TRIBUNJOGJA.COM- Filosofi Teras karya Henry Manapiring menjadi salah satu buku yang berhasil menarik perhatian pembaca Indonesia.
Sejak pertama kali terbit pada tahun 2018, buku ini terus bertahan sebagai salah satu buku terlaris dan banyak direkomendasikan di media sosial.
Popularitasnya semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir.
Di berbagai platform digital seperti Tiktok, Instagram, bahkan Goodreads, Filosofi Teras muncul dalam daftar rekomendasi bacaan untuk mengatasi overthinking, kecemasan, maupun tekanan hidup sehari-hari.
Tidak sedikit pembaca yang mengaku buku ini membantu mereka melihat permasalahan dari sudut pandang yang berbeda.
Namun, Filosofi Teras bukanlah buku motivasi yang menjanjikan perubahan hidup secara instan.
Buku ini memperkenalkan pembaca pada stoikisme atau stoicism, yaitu sebuah aliran filsafat yang telah berkembang lebih dari 2.000 tahun lalu di Yunani Kuno dan kemudian berkembang di Romawi.
Stoikisme pertama kali diperkenalkan oleh filsuf Yunani, Zeno dari Citium, sekitar abad ke-3 sebelum Masehi.
Dalam perkembangannya, ajaran tersebut diteruskan oleh sejumlah tokoh besar seperti Epictetus, Seneca, dan Kaisar Romawi Marcus Aurelius.
Meski sudah ribuan tahun, banyak gagasan stoikisme masih dianggap relevan karena membahas persoalan yang tetap dihadapi manusia hingga sekarang. Seperti menghadapi kehilangan, kegagalan, kritik, ketidakpastian, maupun emosi yang sulit dikendalikan.
Melalui Filosofi Teras, Henry Manampiring mencoba memperkenalkan konsep-konsep tersebut dengan bahasa yang sederhana dan dekat dengan kehidupan masyarakat Indonesia.
Dibandingkan menggunakan istilah yang rumit, ia mengaitkan ajaran stoikisme dengan berbagai situasi sehari-hari.
Misalnya ketika gagal memperoleh pekerjaan yang diinginkan, menerima kritik di media sosial, atau menghadapi kemacetan yang tidak dapat dihindari.
Dalam situasi tersebut, seseorang tidak selalu dapat mengendalikan hasil maupun tindakan orang lain. Namun, ia tetap dapat memilih bagaimana menyikapi keadaan, mengelola emosi, serta menentukan langkah berikutnya.
Hal tersebutlah yang menjadi salah satu alasan mengapa Filosofi Teras mudah diterima oleh pembaca yang sebelumnya tidak memiliki latar belakang filsafat.
Buku ini tidak mengajak pembaca untuk menghafal teori, melainkan memahami cara berpikir yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Salah satu gagasan utama dalam stoikisme yang banyak dibahas dalam buku ini adalah dichotomy of control atau dikotomi kendali.
Konsep yang berasal dari ajaran Epictetus ini membagi segala sesuatu di dalam kehidupan menjadi dua kelompok, yaitu hal-hal yang berada dalam kendali diri manusia dan hal-hal yang berada di luar kendali.
Menurut stoikisme, pikiran, penilaian, pilihan, dan tindakan merupakan hal-hal yang masih dapat dikendalikan oleh seseorang.
Sebaliknya, pendapat orang lain, cuaca, kondisi ekonomi, masa lalu, mupun berbagai kejadian yang tidak dapat diprediksi berada di luar kendali manusia.
Gagasan tersebut menjadi inti dari cara berpikir stoik.
Seseorang dianjurkan memusatkan energinya pada hal-hal yang masih dapat diupayakan. Bukan menghabiskan waktu untuk mengkawatirkan sesuatu yang tidak dapat diubah.
Dengan cara tersebut, seseorang diharapkan mampu mengurangi kecemasan yang muncul akibat terlalu memikirkan hal-hal di luar kendalinya.
Konsep ini terasa semakin relevan di era media sosial seperti sekarang.
Saat ini, banyak orang yang memikirkan penilaian orang lain, jumlah pengikut, komentar di internet, maupun pencapaian orang lain yang muncul setiap hari di layar ponsel.
Kondisi tersebut sering kali memicu rasa cemas, kecenderungan membandingkan diri secara berlebihan, hingga overthinking akibat terus-menerus memikirkan sesuatu yang belum terjadi.
Melalui sudut pandang stoikisme, perhatian terhadap berbagai hal tetsebut justru perlu dibatasi.
Bukan berarti seseorang menjadi acuh terhadap lingkungan sekitar, melainkan belajar menerima bahwa tidak semua hal dapat dikendalikan.
