Menjelang dimulainya pramusim, pelatih Tottenham Hotspur menghadapi sejumlah persoalan penting yang harus segera diselesaikan.
Tottenham optimistis dapat melupakan kesulitan yang mereka alami musim lalu dan kembali bersaing di papan atas Liga Premier musim depan.
Skuad asuhan Roberto De Zerbi menunjukkan ambisi besar di bursa transfer dengan berupaya mendatangkan Sandro Tonali dan Mateus Fernandes untuk memperkuat lini tengah sebelum musim baru dimulai.
Beberapa bulan ke depan diperkirakan akan terjadi banyak perubahan, dengan Cristian Romero dan Guglielmo Vicario dikabarkan akan meninggalkan klub. De Zerbi pun akan dihadapkan pada sejumlah keputusan penting menjelang Agustus.
Dengan Tottenham bersiap memulai era baru di bawah asuhan De Zerbi, Standard Sport menyoroti tiga keputusan penting yang harus dikelola dengan tepat oleh pelatih asal Italia tersebut musim depan.
Micky van de Ven
Kepemimpinan, atau ketiadaannya, menjadi masalah besar bagi Tottenham musim lalu ketika Romero kerap gagal menjalankan tanggung jawabnya sebagai kapten tim.
Pemain bertahan asal Argentina itu dikenal vokal dalam menyampaikan pendapatnya, dan lebih dari sekali musim lalu, unggahan media sosialnya yang mengkritik dewan klub memperburuk suasana yang semakin tidak kondusif.
Terlepas dari apakah komentarnya benar atau tidak, sikap Romero dianggap keliru, dan kurangnya kontrol emosi itu juga tercermin dalam performanya di lapangan, terutama dalam kartu merah yang ia terima saat melawan Liverpool dan Manchester United. Akibatnya, ia kehilangan kepercayaan dari banyak pihak.
Romero berulang kali mengecewakan rekan setimnya musim lalu. Dengan masa depannya yang kini diragukan, De Zerbi mungkin merasa lega karena dapat menunjuk kapten baru untuk musim depan.
Tottenham memang kekurangan sosok pemimpin, yang menjadi alasan mereka berupaya menambah pengalaman di bursa transfer. Karena itu, De Zerbi harus berhati-hati dalam memilih pengganti.
Micky van de Ven menjadi kandidat utama menggantikan Romero, meski saat diberi ban kapten musim lalu, performanya belum cukup meyakinkan.
Namun, De Zerbi berhasil membangun kembali hubungan baik dengan Van de Ven di akhir musim. Jika ia dapat meyakinkan bek asal Belanda itu untuk bertahan, maka ia tampak sebagai pilihan paling tepat untuk memimpin tim.
Luka Vuskovic
Keputusan De Zerbi untuk mengandalkan pemain berpengalaman dalam tujuh laga terakhir musim lalu dapat dipahami karena posisi Tottenham di Liga Premier masih belum aman.
Kini, pelatih asal Italia itu perlu menunjukkan fleksibilitas lebih besar dengan memberi kesempatan kepada para pemain muda yang dimilikinya.
Lucas Bergvall dikabarkan ingin meninggalkan Tottenham demi mendapatkan lebih banyak waktu bermain, sementara Luka Vuskovic juga siap mengajukan permintaan transfer. Hal ini membuat klub tampak siap kehilangan dua talenta muda terbaiknya musim panas ini.
Secara finansial, Tottenham mungkin akan meraih keuntungan dari penjualan keduanya, namun De Zerbi harus berhati-hati agar tidak menutup jalur promosi pemain muda menuju tim utama.
Kehilangan Bergvall dan Vuskovic akan menimbulkan kesan negatif tentang bagaimana Tottenham memperlakukan pemain muda di bawah De Zerbi dan bisa menimbulkan eksodus talenta dari akademi klub.
Will Lankshear dan Alfie Devine termasuk di antara pemain akademi yang menarik minat klub lain musim panas ini.
Keduanya tampil impresif selama masa pinjaman di EFL musim lalu dan seharusnya diberi kesempatan di pramusim untuk membuktikan bahwa mereka layak dipertahankan oleh De Zerbi.
Tentu tidak semua pemain muda akan berhasil menembus tim utama, tetapi klub tetap harus menunjukkan komitmen untuk memberikan peluang nyata.
Kesempatan bermain di tim utama menjadi alasan utama mengapa remaja Bergvall menolak tawaran Barcelona untuk bergabung dengan Tottenham pada 2024. Jika ia kini kehilangan kepercayaan terhadap jalur tersebut, hal itu akan menjadi sinyal buruk bagi masa depan akademi klub.
Dejan Kulusevski
Mungkin masalah terbesar Tottenham musim lalu adalah daftar cedera panjang yang mereka alami.
Thomas Frank, Igor Tudor, dan De Zerbi sama-sama mengeluhkan kondisi tim yang kerap kehilangan pemain terbaiknya. Bahkan pada satu titik musim lalu, Tottenham bisa saja menurunkan satu tim penuh yang semuanya merupakan pemain cedera.
Jika era baru ini ingin benar-benar lepas dari kesalahan masa lalu, maka pembenahan dalam penanganan cedera dan proses rehabilitasi harus menjadi prioritas utama.
Perubahan fasilitas di pusat latihan Hotspur Way musim panas ini menjadi langkah awal yang menjanjikan. Menurut laporan Standard Sport, fasilitas gym di lokasi tersebut diakui masih jauh tertinggal dibandingkan dengan klub-klub papan atas Liga Premier lainnya.
Namun, ujian sebenarnya adalah seberapa cepat klub dapat memulihkan kondisi Dejan Kulusevski dan Mohammed Kudus agar kembali bugar sepenuhnya.
Kulusevski belum bermain sejak April 2025 setelah mengalami cedera lutut yang cukup rumit.
Belum ada tanggal pasti untuk kepulangannya, namun akan menjadi kekhawatiran besar jika pemain asal Swedia itu tidak tersedia pada paruh pertama musim depan.
Sementara itu, Kudus belum sempat bermain di bawah asuhan De Zerbi karena mengalami kemunduran dalam proses pemulihan cedera paha seriusnya.
De Zerbi sebelumnya mengakui bahwa klub telah memaksakan Kudus untuk segera bugar, yang akhirnya memupuskan mimpinya tampil di Piala Dunia dan membuatnya mempertimbangkan untuk menjalani operasi.
Kudus berpotensi menjadi pemain kunci bagi De Zerbi, sehingga Tottenham harus memastikan ia kembali dengan kondisi fisik yang sempurna.