POSBELITUNG.CO -- Presiden ke-7 RI, Joko Widodo, melakukan safari politik yang dimulai dari Lampung.
Pakar hukum tata negara, Feri Amsari, menilai safari politik yang mulai dilakukan Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki dua tujuan.
Bukan hanya untuk mendongkrak elektabilitas PSI menuju Pemilu 2029, namun langkah tersebut juga dinilai sebagai sinyal bahwa Jokowi masih memiliki peran politik.
Hal ini disampaikan oleh Feri kepada wartawan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (28/06/2026).
"Dia butuh untuk partai ini dapat angka-angka yang layak untuk masuk parlemen sedari dini untuk maju," kata Feri.
"Sekaligus mau kasih tahu berbagai pihak bahwa dia masih bekerja, termasuk kepada Presiden Prabowo lah" lanjut dia.
Baca juga: Biodata Andi Agum Djollo, Pengusaha Sukses Lamar DJ Una, Dijuluki Kaka Boss, Pernah Gagal Nyaleg
Feri Amsari merupakan seorang pria kelahiran Padang, Sumatera Barat pada 2 Oktober 1980.
Ia adalah seorang dosen Hukum Tata Negara (HTN) yang mengajar di Universitas Andalas, Sumatera Barat.
Feri Amsari juga dikenal sebagai aktivis di bidang hukum.
Sosok Feri Amsari dikenal aktif sebagai peneiti senior dan mantan Direktur Pusat Studi Konstitusi (PUSaKO) Fakultas Hukum Universitas Andalas sejak 2017-2023.
Ia tercatat pernah menempuh pendidikan Universitas Andalas dan William & Mary Law School.
Sebagai aktivis, ia pernah menjabat sebagai Ketua Dewan Perwakilan Mahasiswa dan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Andalas pada 2002-2003.
Selain itu, ia juga aktif sebagai wartawan mahasiswa dan anggota Dewan Redaksi Buletin Gema Justisia Fakultas Hukum Universitas Andalas.
Tak hanya itu, ia juga menjabat sebagai Ketua Unit Kegiatan Mahasiswa Pengenalan Hukum dan Politik (UKM PHP) Universitas Andalas pada 2003-2004.
Pakar hukum tata negara, Feri Amsari menilai safari politik yang mulai dilakukan Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) memiliki dua tujuan.
Selain untuk mendongkrak elektabilitas PSI menuju Pemilu 2029, langkah tersebut juga dinilai sebagai sinyal bahwa Jokowi masih memiliki peran politik.
"Dia butuh untuk partai ini dapat angka-angka yang layak untuk masuk parlemen sedari dini untuk maju," kata Feri kepada wartawan di kawasan Cikini, Jakarta Pusat, Minggu (28/06/2026).
"Sekaligus mau kasih tahu berbagai pihak bahwa dia masih bekerja, termasuk kepada Presiden Prabowo lah" lanjut dia.
Meski menilai safari politik tersebut sah dilakukan, Feri mengkritik Jokowi karena dinilai tidak konsisten dengan pernyataannya usai mengakhiri masa jabatan sebagai presiden.
"Katanya mau istirahat tetapi malah kemudian terjun ke dunia politik yang menurut saya seharusnya sudah masuk ke fase berwibawa sebagai guru bangsa," ujarnya.
Feri juga menyinggung pernyataan Jokowi yang sebelumnya menyebut akan kembali menjadi rakyat biasa. Namun, menurutnya, Jokowi justru aktif menjadi bagian dari mesin politik PSI.
"Dia menyatakan akan istirahat, akan pulang kampung menjadi warga negara biasa, ternyata kemudian menjadi mesin politik partai tertentu yaitu partai anaknya sendiri," kata Feri.
Menurut Feri, tidak ada larangan bagi Jokowi untuk melakukan safari politik.
Baca juga: Biodata DJ Una, Dilamar Pengusaha Sukses Andi Agum, Siap Menikah usai 6 Tahun Menjanda
Namun, ia mempertanyakan kepatutan langkah tersebut karena dianggap bertolak belakang dengan pernyataan yang pernah disampaikan Jokowi.
Jokowi memulai rangkaian safari politik keliling Indonesia, dengan kunjungan pertamanya ke Provinsi Lampung selama tiga hari pada 26-28 Juni 2026.
Dalam safari ini, Jokowi mengenakan kemeja dan topi berlogo Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan hadir sebagai motivator untuk membesarkan partai.
Dikutip dari Tribun Lampung, Jokowi menerima gelar adat kehormatan 'Baginda Pemuka Bangsa' yang dianugerahkan oleh perwakilan lima kerajaan adat besar di kawasan cagar budaya Kedatun Keagungan, Kota Bandar Lampung, kemarin.
Kemudian, Jokowi memberikan pengarahan taktis dalam agenda Rapat Koordinasi Daerah (Rakorda) DPD PSI Kota Bandar Lampung di Pondok Rimbawan, Bandar Lampung.
Namun, Rangkaian kegiatan Jokowi di Lampung rupanya diwarnai aksi penolakan dari warga. Khususnya sejumlah ibu-ibu.
Pada Sabtu, ratusan massa aksi yang didominasi ibu-ibu mengenakan gamis hitam nekat menggelar aksi demonstrasi besar di kawasan Bundaran Adipura.
Mereka meneriakkan 'Usir Jokowi' di Tugu Adipura ketika aksi berlangsung.
Massa yang terafiliasi dalam Forum Suara Masyarakat Lampung (FSML) ini, mengancam akan melakukan aksi long march untuk mengepung dan menggeruduk Gedung Rimbawan, lokasi di mana Jokowi tengah menghadiri Rakorda PSI Kota Bandar Lampung.
(Posbelitung.co/Tribunnews.com)