TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) Kota Yogyakarta menegaskan tidak ada Sekolah Dasar (SD) negeri di wilayahnya mengalami kekurangan murid pada Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) tahun ini.
Berdasar pemetaan dan data mutakhir, tingkat keterisian bangku di seluruh SD negeri se-Kota Yogyakarta telah menyentuh angka 79 persen dari total daya tampung yang tersedia.
Dari total kapasitas yang disediakan tersebut, sebanyak 2.845 kursi di SD negeri telah resmi terisi, dengan komposisi didominasi warga dalam kota sebanyak 2.100 siswa atau setara 74 persen, sedangkan 745 siswa sisanya (26 persen) merupakan warga dari luar kota.
Kepala Disdikpora Kota Yogyakarta, Budi Santosa Asrori mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan analisis mengenai demografi anak usia sekolah di wilayahnya.
Data menunjukkan, angka keterisian tersebut terbilang sudah sangat optimal jika dikomparasikan dengan tren pertumbuhan penduduk di Kota Pelajar yang cenderung melandai.
"Kami sebetulnya sudah memetakan berapa jumlah kelahiran warga kota tahun 2018 dan 2019. Jumlah penduduk usia 7 tahun di Kota Yogyakarta itu berkisar di angka 4.300-an anak. Jadi sebetulnya, hampir 60 persen warga kota itu sekolahnya di sekolah negeri," ujarnya, saat dikonfirmasi, Selasa (30/6/2026).
Baca juga: Program MBG Libur, Harga Daging Ayam di Pasar Beringharjo Berangsur Turun
Budi menambahkan, situasi SPMB saat ini tidak bisa disamakan dengan dekade-dekade sebelumnya ketika jumlah anak usia sekolah cukup banyak.
Salah satu faktor determinan utama yang mengondisikan jumlah siswa di sekolah dewasa ini adalah angka fertilitas atau total fertility rate Kota Yogyakarta yang kini menjadi salah satu yang paling rendah secara nasional.
"Tingkat kelahiran di kota itu termasuk paling rendah nasional. Angka fertilitas kita hanya 1,66. Artinya, rata-rata setiap perempuan di Kota Yogya hanya memiliki satu sampai dua anak saja. Bahkan ada yang cuma satu. Faktor demografi ini berpengaruh signifikan," jelasnya.
Lebih lanjut, jika membandingkan serapan antara sekolah negeri dan swasta, data Disdikpora mencatat jumlah siswa kelas 1 yang memilih SD swasta di Kota Yogyakarta kini berada di angka 1.575 anak.
Ketika diakumulasikan, total penduduk Kota Yogyakarta yang sudah tertampung di bangku sekolah dasar negeri dan swasta mencapai 3.675 siswa.
Mengenai selisih sekitar 700 anak dari estimasi total penduduk usia 7 tahun di wilayahnya, ia mensinyalir, mereka menempuh pendidikan di luar wilayah administratif kota akibat migrasi domisili keluarga.
"Banyak sekali kasus di mana anak-anak tersebut secara administrasi kependudukan tercatat sebagai warga kota, tapi domisili fisik orang tuanya sudah bergeser ke luar kota, sehingga mereka otomatis bersekolah di dekat rumahnya sekarang," imbuhnya.
Kendati proses administrasi PPDB masih terus bergulir hingga tuntas sepenuhnya, Disdikpora memastikan, bahwa capaian angka keterisian daya tampung yang mendekati 80 persen ini menunjukkan kondisi yang sehat.
Bahkan, Kadisdikpora pun menggaransi, tidak ada sekolah dasar negeri di Kota Yogyakarta yang benar-benar ditinggalkan tanpa menerima murid baru.
"Intinya tidak ada SD negeri yang tidak terisi di kota. Angka 79 persen itu sudah sangat bagus dan optimal, mengingat keterbatasan pertumbuhan anak yang memang landai di Kota Yogya. Jadi, tidak bisa disebut kekurangan murid, dalam arti kosong peminat, karena semuanya berjalan sesuai proyeksi pemetaan," pungkasnya. (aka)