SURYA.co.id, BANGKALAN – Sederet fakta baru mengenai sosok pria yang diduga menjadi orang terakhir bersama Sekretaris Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (PRKP) Kabupaten Bangkalan, Ruly Yunis Setiawati (50), mulai terungkap.
Di tengah derasnya spekulasi di media sosial, kuasa hukum keluarga memastikan foto pria berkacamata dan bermasker yang sempat viral bukanlah sosok sebenarnya, melainkan hasil rekayasa Artificial Intelligence (AI).
Di sisi lain, sebuah video kolase berdurasi 33 detik yang diduga berasal dari ponsel korban justru menjadi petunjuk baru dalam penyelidikan.
Video tersebut memperlihatkan kebersamaan korban dengan seorang pria berkacamata yang memiliki kemiripan dengan pengemudi mobil dinas yang terekam kamera CCTV di Bandara Juanda.
Meski demikian, pihak keluarga maupun kuasa hukum menegaskan belum dapat menyimpulkan bahwa pria dalam video tersebut merupakan pelaku.
Hingga kini, penyidik Polresta Sidoarjo masih mendalami identitas serta peran pria tersebut dalam rangkaian peristiwa yang berujung pada meninggalnya korban.
Kasus ini sendiri menjadi perhatian publik setelah jasad Ruly ditemukan dalam kondisi membusuk di dalam mobil dinas Toyota Innova hitam bernomor polisi M 1090 GP di area parkir Terminal Bandara Juanda, Sidoarjo, pada Rabu (24/6/2026).
Sebelumnya, kamera pengawas merekam seorang pria keluar dari pintu kemudi mobil tersebut pada Sabtu (20/6/2026) sekitar pukul 16.00 WIB.
Berikut rangkuman fakta-fakta baru tentang sosok pria bersama Ruly sebelum meninggal.
Kuasa hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya, memastikan foto pria berkacamata dan mengenakan masker yang beredar luas di media sosial bukan berasal dari hasil penyelidikan kepolisian.
"Kalau (foto) pria yang beredar itu hasil rekayasa AI (Artificial Intelligence), bukan seperti itu," ungkap Kuasa Hukum keluarga korban, Risang Bima Wijaya kepada Tribun Madura, Minggu (28/6/2026).
Menurut Risang, beredarnya gambar tersebut justru memunculkan spekulasi yang berpotensi menyesatkan publik karena tidak sesuai dengan fakta yang sedang didalami penyidik.
Meski identitas pria tersebut belum dipublikasikan kepada masyarakat, Risang menyebut pihak keluarga inti sebenarnya telah mengetahui siapa sosok yang dimaksud.
"Pada intinya, kami sebenarnya terutama kuasa hukum serta beberapa anggota keluarga yang penting dan khusus, sudah mengetahui sosok pria itu seperti apa, wajahnya seperti apa, namanya siapa, alamatnya di mana, dan umurnya berapa?. Kami sudah tahu semua, tapi tidak semua anggota keluarga almarhumah," tegas Risang.
Namun demikian, informasi tersebut masih dirahasiakan demi kepentingan proses penyelidikan yang dilakukan kepolisian.
Baca juga: Titik Terang Kematian Ruly ASN Bangkalan yang Ditemukan Meninggal di Juanda, Hasil Pemeriksaan Organ
Perkembangan terbaru muncul setelah beredar video kolase berdurasi 33 detik di sejumlah grup WhatsApp. Video tersebut memperlihatkan kebersamaan Ruly bersama seorang pria berkacamata.
Risang membenarkan perempuan dalam video tersebut merupakan almarhumah Ruly Yunis Setiawati.
Ia juga menilai terdapat sejumlah kesamaan antara pria dalam video dengan sosok yang terekam CCTV saat mengendarai mobil dinas korban menuju Bandara Juanda.
"Dari kaca mata pribadi, saya cocok. Ada kesesuaian pada rambut, kaca mata, lebar dahi, kaos. Paling mencolok itu pada gagang kaca mata ada tanda kuning, apalagi kaos paling cocok," ungkap Kuasa Hukum Risang Bima Wijaya kepada sejumlah awak media.
