TRIBUNBENGKULU.COM -Fakta baru terungkap dalam kasus dugaan penyekapan dan penganiayaan terhadap Yuvita Tri Rezeki (YTR).
Keluarga korban mengungkap alasan Yuvita tak pernah berhasil kabur dari tangan pacarnya, Taufik Hidayat, yang diduga menyiksanya selama tiga tahun hingga mengalami luka berat.
keluarga Yuvita saat bertemu Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi menceritakan, kondisi korban selama mengalami penyiksaan hingga membuatnya tidak memiliki kesempatan untuk kabur.
Ayah korban, Irin, mengungkapkan kondisi putrinya saat pertama kali dievakuasi sangat memprihatinkan.
Yuvita kemudian dilarikan ke Rumah Sakit Hasan Sadikin (RSHS) Bandung untuk menjalani perawatan intensif.
Tim medis menemukan berbagai luka serius yang diduga merupakan akibat penyiksaan berkepanjangan. Kepala korban mengalami luka berat hingga membusuk, dipenuhi belatung dan nanah.
Baca juga: Hotman Paris Janji Beri Rp2,5 Miliar, Asal Yuvita Korban Penganiaan dan Penyekapan Ungkap Fakta Ini
Selain itu, telinga dan mata mengalami kerusakan parah, bibir atas hilang, serta wajah dipenuhi luka lebam dan bekas sayatan.
"Sekarang sudah sembuh, sebagian sudah dijahit semua. Ini di telinga masih bolong, tapi sudah kering, tidak keluar nanah lagi. Kuping yang satu ini karena bekas pemukulan, tulang-tulangnya sudah rapat," kata Irin.
Mendengar penjelasan tersebut, Dedi Mulyadi tampak terkejut.
"Karena sering dipukul jadinya telinganya nempel? Ya Allah," ucapnya.
Selain luka di wajah, Yuvita juga mengalami patah tulang hidung dan rahang. Menurut keluarga, korban mengaku kerap dipukul menggunakan berbagai benda selama tiga tahun terakhir.
"Katanya banyak dipukul, pernah pakai helm, kursi, tangan, sampai gantungan besi," ujar Irin.
Dalam kesempatan itu, Dedi Mulyadi juga menanyakan penyebab pelaku tega melakukan penyiksaan terhadap kekasihnya sendiri.
Adik korban, Melani, mengungkapkan penyiksaan mulai terjadi setelah seluruh harta milik Yuvita habis diambil pelaku.
"Awalnya setelah harta Vita habis, penyiksaan mulai dilakukan," katanya.
Menurut Melani, tabungan korban, barang berharga, hingga emas dijual oleh pelaku dengan total kerugian sekitar Rp52 juta.
Identitas korban juga diduga digunakan untuk mengajukan pinjaman online dan fasilitas paylater.
Dedi Mulyadi menduga penyiksaan terjadi setelah pelaku tidak lagi memiliki sesuatu yang dapat diambil dari korban.
"Mungkin waktu itu karena cinta, dijanjikan macam-macam. Setelah hartanya habis dan tidak ada lagi yang bisa diambil, muncul emosi," ujarnya.
Di tengah trauma yang masih membekas, Yuvita tetap memiliki harapan untuk menata kembali kehidupannya.
Adik kandung korban, Syahrul Ulum, mengatakan kakaknya ingin kembali bisa melihat setelah kehilangan penglihatan secara permanen.
"Dia bilang ingin bisa melihat lagi," ujar Syahrul.
Selain berharap pulih, Yuvita juga bercita-cita membuka warung sembako apabila kondisinya membaik.
Sebelum menjadi korban, Yuvita dikenal sebagai sosok pekerja keras dengan kemampuan yang baik, terutama di bidang matematika.
Kariernya di perusahaan tempat bekerja bahkan disebut berkembang hingga berpeluang menjadi leader.
Perjuangan Yuvita mendapat perhatian luas dari masyarakat.
Pengacara Hotman Paris bersama Tim Hotman 911 membuka penggalangan dana untuk membantu biaya pemulihan korban.
Anggota Tim Hotman 911, Raden Reza, mengatakan dana yang terkumpul awalnya mencapai sekitar Rp700 juta.
Namun dalam waktu singkat jumlahnya meningkat menjadi sekitar Rp1,3 miliar.
Dana tersebut akan digunakan untuk membantu rekonstruksi wajah, pemulihan trauma psikologis, serta berbagai kebutuhan medis korban.
Selain bantuan masyarakat, pemerintah juga memastikan akan menanggung biaya pengobatan Yuvita.
Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pemerintah akan membiayai seluruh proses perawatan hingga rekonstruksi wajah korban selesai.
Kasus penyekapan dan dugaan penganiayaan terhadap Yuvita menjadi perhatian publik setelah korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan.
Sementara proses hukum terhadap tersangka terus berjalan, keluarga berharap Yuvita dapat pulih secara fisik maupun mental sehingga dapat kembali menjalani hidup dan mewujudkan cita-citanya.