Yang dapat dilakukan adalah memperbaiki sikap, keputusan, dan tindakan diri sendiri.
Selain membahas tentang kendali, stoikisme juga mengajarkan bahwa emosi bukanlah musuh yang harus dihilangkan. Yang perlu dikelola adalah cara seseorang memberikan penilaian terhadap suatu peristiwa.
Dalam pandangan para filsuf stoik, sebuah kejadian pada dasarnya bersifat netral.
Namun, reaksi emosional sering kali muncul dari cara manusia menafsirkan peristiwa tersebut, bukan semata-mata dari peristiwanya.
Pandangan inilah yang kemudian menjadi salah satu daya tarik Filosofi Teras. Buku ini tidak mengajarkan cara untuk menghindari masalah, melainkan mengajak pembaca membangun pola pikir yang lebih tenang ketika menghadapi berbagai persoalan hidup.
Pesan tersebut menjadi relevan di tengah kehidupan modern yang serba cepat dan penuh tekanam, ketika banyak orang merasa mudah lelah secara mental akibat tuntutan pekerjaan, pendidikan, maupun kehidupan sosial.
Stoikisme juga dikenal melalui empat kebajikan utama yang menjadi landasan hidup para filsuf stoik. Yakni kebijaksanaan (wisdom), keberanian (courage), keadilan (justice), dan pengendalian diri (temperance).
Keempat nilai tersebut dipandang sebagai pedoman dalam mengambil keputusan dan membangun karakter yang baik.
Kebijaksanaan mengajarkan seseorang untuk membedakan mana yang benar dan salah berdasarkan pertimbangan yang logis, bukan sekedar dorongan emosi sesaat.
Keberanian bukan hanya dimaknai sebagai keberanian dalam menghadapi bahaya, tetapi juga keberanian dalam menerima kenyataan, mengakui kesalahan, serta tetap berbuat benar meski menghadapi tekanan.
Sementara itu, keadilan menekankan pentingnya untuk memperlakukan orang lain secara adil dan menghargai bahwa setiap manusia merupakan bagian yang saling terhubung.
Adapun pengendalian diri mengajarkan kemampuan mengelola keinginan, emosi, dan tindakan agar tidak dikuasai oleh nafsu ataupun impulsif sesaat.
Filsafat ini tidak mengajarkan seseorang untuk mengabaikan emosi atau menjadi pribadi yang dingin. Justru sebaliknya, stoikisme mendorong seseorang untuk memahami bahwa emosi merupakan bagian alami dari kehidupan.
Yang menjadi pembeda adalah bagaimana seseorang merespons emosi tersebut dengan cara yang lebih bijak dan tidak terburu-buru mengambil keputusan.
Banyak kreator konten membagikan kutipan dari Marcus Aurelius, Seneca, maupun Epictetus sebagai pengingat untuk lebih fokus pada hal-hal yang dapat dikendalikan.
Tetapi, penting dipahami bahwa stoikisme bukan solusi yang instan atas setiap persoalan hidup.
Stoikisme bukan mengajarkan seseorang untuk memendam perasaan atau pasrah menerima semua keadaan.
Sebaliknya, filsafat ini mendorong seseorang untuk bertindak atas hal-hal yang masih bisa dikendalikan, sekaligus belajar menerima dengan lapang dada ketika hasil akhirnya berada di luar kendalinya.
Bagi pembaca yang baru mengenal filsafat, Filosofi Teras dapat menjadi pintu masuk untuk memahami konsep dasar stoikisme tanpa harus membaca karya-karya klasik dengan gaya bahasa yang lebih berat.
Pada akhirnya, dengan maraknya pembahasan tentang stoikisme, menunjukkan bahwa meski zaman terus berubah, keresahan manusia pada dasarnya tetap sama.
Kekhawatiran terhadap masa depan, rasa takut gagal, hingga keinginan untuk diterima orang lain telah menjadi bagian dari kehidupan sejak ribuan tahun lalu.
Stoikisme mengajarkan bahwa ketenangan sering kali lahir ketika seseorang mampu membedakan apa yang dapat ia kendalikan dan apa yang tidak dapat ia kendalikan.
Mungkin inilah alasan mengapa stoikisme kembali menarik perhatian, terutama di kalangan generasi muda.
Di tengah dunia yang bergerak semakin cepat dan penuh dengan distraksi, filsafat kuno ini mengingatkan manusia bahwa kebahagiaan tidak selalu bergantung pada keadaan di luar diri, melainkan pada bagaimana cara seseorang memilih untuk menyikapinya.
(MG-Mayumi Cinta Mahesi)