Meski melihat adanya kemiripan, Risang tetap menegaskan dirinya tidak dapat menyimpulkan bahwa pria tersebut merupakan pelaku.
"Kalau saya pribadi kaos cocok, tapi saya tidak bisa mengatakan pria itu pelakunya sebelum orang itu ditangkap dan mengatakan, betul bahwa ia pelaku dan apa motifnya," pungkas Risang.
Risang mengungkapkan video yang beredar kemungkinan berasal dari ponsel milik korban yang saat ini telah diamankan penyidik.
"Ponsel korban ada di tangan penyidik, betul itu adalah korban. Kemudian tertulis di situ Oppo A9, betul ponsel korban, diunggahnya tanggal 19 Juni 2026, berarti hari Jumat dan lokasinya di Alun-alun Kota Batu," jelas Risang.
Ia menambahkan kronologi unggahan tersebut selaras dengan informasi terakhir yang diketahui keluarga mengenai keberadaan korban.
"(Kronologis) nyambung, bahwa Jumat siang itu masih ada di Alun-alun (Kota Batu), Jumat malam Sabtu video call ada posisi di Malang," jelas Risang.
Temuan digital tersebut kini menjadi salah satu petunjuk yang didalami penyidik untuk menyusun kembali rangkaian aktivitas korban sebelum ditemukan meninggal dunia.
Kuasa hukum keluarga optimistis penyidik telah mengantongi identitas pria yang terakhir terlihat bersama korban.
"Kami berkeyakinan bahwa penyidik sudah mengantongi identitas pelaku. Dengan segala sumber daya yang dimiliki polisi, kami sangat yakin pelaku akan tertangkap agar semua terungkap. Harapan kami (ungkap kasus) ini bisa dilakukan dengan cepat, pasti tertangkap, tinggal menunggu waktu saja," ungkap Risang.
Ia juga meyakini polisi memiliki data yang jauh lebih lengkap karena dapat menelusuri berbagai rekaman CCTV dari sejumlah lokasi.
"Saya dan beberapa anggota keluarga penting sudah tahu profil pria berkaca mata minus itu. Apalagi penyidik polisi tentu lebih tahu dari saya karena mereka bisa meminta seluruh CCTV di hotel, di toko, di Indomart, atau di jalanan juga banyak CCTV. Penyidik sudah punya (profil pria misterius) dan lebih tahu dari kami."
"Nah itu penyidik (Polresta Sidoarjo) yang tahu, namun kami yakin polisi sudah tahu identitasnya. Cuma memang belum ketemu saja ini, belum diketahui keberadaannya. Karena dari awal sejak dibuang Hari Sabtu dan ditemukan Rabu, itu berarti sudah cukup lama atau cukup waktu untuk pelaku lari, menghilangkan jejaknya, dan bersembunyi di mana saja," pungkasnya.
Sekadar informasi, Ruly Yunis Setiawati merupakan warga Perumahan Lavender, Kelurahan Mlajah, Kabupaten Bangkalan. Ia berstatus Aparatur Sipil Negara (ASN) dan menjabat sebagai Sekretaris Dinas PRKP Pemerintah Kabupaten Bangkalan.
Hingga kini, penyebab pasti kematiannya masih menunggu hasil penyidikan dan pemeriksaan forensik sehingga belum dapat dikaitkan secara langsung dengan riwayat penyakit tersebut.
Perkembangan terbaru menunjukkan bahwa penyelidikan kini semakin banyak bertumpu pada bukti digital, mulai dari rekaman CCTV, jejak lokasi ponsel, hingga video yang diduga berasal dari perangkat milik korban. Informasi tersebut berpotensi membantu penyidik menyusun kronologi perjalanan terakhir korban secara lebih utuh.
Meski demikian, keberadaan video maupun kemiripan ciri fisik belum dapat dijadikan dasar untuk menyimpulkan keterlibatan seseorang dalam tindak pidana. Penetapan status hukum tetap bergantung pada alat bukti yang sah sesuai proses penyidikan.
Karena itu, publik perlu mengedepankan asas praduga tak bersalah sembari menunggu hasil resmi dari kepolisian mengenai penyebab kematian korban maupun identitas pihak yang bertanggung jawab.