Jerawat Muncul Bukan karena Wajah Kurang Bersih, Ini Faktor Penyebab yang Saling Berkaitan
Willem Jonata June 29, 2026 10:18 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Jerawat masih menjadi salah satu masalah kulit yang paling sering dialami masyarakat Indonesia, baik remaja maupun orang dewasa. Meski demikian, masih banyak orang yang keliru memahami penyebab maupun cara penanganannya.

Seiring berkembangnya ilmu dermatologi, jerawat kini tidak lagi dipandang sekadar akibat wajah yang kurang bersih atau dipicu konsumsi makanan tertentu.

Para dokter kulit menilai jerawat merupakan penyakit inflamasi kronis yang melibatkan berbagai mekanisme biologis sehingga memerlukan diagnosis dan terapi yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien.

Baca juga: Jerawat di Punggung Jangan Dianggap Sepele, Ini Penjelasan Dokter

Perubahan cara pandang ini menjadi penting karena tidak sedikit penderita yang mencoba berbagai produk perawatan kulit secara mandiri tanpa mengetahui jenis jerawat yang dialami. Alih-alih membaik, kondisi kulit justru dapat semakin sensitif, meradang, hingga meninggalkan bekas permanen.

Founder DL Beauty, dr. Dedy Chandra, mengatakan penanganan jerawat saat ini tidak lagi hanya berfokus menghilangkan lesi yang muncul di permukaan kulit, tetapi juga mengatasi faktor-faktor yang menjadi penyebab utamanya.

"Masih banyak yang menganggap jerawat muncul karena wajah kurang bersih. Padahal, berdasarkan perkembangan ilmu kedokteran kulit, jerawat adalah penyakit pada unit pilosebasea yang melibatkan banyak faktor. Karena itu, terapi tidak cukup hanya mengeringkan jerawat, tetapi juga harus memahami mekanisme yang mendasarinya," ujar dr. Dedy, Senin (29/6/2026).

Menurutnya, terdapat sedikitnya lima faktor utama yang saling berkaitan dalam proses terbentuknya jerawat. Proses tersebut diawali oleh penyumbatan pori akibat penumpukan sel kulit mati dan sebum yang kemudian membentuk komedo.

Selanjutnya, produksi minyak atau sebun yang berlebihan maupun tidak seimbang turut meningkatkan risiko timbulnya jerawat. 

Namun, kulit berminyak bukan satu-satunya penyebab. Pada sebagian pasien, jerawat justru muncul ketika lapisan pelindung kulit (skin barrier) mengalami gangguan sehingga kulit menjadi lebih sensitif, mudah teriritasi, dan rentan mengalami peradangan.

Faktor lain yang turut berperan adalah inflamasi atau peradangan yang memicu munculnya jerawat merah dan bernanah, ketidakseimbangan mikrobioma kulit, serta kerusakan pascajerawat berupa noda kehitaman, kemerahan, hingga bopeng.

Karena mekanisme penyebabnya berbeda-beda, dr. Dedy menegaskan bahwa setiap jenis jerawat membutuhkan pendekatan terapi yang berbeda.

Jerawat komedonal (comedonal acne), misalnya, didominasi komedo dan bruntusan. Sementara papulopustular acne ditandai benjolan merah yang meradang dan dapat berisi nanah. 

Ada pula nodulocystic acne atau jerawat batu yang berukuran lebih besar, terasa nyeri, dan berisiko tinggi meninggalkan jaringan parut permanen apabila tidak ditangani dengan tepat.

Selain itu, terdapat hormonal acne yang umumnya muncul di area rahang dan dagu akibat perubahan hormon, serta skincare-induced acne yang dipicu penggunaan produk perawatan kulit yang tidak sesuai dengan kondisi kulit.

"Diagnosis menjadi tahap paling penting karena setiap jenis jerawat memiliki mekanisme yang berbeda. Dengan mengetahui penyebabnya, terapi dapat lebih efektif sekaligus mengurangi risiko kekambuhan maupun bekas jerawat," katanya.

Tak hanya memengaruhi kondisi kulit, jerawat juga dapat berdampak pada kualitas hidup penderitanya. 

Tidak sedikit pasien mengalami penurunan rasa percaya diri, menarik diri dari lingkungan sosial, hingga mengalami gangguan psikologis akibat kondisi kulit yang tidak kunjung membaik.

Karena itu, dalam dermatologi modern berkembang konsep skin longevity, yakni menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang, bukan sekadar mengejar hasil yang terlihat cepat.

Pendekatan ini menitikberatkan pada pengendalian inflamasi kronis, menjaga keseimbangan mikrobioma kulit, memperbaiki fungsi skin barrier, mencegah terbentuknya bekas jerawat, serta mendukung regenerasi kulit secara bertahap.

Menurut dr. Dedy, terapi yang hanya berfokus membuat jerawat cepat kering tanpa memperhatikan kesehatan kulit secara menyeluruh justru berpotensi menimbulkan masalah baru.

"Tujuan terapi modern bukan hanya membuat jerawat hilang, tetapi mengembalikan fungsi kulit agar tetap sehat dan lebih tahan terhadap berbagai faktor pemicu. Dengan begitu, hasil pengobatan menjadi lebih optimal dan risiko kekambuhan dapat ditekan," ujarnya.

Sebagai bagian dari pendekatan tersebut, DL Beauty menerapkan prinsip penanganan jerawat 4R, yaitu Read, Reduce Inflammation, Repair Barrier, dan Regenerate.

Penanganan diawali dengan memahami jenis jerawat dan kondisi kulit pasien secara menyeluruh, kemudian dilanjutkan dengan pengendalian inflamasi, perbaikan skin barrier, serta regenerasi kulit untuk membantu mengatasi bekas jerawat sesuai kebutuhan masing-masing individu.

Ia berharap pendekatan yang lebih komprehensif dapat mengubah cara pandang masyarakat bahwa jerawat bukan sekadar persoalan estetika, melainkan kondisi medis yang memerlukan penanganan berdasarkan jenis, penyebab, dan kondisi kulit setiap individu.

"Dengan demikian, terapi tidak hanya bertujuan menghilangkan jerawat, tetapi juga menjaga kesehatan kulit dalam jangka panjang," katanya.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.