TRIBUNNEWS.COM - Aktivitas pelayaran di Selat Hormuz, jalur distribusi minyak paling strategis di dunia, kembali melambat setelah kembali terjadi serangan terhadap dua kapal komersial pada akhir pekan ini.
Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru terhadap keamanan jalur pelayaran internasional yang menjadi urat nadi pasokan energi global.
Berdasarkan data pelacakan maritim, aktivitas pelayaran tetap berlangsung setelah dua insiden menyerang kapal komersial dalam kurun waktu berdekatan.
Kapal kontainer berbendera Singapura Ever Lovely mengalami kerusakan ringan pada 25 Juni 2026 ketika melintasi Selat Hormuz. Otoritas Maritim dan Pelabuhan Singapura menjelaskan kerusakan terjadi pada bagian anjungan kapal akibat proyektil yang hingga kini belum diketahui jenisnya.
Beruntung, kapal tersebut tetap mampu melanjutkan pelayaran hingga tujuan akhir, sementara seluruh 21 awak kapal dipastikan selamat tanpa korban jiwa.
Dua hari berselang, tepatnya pada 27 Juni 2026, kapal tanker berbendera Panama M/T Kiku menjadi sasaran serangan lain.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menyatakan kapal tanker yang membawa lebih dari dua juta barel minyak mentah itu diserang menggunakan drone satu arah yang disebut berasal dari Iran.
Sebagai respons, militer Amerika Serikat mengaku melancarkan serangan balasan terhadap sejumlah target di wilayah Iran.
Namun tak lama setelah itu Garda Revolusi Iran (IRGC) membalas serangan dengan menargetkan sejumlah target militer Amerika Serikat di kawasan Teluk. Serangan tersebut dilaporkan menyasar fasilitas militer AS yang berada di Kuwait dan Bahrain.
Meskipun situasi keamanan kembali memburuk, Selat Hormuz tidak sepenuhnya ditinggalkan kapal-kapal komersial.
Sejumlah kapal tanker minyak mentah berukuran sangat besar atau Very Large Crude Carrier (VLCC) masih terlihat memasuki Teluk Persia dalam kondisi kosong untuk mengambil muatan minyak.
Baca juga: Iran Tolak Pembersihan Ranjau di Selat Hormuz, Peringatkan Prancis agar Tak Lakukan Provokasi
Sementara itu, kapal tanker yang telah terisi penuh juga tetap keluar dari kawasan Teluk menuju pasar internasional.
Kapal kontainer berbendera Prancis CMA CGM Galapagos juga berhasil meninggalkan Selat Hormuz sebelum akhirnya berlabuh di lepas pantai Muscat, Oman. Kapal tersebut sebelumnya termasuk dalam daftar kapal yang sempat tertahan di Teluk Persia sejak konflik kembali pecah pada akhir Februari.
Platform pelacakan maritim Windward yang dikutip dari Anadolu mencatat pada 27 Juni terdapat 40 kapal yang melintasi Selat Hormuz. Rinciannya, sebanyak 24 kapal memasuki Teluk Persia, sedangkan 16 kapal keluar menuju perairan internasional.
Arus kapal yang masuk didominasi kapal tanker minyak dengan 13 kapal berasal dari kelompok tersebut. Sebagian besar diantaranya merupakan kapal berbendera Iran, termasuk Touskla, Dan, Hawk, dan Jairan.
Sementara itu, jalur keluar didominasi kapal tanker bermuatan penuh yang mengangkut sekitar 4,1 juta barel minyak mentah.
Pergerakan kapal tanker kosong menuju Teluk Persia dinilai sangat penting bagi negara-negara produsen minyak di kawasan.
Kapal-kapal tersebut dibutuhkan untuk memuat minyak mentah dari terminal ekspor sebelum dikirim ke berbagai negara tujuan. Namun, meningkatnya kekhawatiran terhadap keamanan membuat sebagian pemilik kapal masih ragu kembali beroperasi secara normal.
Kondisi tersebut dikhawatirkan memperlambat pemulihan ekspor minyak meskipun jalur pelayaran mulai kembali dibuka dan proses diplomasi masih berlangsung.
Situasi keamanan di Selat Hormuz bahkan menjadi perhatian Joint Maritime Information Center (JMIC) hingga lembaga internasional ini meningkatkan status ancaman keamanan maritim di kawasan tersebut menjadi "Substantial" atau tinggi.
Peringatan tersebut mencakup potensi ancaman ranjau laut, aktivitas militer, hingga operasi pembersihan ranjau yang masih berlangsung di sekitar jalur pelayaran.
Akibatnya, sebagian perusahaan pelayaran memilih menunda keberangkatan, sementara operator lain mengalihkan rute melalui jalur utara yang ditetapkan Iran atau jalur selatan yang berada lebih dekat ke wilayah Oman.
Persoalan keamanan dan pengelolaan jalur pelayaran di Selat Hormuz kembali menjadi salah satu isu utama yang memperkeruh hubungan antara Amerika Serikat dan Iran.
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia karena menghubungkan kawasan Teluk Persia dengan Samudra Hindia serta menjadi pintu utama distribusi energi menuju pasar internasional.
Setiap hari, jutaan barel minyak mentah, gas alam cair atau Liquefied Natural Gas (LNG), serta berbagai produk olahan minyak dikirim melalui perairan sempit tersebut.
Karena memiliki peran strategis bagi pasokan energi dunia, setiap gangguan keamanan di Selat Hormuz dapat berdampak langsung terhadap harga minyak global, biaya transportasi laut, hingga stabilitas perdagangan internasional.
Dalam beberapa bulan terakhir, konflik antara Amerika Serikat dan Iran membuat aktivitas pelayaran di kawasan tersebut sempat mengalami penurunan tajam.
Meningkatnya ancaman keamanan dan risiko konflik menyebabkan sejumlah kapal tertahan, baik di dalam maupun di luar kawasan Teluk Persia.
Meski sebagian jalur pelayaran kini mulai kembali beroperasi, serangan terbaru terhadap kapal komersial menunjukkan bahwa proses pemulihan aktivitas maritim di Selat Hormuz masih menghadapi banyak tantangan.
Di tengah meningkatnya ketegangan, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan bahwa tanggung jawab atas pengelolaan dan keamanan Selat Hormuz berada sepenuhnya di tangan Iran.
Pernyataan tersebut menunjukkan sikap Teheran yang ingin mempertahankan kendali terhadap jalur pelayaran strategis tersebut.
Sementara itu, laporan Axios menyebut Amerika Serikat dan Iran telah mencapai kesepakatan untuk menghentikan serangan sementara.
Kedua pihak juga disebut akan menggelar pertemuan di Doha, Qatar, dalam waktu dekat untuk membahas penyelesaian sengketa terkait keamanan Selat Hormuz.
Pertemuan tersebut dipandang menjadi langkah penting untuk meredakan ketegangan yang telah berlangsung selama beberapa waktu.
Hasil dialog antara Washington dan Teheran nantinya diperkirakan akan menentukan arah stabilitas keamanan di Selat Hormuz, sekaligus mempengaruhi kelancaran distribusi energi dunia.
Pasalnya, setiap perubahan situasi di jalur tersebut tidak hanya berdampak bagi Amerika Serikat dan Iran, tetapi juga dapat mempengaruhi ekonomi global yang masih bergantung pada pasokan minyak dan gas dari kawasan Timur Tengah.
(Tribunnews.com / Namira)