Unik, Graduasi PKH di Klaten Dikemas Bak Wisuda, Peserta Resmi Lepas Status KPM
Ryantono Puji Santoso June 30, 2026 09:15 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Zharfan Muhana

TRIBUNSOLO.COM, KLATEN - Beberapa peserta graduasi Program Keluarga Harapan (PKH) membagikan kisahnya terkait kehidupan ekonomi yang membaik setelah melepas status sebagai keluarga penerima manfaat (KPM) di Kabupaten Klaten, Selasa (30/6/2026).

Salah satu peserta graduasi ialah Sutinah (49), warga Desa Bener, Kecamatan Wonosari.

Kepada TribunSolo.com, ia mengaku telah menjadi peserta sejak tahun 2022.

"(Jadi peserta) sejak 2022. Dulu saya jualan soto sama brambang asem," ujarnya.

Saat itu, kondisi ekonomi keluarganya belum stabil dan cenderung rendah.

"Awal-awal pendapatan jual soto itu, satu hari ya kadang dapat Rp70 ribu, kadang dapat Rp80 ribu gitu," jelasnya.

Wisuda graduasi dari program keluarga harapan (PKH), di Grha Bung Karno, Kabupaten Klaten, Selasa (30/6/2026).
Wisuda graduasi dari program keluarga harapan (PKH), di Grha Bung Karno, Kabupaten Klaten, Selasa (30/6/2026). (TribunSolo.com/Zharfan Muhana)

Saat menjadi penerima bantuan, sebagian uang yang diterima ditabung untuk keperluan anak sekolah maupun kebutuhan lain yang mendesak.

"Kalau dapat bantuan saya tabung, nanti kalau ada keperluan anak sekolah yang mendesak. Kalau enggak ada yang mendesak, masih saya tabung terus," ucap ibu lima anak itu.

Hingga tabungannya terkumpul, uang tersebut kemudian digunakan untuk membeli peralatan produksi gitar.

"Sampai mendapat uang itu sekitar Rp2.700.000, terus saya belikan alat buat buruh gitar. Itu terus sampai sekarang alhamdulillah, usahanya gitar itu dari bos dipercaya," paparnya.

Dari hasil usaha tersebut, pendapatan keluarga kini mengalami peningkatan. Karena itu, Sutinah memutuskan mengundurkan diri sebagai penerima manfaat.

"Saya merasa sudah mampu, jadi saya bilang sama pembimbing saya mengundurkan diri dari PKH," kata Sutinah.

Dalam setahun terakhir, Sutinah telah mundur sebagai penerima bantuan dan mengaku rezekinya semakin lancar.

"Alhamdulillah malah rezeki tambah lancar, anak saya kemarin yang lulus sekolah itu sudah dapat saya biayai sendiri," ucapnya.

Buka Toko Kelontong

Hal senada juga diungkapkan peserta lain, Sri Murtini (45), warga Desa Birit, Kecamatan Wedi.

Sebelumnya, ia terdaftar menjadi KPM, sejak tahun 2017.

Sri awalnya hanya bekerja sebagai penjual tahu penyet. Kini ia membuka usaha toko kelontong kecil dan beternak ikan lele.

Usaha tersebut ia jalankan setelah mengumpulkan bantuan yang diterimanya.

Baca juga: 2.087 Keluarga di Klaten Graduasi dari PKH, Resmi Lepas Status Penerima Bantuan

"Ya alhamdulillah, sekarang bisa cukup. Terus anak saya kan sudah lulus, sudah kerja. Sekarang tinggal satu yang kelas 4 SD, ya kan sudah ringan," ujar ibu tiga anak itu.

Suaminya juga bekerja sebagai buruh bangunan.

Sri mengaku ikhlas melepas status KPM agar bantuan dapat disalurkan kepada keluarga yang lebih membutuhkan.

"Ikhlas banget. Mungkin yang lebih membutuhkan lebih banyak lagi. Di bawah saya masih banyak lagi. Semoga bermanfaat bagi yang menerima bantuan," paparnya.

Ia juga berharap bantuan yang diberikan tidak salah sasaran dan benar-benar tepat sasaran. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.