TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) terus berkomitmen menghapus stigma kekerasan yang dahulu sempat melekat pada sekolah kedinasan ini.
Bagi lembaga, kekerasan bukan lagi sekadar pelanggaran disiplin biasa, melainkan ancaman serius terhadap keberlangsungan IPDN.
Rektor IPDN, Dr. H. Halilul Khairi menegaskan bahwa pihaknya menaruh perhatian penuh terhadap isu ini.
Tindakan tegas tanpa kompromi disiapkan bagi siapa saja yang terbukti melakukan kekerasan fisik di lingkungan kampus.
"Kekerasan itu adalah ancaman eksistensial bagi kita. Jika kekerasan dibiarkan terus terjadi, eksistensi lembaga ini di masa depan terancam, bahkan bisa ditutup. Oleh karena itu, menghentikan kekerasan adalah prioritas nomor satu di IPDN," tegas Halilul.
Untuk memutus rantai kekerasan yang biasanya diturunkan dari senior kepada junior, IPDN menerapkan strategi pemisahan fisik antar-angkatan melalui pemanfaatan kampus daerah.
Halilul menjelaskan bahwa kekerasan fisik paling rentan terjadi pada tingkat satu (praja baru).
Untuk menghindari gesekan dengan tingkat dua yang berpotensi melakukan tindakan balas dendam, praja tingkat dua dikirim untuk menempuh pendidikan di berbagai kampus daerah yang tersebar di Indonesia.
Baca juga: Bekali Praja IPDN Papua, Wamendagri Bima: Pemimpin Harus Punya Ideologi, Strategi, dan Taktik
Selain pemisahan fisik, IPDN juga menerapkan kebijakan nihil toleransi (zero tolerance).
Praja yang terbukti melakukan kekerasan fisik akan langsung diberikan sanksi pemecatan, tanpa ada opsi hukuman ringan lainnya.
IPDN juga rutin melakukan pemeriksaan fisik secara acak dan berkala setiap kali praja selesai melaksanakan izin bermalam atau berkegiatan di luar kampus.
Langkah ini terbukti efektif mendeteksi adanya tanda-tanda kekerasan fisik sejak dini.
"Begitu naik ke tingkat dua, mereka kami sebar ke daerah agar tidak bertemu langsung dengan tingkat satu. Ketika mereka kembali ke Jatinangor di tingkat tiga, kedewasaan mereka sudah lebih matang dan keinginan untuk melakukan kekerasan sudah jauh berkurang," jelasnya.