Opini - Tubuh dan Artificial Intelligence (AI)
Oleh: Sixtus Junior Faon
Mahasiswa Prodi Ilmu Filsafat Unwira Kupang
POS-KUPANG.COM - Di era sekarang ini yang ditandai dengan maraknya penggunaan teknologi di berbagai segmen kehidupan, Artificial Intelligence (AI) merupakan salah satu instrumen yang cenderung menunjukkan ambiguitas.
Di satu sisi AI dapat dimanfaatkan sebagai instrumen untuk mempermudah aktifitas manusia, seperti menjadi teman diskusi atau menjadi reverensi pembelajaran bagi para pelajar.
Di sisi lain, dengan kemudahan yang ditawarkan, AI dapat dijadikan reverensi satu-satunya dalam hal pembelajaran sehingga manusia cenderung tidak berpikir secara otonom.
Praktik “idolatria” atau penyembahan AI sebagai berhala pikiran yang tidak-menubuh (Hardiman, 2026), tentu menimbulkan pertanyaan eksistensial tentang perbedan manusia dan mesin AI.
Jika AI dapat meniru semua hal yang dapat dilakukan manusia; menciptakan karya seni, berpidato, berdiskusi, mengajar, menghasilkan karya ilmiah, bahkan berpacaran, lalu apa kekhasan dari pikiran manusia yang menjadi diferentia spesifica (ciri pembeda khusus) jika dibandingkan dengan AI.
Sebagaimana yang diungkapkan oleh filsuf kontemporer Prancis Maurice Marleau-Ponty, seperti yang dikutip oleh Budi Hardiman, perbedaan antara manusia dan mesin AI terungkap melalui fakta eksistensial bahwa pikiran manusia selalu menubuh (embodied mind), sedangkan AI merupakan pikiran yang tidak-menubuh (disembodied mind).
Dapat dikonstruksikan tubuh AI yang mirip dengan manusia, namun dengan tubuh artificial tersebut AI tidak mampu menghayati tubuhnya, serta tidak mampu menyadari dirinya sebagai yang être-au-monde (berada-dalam-dunia).
Être-au-monde (berada-dalam-dunia) yang dimaksud ialah berada sebagai tubuh yang menyadari dunia secara fenomenologis, langsung, atau pra-ilmiah (Hardiman, 2026).
Maka itu perlu ditegaskan bahwa manusia bukalah makhluk yang memiliki tubuh (berjarak dengan tubuh), melainkan manusia adalah tubuhnya sendiri (Hardiman, 2026).
Manusia mampu menghayati tubuhnya melalui pengalaman fenomenologis atau langsung, misalnya merasakan dingin secara langsung, merasakan sakit secara langsung, sedangkan hal yang sama tidak mampu dilakukan AI.
AI hanya mampu mengabstraksikan pengalaman-pengalaman fenomenologis tersebut menjadi pengetahuan ilmiah atau konsep-konsep ilmiah, misalnya konsep tentang sakit, senang, atau sedih.
Akan tetapi dengan pengetahuan ilmiah tersebut AI cenderung melupakan akar dari pengetahuan ilmiah tersebut, yakni pengalaman fenomenologis manusia yang menubuh dan menghayati fenomena-fenomena tersebut secara langsung.
Pembedaan dan pemisahan manusia yang menubuh dan AI sebagai instrumen surplus pemikiran yang otonom dari tubuh merupakan buah dari konstruksi filosofis yang sudah dimulai sejak Platon, dengan dualisme tubuh dan jiwa (Hardiman, 2026).
Dualisme tersebut kemudian dipertegas oleh René Descartes, dengan ide bawaannya, yakni res exstensa yang berkaitan dengan substansi material atau tubuh yang meruang dan res cogitas yang berkaitan dengan jiwa atau pikiran. Jiwa atau pikiran dilihat sebagai sesuatu yang otonom dan lebih tinggi derajatnya dari tubuh.
Penekanan pada pikiran yang tidak-menubuh tersebut mendapat bentuk konkret, yakni AI sebagai instrumen tidak-bertubuh. Dengan demikian, tubuh yang hanya dilihat sebagai tambahan, mendapat “penolakan” pada AI yang murni komputasi pikiran.
AI dengan kemampuan komputasi pikirannya tentu mampu menyaingi bahkan melebihi kecepatan berpikir manusia, namun AI tidak memiliki tubuh yang memungkinkannya menghayati apa yang dikreasikannya.
AI mampu menciptakan lukisan yang menarik, namun AI tidak mampu merasakan pengalaman manusia menubuh, yang melalui keheningan serta sentuhan langsung dengan kuas, kanvas, dan cat, menghasilkan sebuah lukisan yang menarik.
Fenomenologi tubuh Marleu-Ponty, hendak menegaskan bahwa pikiran bukan yang utama sehingga mengalienasi tubuh. Manusia itu sendiri adalah tubuhnya, bahkan tubuhnyalah yang memampukan dirinya berada-dalam-dunia.
Pengetahuan konseptual manusia juga berlandaskan tubuh yang bersetuhan langsung dengan realitas; mata yang melihat, tangan yang bersentuhan, lidah yang mencecap, dan telinga yang mendengar.
Fakta kemenubuhan tersebut menegaskan bahwa manusia selalui melebihi AI, maka itu ketergantungan berlebihan terhadap AI merupakan tindakan yang tidak-menubuh.
Perbedaan antara manusia dan AI juga ditegaskan melalui prinsip causalitas dalam metafisika, yakni causa prinsipalis (penyebab pertama yang adalah manusia) dan causa instrumentalis (penyebab alat).
Keduanya berperan sebagai sebab, namun causa instrumentalis yang berkesebaban atau menyebabkan harus selalu mengandaikan adanya causa prinsipalis.
Misalnya, AI sebagai causa instrumentalis mampu menghasilkan suatu akibat atau karya, namun AI yang menyebabkan tersebut harus disebabkan oleh manusia yang menyebabkan atau mengoperasikan AI tersebut.
Maka dari itu, tanpa manusia yang menyebabkan, seotomatis apapun AI tersebut, tidak akan mampu menyebabkan atau menghasilkan suatu karya.
Seluruh analisis fenomenologi tubuh Marleu-Ponty, sebagaimana yang diuraikan oleh Hardiman, dalam bukunya Tubuh yang Mengetahui, hendak menegaskan bahwa maraknya penggunaan AI tidak dapat menggantikan fakta eksistensial pikiran manusia yang menubuh.
AI merupakan intrumen pengetahuan hasil abstraksi dari pengalaman serta kesadaran manusia yang menubuh melalui pencerapan langsung.
Maka dari itu bersikap maniak terhadap AI, terkhususnya dalam bidang pendidikan, merupakan momen kelupaan akan fakta eksistensial bahwa manusia yang menubuh merupakan akar dari surplus pemikiran instrumental AI.
AI dapat dimanfaatkan sebagai salah satu reverensi pembelajaran, namun bukan sebagai satu-satunya reverensi yang menggantikan kemampuan tubuh manusia yang mengetahui (Hardiman, 2026).
Fenomenologi tubuh membantu manusia menyadari bahwa fakta kebertubuhanya merupakan fakta eksistensial yang mengidentikkannya sebagai causa prinsipalis, untuk menyebabkan AI berkesebaban atau menyebabkan.
Tanpa manusia yang menyebabkan, AI tidak mampu dari dirinya sendiri memprogramkan berbagai karya yang mampu dihasilkannya.