TRIBUNFLORES.COM, RUTENG - Universitas Katolik Indonesia (Unika) Santu Paulus Ruteng kembali memperluas jejaring akademik internasional melalui The 1st International Conference on Agriculture, Livestock, and Civil Engineering (ALICE) 2026 yang berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (29/6/2026).
Konferensi internasional ini mengangkat tema "Towards Sustainability: Eco-Friendly Agriculture and Livestock Practices, and Engineering for Sustainable Infrastructure" sebagai komitmen bersama dalam menghadirkan solusi ilmiah bagi pembangunan berkelanjutan.
Kegiatan ini mempertemukan dosen, peneliti, mahasiswa, praktisi, dan akademisi dari Indonesia maupun luar negeri untuk bertukar gagasan, membangun kolaborasi, dan menghasilkan inovasi yang menjawab tantangan global di bidang pertanian, peternakan, dan teknik sipil.
Baca juga: Matangkan Pemilihan Ketua BEM, KPUM FKIP Unika St Paulus Ruteng Konsultasi ke KPU Manggarai
Konferensi internasional perdana yang digagas Fakultas Pertanian, Peternakan, dan Fakultas Teknik Unika Santu Paulus Ruteng ini menghadirkan keynote speakers dari Universitas Teknologi MARA (Malaysia), Benguet State University (Filipina), dan Universitas Katolik Indonesia St. Paulus Ruteng.
Selain peserta dari lingkungan Unika, konferensi juga diikuti akademisi dari Universitas Brawijaya, Universitas Timor (Unimor), Benguet State University, serta berbagai perguruan tinggi lainnya.
Ketua Panitia 1st ALICE 2026, Ir Patrisius Valdoni Sandi ST MT, mengatakan bahwa konferensi ini tidak hanya menjadi ruang presentasi hasil penelitian, tetapi juga wadah membangun sinergi lintas disiplin ilmu.
"Konferensi ini kami rancang untuk mempertemukan pertanian, peternakan, dan teknik sipil dalam satu ruang kolaborasi. Ketiga bidang ini saling melengkapi untuk melahirkan solusi nyata bagi pembangunan yang berkelanjutan," ujarnya.
Baca juga: Dorong UMKM Kreatif, Mahasiswa PBSI Unika St Paulus Ruteng Latih Warga Buat Gendang Berkualitas
Patrisius menjelaskan bahwa tema ALICE 2026 lahir dari kebutuhan dunia saat ini untuk menghadirkan inovasi yang mampu menjawab persoalan perubahan iklim, ketahanan pangan, dan pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, dari perspektif teknik sipil, konferensi ini membuka ruang bagi pengembangan material ramah lingkungan, konsep green infrastructure, hingga metode konstruksi yang lebih berkelanjutan.
Di sisi lain, sektor pertanian dan peternakan memperoleh kesempatan untuk berkolaborasi dengan bidang teknik dalam mengembangkan sistem irigasi cerdas, pengelolaan limbah peternakan menjadi bioenergi, serta pembangunan rantai pasok pangan yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
"Manfaat terbesar konferensi ini adalah lahirnya titik temu antardisiplin ilmu. Pertanian, peternakan, dan teknik sipil tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, tetapi saling mendukung untuk menghasilkan solusi yang lebih komprehensif," jelasnya.
Selain memperkuat inovasi, ALICE 2026 juga membuka peluang peningkatan publikasi ilmiah dan perluasan jejaring kerja sama internasional bagi para peneliti.
Elvis Hadun/Tribun Flores