Jejak sejarah Cagar Budaya Gereja Kristen Tertua Di Kota Depok
Alfa Pratomo June 29, 2026 04:34 PM

Gereja GPIB Immanuel Depok disebut sebagai gereja tertua di Kota Depok. Erat kaitannya dengan Cornelis Chastelein, pendiri Kota Depok.

---

Intisari hadir di whatsapp channel, follow dan dapatkan berita terbaru kami di sini

---

Intisari-Online.com -Sejarah Indonesia mencatat, Kota Depok, Jawa Barat, yang berbatasan langsung dengan Jakarta menyimpan sejarah yang panjang dan unik. Depok pernah menjadi sebuah wilayah yang pernah menjadi "negara di dalam negara", melakukan pembebasan budak yang mendahului zamannya, dan memiliki warisan sosial yang masih tersisa hingga hari ini.

Termasuk warisan bcagar budaya berupa bangunan.

Kota Depok menyimpan kisah Sang Saudagar VOC dan Tanah Impian. Kota yang sekarang menjadi penyangga Jakarta itu tak bisa dipisahkan dari satu nama:Cornelis Chastelein.

Dia bukantentara, melainkan seorang saudagar kaya berpangkat tinggi di VOC. Berbeda dengan kebanyakan pejabat kolonial yang hanya memikirkan keuntungan komersial, Chastelein adalah seorang mumpuni yang memiliki pandangan sosial-keagamaan yang radikal untuk masanya.

Pada akhir abad ke-17 (sekitar tahun 1696), Chastelein membeli lahan luas di pedalaman selatan Batavia yang berstatus tanah partikelir (tanah swasta). Lahan berhutan jenuh yang dialiri Sungai Ciliwung itulah kini kita kenal sebagai Depok.

Menurut beberapa sumber, ada sebuah mitos populer yang menyebut bahwa nama "Depok" merupakan akronim dari bahasa Belanda yang dibuat oleh Chastelein yaitu "De Eerste Protestanse Organisatie van Christenen" alias Organisasi Kristen Protestan Pertama.

Meski begitu, beberapa sejarawan juga ada yang menyebut bahwa Depok berasal dari kata bahasa Sunda "padepokan",yang berarti tempat bertapa atau permukiman sunyi.

Chastelein membawa sekitar 150 budak dari berbagai belahan Nusantara—mulai dari Bali, Sulawesi, Ambon, hingga Timor—untuk menggarap perkebunan lada dan kopinya. Ketika Chastelein wafat pada 28 Juni 1714, sebuah wasiat luhur dibacakan: dia membebaskan semua budaknya itu dan mewariskan seluruh tanah Depok kepada mereka secara komunal.

Di depok juga ada sebuah bangunan gereja yang disebut sebagai gereja tertua di Depok. Itu adalahGereja GPIB Immanuel Depok (Gereja Protestan di Indonesia bagian Barat Jemaat "Immanuel" Depok).

Gereja ini terletak di Jl. Pemuda No. 70, Depok Pancoran Mas, dan merupakan salah satu situs sejarah paling penting di Kota Depok. Beberapa sumber menyebut bahwaGereja GPIB Immanuel Depok ini adalah Warisan Cornelis Chastelein.

Bagaimanapun juga, sejarah gereja ini memang sangat berkaitan denganCornelis Chastelein. Tak hanya membebaskan budak-budaknya, Chastelein juga mewariskan kekristenan di Depok.

Bangunan awal Gereja GPIB Immanuel Depok berupa kayu dan bambu sederhana. Sementara bangunan yang berdiri saat inimemiliki ciri khas arsitektur kolonial Hindia Belanda, dengan dinding putih tebal, jendela-jendela besar berbentuk lengkungan (arch), serta menara lonceng yang ikonik di bagian atasnya.

Gereja GPIB Immanuel Depok juga sempat direnovasi. Hal ini dikarenakan bangunan Gereja GPIB Immanuel Depok sempat rusak akibat gempa bumi besar pada 1834 dan dibangun kembali pada 1854.

Tak hanya sekali, seiring berkembangnya waktu, bangunan gereja ini mengalami beberapa kali renovasi juga perluasan untuk menampung jemaat yang bertambah. Meski begitu, karakter dan rasa sentuhan kolonial yang murni masih melekat kuat di keseluruhan bangunan gereja baik di bagian eksterior maupun interior.

Ketika melewati pintu utama, mata kita akan langsung tertambat pada sebuah prasasti batu marmer hitam yang terpasang kokoh di dinding. Prasasti itu ditulis dalam bahasa Belanda kuno, yang ditujukan untuk menghormati Cornelis Chastelein dan sebagai tonggak sejarah berdirinya jemaat Masehi Depok.

Di sisi lain dinding, ada juga daftar nama-nama para pendeta yang melayani di gereja ini. Termasuk Baprima Lukas yang merupakan pendeta pertama asal Bali.

Di ruang utama, terdapat deretan bangku kayu kokoh berwarna cokelat tua berjejer simetris menghadap mimbar. Di balik mimbar, dinding marmer putih dengan salib besar berdiri anggun.

Ruangan ini memiliki langit-langit yang tinggi. Khas bangunan tropis Hindia-Belanda, yang membuat sirkulasi udara terasa sejuk berhembus meski tanpa pendingin ruangan yang berlebih.

Jika melihat dari bagian depan fasad bangunan, kita akan melihat sebuah menara kecil yang menaungi lonceng gereja tua yang masih setia berdentang, seolah memanggil jemaat untuk pulang beribadah.

Sebagai catatan, kawasan di mana gereja berdiri sejatinya adalah pusat "Depok Lama". DanGereja GPIB Immanuel Depok sendiri telah ditetapkan sebagai salah satu benda cagar budaya yang dilindungi karena nilai sejarahnya yang sangat tinggi dalam perkembangan masyarakat asli Depok.

Tidak sekadar cagar budaya, Gereja GPIB Immanuel Depok juga menjadi ruang hidup (living heritage), di mana setiap Minggu, lagu-lagu pujian membubung tinggi dari ruangan bangunan gereja tertua ini.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.