WARTAKOTALIVE.COM, Jakarta — Gelombang panas ekstrem kembali menyelimuti sejumlah negara di Eropa.
Suhu udara yang menembus hingga 40 derajat Celsius membuat aktivitas masyarakat terganggu, bahkan memicu kepanikan warga yang berbondong-bondong membeli pendingin udara atau air conditioner (AC).
Fenomena tersebut terekam dalam sebuah video yang viral di media sosial.
Rekaman dari Kota Chambéry, Prancis, memperlihatkan puluhan warga bergegas memasuki sebuah toko elektronik sesaat setelah pintu dibuka demi mendapatkan unit AC.
Dalam video itu, para pembeli tampak berlari menuju tumpukan boks pendingin udara yang disusun di dekat pintu masuk.
Suasana toko pun berubah ricuh ketika para pelanggan saling berebut mengambil produk di tengah antrean yang semakin padat.
"Panas membuat orang-orang menjadi gila. Di Chambéry, lusinan pembeli menyerbu AC begitu toko dibuka," tulis salah satu pengguna media sosial X dalam unggahan yang dikutip The Economic Times, Sabtu (27/6/2026).
Unggahan tersebut juga menggambarkan situasi di dalam toko yang semakin sulit dikendalikan.
"Di tengah desakan, ketegangan, dan orang-orang yang berlarian di lorong-lorong, situasi dengan cepat menjadi di luar kendali," demikian bunyi keterangan dalam unggahan tersebut.
Gelombang panas kali ini tidak hanya melanda Prancis, tetapi juga menyapu berbagai wilayah di Benua Biru.
Sejumlah negara di Eropa Barat dan Selatan mengalami lonjakan suhu yang jauh di atas rata-rata musim panas, sehingga meningkatkan kebutuhan masyarakat akan perangkat pendingin ruangan.
Meningkatnya permintaan tersebut turut mendongkrak penjualan AC di kawasan Eropa.
Produsen elektronik asal Asia menjadi pihak yang paling diuntungkan karena permintaan pasar melonjak dalam waktu singkat.
Berdasarkan laporan dari media setempat, perusahaan-perusahaan seperti Samsung Electronics dari Korea Selatan, Midea dari China, hingga Mitsubishi Electric dari Jepang mencatat peningkatan permintaan produk pendingin udara di pasar Eropa.
Lonjakan penjualan ini mencerminkan perubahan pola konsumsi masyarakat Eropa yang selama ini relatif tidak terlalu bergantung pada AC dibandingkan negara-negara beriklim tropis.
Namun, frekuensi gelombang panas yang semakin sering terjadi dalam beberapa tahun terakhir mendorong masyarakat mulai menganggap pendingin udara sebagai kebutuhan penting, bukan lagi sekadar barang pelengkap.
Para ahli iklim sebelumnya telah memperingatkan bahwa perubahan iklim global meningkatkan kemungkinan terjadinya gelombang panas yang lebih sering, lebih lama, dan lebih ekstrem.
Kondisi tersebut tidak hanya berdampak pada kesehatan masyarakat, tetapi juga meningkatkan konsumsi listrik, memberi tekanan terhadap sistem energi, serta mengubah pola permintaan berbagai produk penunjang kenyamanan, termasuk pendingin udara.