BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Angin laut sore itu bertiup lebih kencang dari biasanya. Dari jendela rumah sederhananya di Desa Pongok, seorang perempuan bernama Nyaik (48) memandang langit yang mulai menggelap.
Ombak di kejauhan tampak meninggi. Sebagai warga pulau, Nyaik tahu betul arti cuaca seperti itu.
Jika angin kencang dan gelombang tinggi, kapal motor menuju daratan hampir pasti tak berani berlayar.
Dulu, kondisi seperti itu selalu menghadirkan kecemasan.
Terutama ketika telepon dari Pangkalpinang berbunyi. Biasanya, itu berarti salah satu anaknya sedang membutuhkan uang.
"Mak, perlu uang cepat."
Kalimat sederhana itu pernah menjadi sumber kegelisahan terbesar dalam hidupnya sebagai seorang ibu.
Desa Pongok merupakan sebuah pulau kecil di ujung selatan Bangka yang dikelilingi lautan lepas.
Untuk mencapai pulau ini, saya harus menempuh perjalanan darat sekitar tiga jam dari Pangkalpinang menuju Toboali, dilanjutkan sekitar satu setengah jam menuju Pelabuhan Sadai, sebelum akhirnya menaiki kapal motor selama hampir empat jam.
Ketika kapal yang saya tumpangi merapat di Bum Besar, dermaga utama Pongok, langit mulai berwarna jingga. Bau asin laut bercampur aroma ikan segar langsung menyeruak di udara.
Di sudut pelabuhan, beberapa lelaki tampak sigap menurunkan fiber kuning besar berisi hasil tangkapan laut. Ember, tali tambang dan kotak pendingin berserakan di atas dermaga.
Suara mesin speedboat beradu dengan teriakan nelayan. Aroma solar bercampur dengan sisa angin laut yang basah.
Di pulau ini, kapal motor bukan sekadar alat transportasi. Ia adalah penghubung kehidupan.
Semua datang dari sana. Semua pergi lewat sana, termasuk harapan.
Tak ada ATM Bank Sumsel Babel, tak ada kantor bank, tak ada jalan alternatif. Jika kapal tak berangkat, seluruh urusan ikut tertunda.
Bagi keluarga di kota, mengirim uang mungkin hanya membutuhkan hitungan menit.
Namun bagi Nyaik, dulu itu bisa berarti perjalanan panjang, ongkos besar dan kecemasan yang menguras pikiran.
Dari Pongok menuju daratan, warga harus menempuh perjalanan laut sekitar empat jam menggunakan kapal motor.
Perjalanan masih harus dilanjutkan ke Toboali, bahkan hingga Pangkalpinang, untuk mengakses layanan perbankan secara langsung.
Kalaupun tidak pergi sendiri, Nyaik biasanya menitipkan uang kepada tetangga atau kerabat yang kebetulan hendak ke Pangkalpinang.
Namun itu pun penuh ketidakpastian. Kadang ia harus menunggu satu atau dua hari. Kadang menunggu ombak reda, kadang hanya bisa menunggu.
"Kalau dulu serba susah," kata Nyaik pelan.
Perempuan yang sehari-hari membuat kue untuk dititipkan ke sekolah dasar di desanya itu hidup sederhana bersama suami.
Penghasilan keluarga mereka bertumpu pada pekerjaan serabutan dan hasil laut, seperti kebanyakan warga Pongok.
Namun perjuangan terbesar Nyaik bukanlah melawan ombak, melainkan memastikan dua anak lelakinya tetap bisa mengenyam pendidikan.
Keduanya lahir dan besar di Pongok. Setelah lulus sekolah menengah atas, mereka harus meninggalkan pulau untuk melanjutkan pendidikan di Pangkalpinang.
Anak sulungnya kini telah berkeluarga, sementara anak kedua masih menempuh pendidikan di STMIK Atma Luhur.
Bagi Nyaik, pendidikan adalah jalan agar anak-anaknya memiliki masa depan yang lebih baik.
"Yang penting anak jangan putus sekolah," ujarnya lirih.
Kalimat itu sederhana. Namun di pulau kecil seperti Pongok, kalimat tersebut lahir dari perjuangan yang panjang.
