih karena suhu siang diperkirakan mencapai 34 derajat Celsius.
  • Gunakan topi, payung, atau tabir surya saat beraktivitas di luar ruangan pada siang hari.
  • Perhatikan kondisi angin, terutama bagi pengendara roda dua dan pengguna kendaraan tinggi.
  • Tetap pantau pembaruan informasi cuaca dari BMKG apabila memiliki agenda di luar ruangan dalam waktu lama.

Pola cuaca Surabaya pada Minggu, 28 Juni 2026 menunjukkan karakteristik musim kemarau dengan dominasi cuaca cerah hingga berawan dan tanpa indikasi hujan sepanjang hari.

Kondisi seperti ini umumnya mendukung berbagai aktivitas masyarakat pada akhir pekan, mulai dari wisata, olahraga, hingga perjalanan antarkota.

Meski demikian, suhu maksimum yang mencapai 34 derajat Celsius berpotensi menimbulkan rasa gerah pada siang hari, sehingga masyarakat tetap perlu menjaga kondisi tubuh dan menghindari paparan panas berlebihan.

Di sisi lain, angin dari arah utara dengan kecepatan 28 km/jam juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan, khususnya bagi pengendara maupun pelaku aktivitas di ruang terbuka.

Dengan terus mengikuti pembaruan prakiraan cuaca resmi BMKG, masyarakat dapat merencanakan aktivitas secara lebih aman dan nyaman.

DPRD Surabaya Usulkan Lima Langkah Strategis Kendalikan Banjir

Akibat guyuran hujan deras Senin (22/6/2026) pagi, genangan banjir terjadi di sejumlah titik dan kawasan di Kota Surabaya. 

Bahkan bingga Selasa (23/6/2026) ini, kawasan Surabaya Timur sebagian masih tergenang.

Sejumlah kawasan dan permukiman masih menggenang. Ketua Komisi C DPRD Surabaya Eri Irawan mengingatkan betapa besarnya tantangan penanganan banjir di kota ini.

"Harus ada solusi terintegrasi, termasuk pembenahan pada model penataan ruang.  Sebaiknya jangan semua lahan terbuka diekspansi oleh kawasan permukiman dan komersial," Eri mengingatkan.

Dua hari ini Surabaya, banjir masih menggenang di beberapa wilayah.

Eri menyebut bahwa telah terjadi perpaduan dari sejumlah karakter banjir Surabaya.

Pertama, "banjir lokal" karena intensitas hujan deras yang belum cukup mampu diimbangi keandalan sistem drainase yang terlalu berorientasi pada ”betonisasi”.

Betonisasi ini tidak optimal karena belum sepenuhnya tuntas dibangun dan saling terintegrasi.

Sementara daya tampung saluran tidak optimal lantaran sebagian besar belum dilakukan normalisasi secara maksimal. 

Kedua, pasang laut yang membuat air "antre" menuju laut, bahkan terjadi fenomena “pembalikan air”.

Ketiga, limpahan air dari kawasan hulu sekitar ke Surabaya yang merupakan kota pantai dan daerah hilir.

Eri mengatakan, Surabaya perlu terus memperkuat upaya memadukan pengembangan sistem drainase modern seperti box culvert dengan paradigma berbasis alam yang mendorong implementasi siklus air secara lebih baik untuk mengurangi limpasan air di permukaan dengan memperbanyak resapan air dan tampungan air hujan.

Semua berkejaran dengan dampak perubahan iklim yang membuat pengendalian banjir semakin kompleks. 

Perubahan iklim membuat pola cuaca menjadi ekstrem dan siklus musim bergeser, sehingga kita menemukan fenomena hujan deras terjadi pada periode yang semestinya kering.

"Dampak perubahan iklim ibarat deret ukur alias eksponensial, sedangkan kemampuan kita membangun teknis saluran berbasis beton bak deret hitung, salah satunya karena ruang fiskal yang penuh tantangan," tutur Eri dari Fraksi PDIP.

Hal tersebut sudah menjadi kesadaran bersama Pemkot dan DPRD Surabaya, yang terlihat dari upaya untuk terus memperluas ruang-ruang tangkapan air.

Raperda Pengendalian Banjir yang sedang dibahas, juga sudah menyepakati nantinya ada kewajiban menyediakan kolam tampung air hujan pada setiap kawasan bisnis, perumahan, dan segala jenis ruang, minimal untuk menampung air hujan sebesar 1 m3 per 100 m2 luas lahan.

Perpaduan tiga karakter banjir di Kota Pahlawan membuat pola pengendalian banjir tidak bisa dilakukan hanya dengan memperlancar dan mempercepat aliran air ke hilir dengan pendekatan teknis pembangunan prasarana berupa saluran air berbasis beton dan rumah pompa semata.

Perlu pola pengendalian banjir yang terintegrasi. Diperlukan lima langkah untuk melengkapi pengembangan sistem drainase modern berbasis beton dan rumah pompa.

Pertama, mengembalikan fungsi alami sungai dan lansekap sekitarnya untuk menyelaraskan fungsi sungai sebagai satu bagian dari ekosistem yang berperan penting memitigasi banjir. 
Pengembalian fungsi alami pada sungai dan saluran kecil di permukiman juga harus terus ditingkatkan.

”Contoh yang sudah dikerjakan Pemkot Surabaya, di antaranya normalisasi Kali Anak dan sungai lainnya. Tapi kali lain mengalami penyempitan. Kali Semalang, Sukolilo, yang pada beberapa bagiannya menyempit hingga tinggal 1,5 meter, padahal dulunya 4-5 meter,” ujar Eri.

Kedua menambah instrumen tampungan air untuk pengendali banjir, seperti waduk, bozem, dan sebagainya termasuk membuat resapan-resapan air skala rumah tangga. Termasuk pengembangan bozem pada rawan pasang air laut.

Eri juga mengapresiasi langkah Pemkot Surabaya yang akan mewajibkan pembuatan biopori untuk resapan air pada pembangunan jalan paving melalui dana kelurahan (Dakel).

Ketiga, kolaborasi dengan semua daerah hulu, mengingat Surabaya adalah daerah hilir yang menjadi muara aliran air beberapa sungai besar seperti Sungai Brantas.

Pemerintah pusat dan Pemprov Jatim semestinya bisa mengambil peran koordinatif yang lebih terukur untuk pemulihan lingkungan pada wilayah hulu sungai-sungai besar yang ada di Jatim.

Keempat, pengendalian ruang yang ketat. Saat ini kawasan kota meluas secara acak alias urban sprawl, termasuk pesatnya pertumbuhan. 

Lahan terbuka menjadi lahan tertutup oleh beton, bangunan, maupun aspal, yang kemudian mengurangi proses alami dalam siklus hidrologi yang memungkinkan air hujan meresap ke dalam tanah.

Kelima, perlu revolusi pengelolaan sampah. Hingga saat ini, sampah masih banyak ditemukan di saluran drainase dan sungai, yang menghambat aliran air serta meningkatkan risiko terjadinya banjir.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.