Perubahan besar dalam hidup Nyaik mulai terasa pada 2024.
Suaminya diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK), dan sejak saat itu gajinya masuk melalui rekening Bank Sumsel Babel.
Dari sanalah Nyaik mulai mengenal sebuah hal yang dulu terasa asing baginya, BSB Mobile.
"Takut salah pencet. Takut uang hilang," kenangnya sambil tersenyum kecil.
Maklum, selama bertahun-tahun urusan keuangan baginya selalu identik dengan perjalanan panjang dan ketidakpastian.
Namun perlahan, anaknya mengajarkan cara menggunakan aplikasi itu. Mulai dari membuka aplikasi, mengecek saldo, melihat gaji masuk hingga mentransfer uang.
Awalnya Nyaik hanya berani melihat saldo, setelah merasa aman, ia mulai mencoba transfer dalam jumlah kecil.
Pelan-pelan, rasa takut itu hilang.
Kini hampir seluruh kebutuhan transaksi keluarga dilakukan melalui telepon genggam di tangannya.
Ketika anaknya membutuhkan uang kuliah secara mendadak, Nyaik tak lagi kebingungan.
Ia tak perlu menunggu kapal esok hari, tak lagi bergantung pada orang lain, tak lagi dihantui cuaca buruk.
Cukup membuka aplikasi BSB Mobile. Beberapa sentuhan jari. Uang pun sampai.
"Sekarang lebih nyaman. Kalau anak perlu uang cepat, tinggal transfer dari HP," ujarnya.
Kisah Nyaik menjadi potret bagaimana layanan keuangan digital mampu menjangkau masyarakat hingga wilayah kepulauan.
Pimpinan Cabang Bank Sumsel Babel Pangkalpinang, Irwan Kurniawan, mengatakan BSB Mobile memang dihadirkan untuk menjembatani keterbatasan akses layanan perbankan, khususnya di daerah 3T.
"Harapannya BSB Mobile dapat berperan dalam memberikan layanan keuangan di daerah 3T, karena layanan ini didesain untuk menghadirkan layanan keuangan cashless yang modern tanpa dibatasi waktu dan tempat," ujarnya kepada Bangkapos.com, Selasa (30/6/2026).
Meski demikian, Bank Sumsel Babel mengakui transformasi digital masih menghadapi tantangan, mulai dari keterbatasan infrastruktur jaringan telekomunikasi, budaya transaksi tunai hingga literasi digital masyarakat yang belum merata.
Untuk menjawab tantangan tersebut, Bank Sumsel Babel terus memperkuat konektivitas layanan BSB Mobile, menambah fitur sesuai kebutuhan nasabah, serta memperluas edukasi literasi keuangan digital.
"Layanan aplikasi BSB Mobile akan terus diperkuat konektivitasnya, meminimalisir gangguan operasional, mempercepat respons aktivitasnya, serta menambah fitur-fitur layanan perbankan yang dibutuhkan nasabah," ungkapnya.
Menurut Irwan, transformasi digital di sektor perbankan bukan semata soal menghadirkan teknologi, melainkan juga membangun ekosistem yang siap menerima perubahan.
Pongok mungkin hanya sebuah titik kecil di peta Bangka.
Namun cerita Nyaik menunjukkan bahwa jarak geografis sering kali menjadi bentuk ketimpangan yang tak selalu terlihat.
Di kota, ATM mudah ditemukan. Kantor bank dekat, internet cepat.
Namun di pulau kecil seperti Pongok, akses terhadap layanan keuangan bisa berarti biaya tambahan, waktu panjang, bahkan keberanian melawan cuaca.
Di sinilah teknologi mengubah cara hidup.
Bagi Nyaik, perubahan itu bukan sekadar soal aplikasi, bukan sekadar soal transfer digital.
Melainkan rasa tenang, ombak di Pongok mungkin tak pernah benar-benar reda.
Kapal motor mungkin tetap tertunda ketika cuaca memburuk.
Namun kini, setidaknya ada satu hal yang tak lagi harus menunggu laut tenang.
Seorang ibu yang berjuang agar mimpi anak-anaknya tidak karam di tengah ombak.
(Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)