Di Balik Menjamurnya Coffee Shop di Sukoharjo: Digitalisasi Ubah Wajah Kota Jamu, Pacu Ekonomi Lokal
Vincentius Jyestha Candraditya June 30, 2026 09:15 PM

 

Laporan Wartawan TribunSolo.com, Hanang Yuwono

TRIBUNSOLO.COM, SUKOHARJO - Selama puluhan tahun, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, dikenal dengan satu julukan yang melekat kuat: Kota Jamu.

Julukan itu lahir dari panjangnya sejarah industri jamu yang tumbuh di daerah ini, ditopang para peracik tradisional, usaha keluarga, hingga perusahaan jamu berskala nasional yang menjadikan Sukoharjo sebagai salah satu pusat industri herbal di Indonesia.

Bertahun-tahun, banyak warga dari Sukoharjo yang merantau, di mana para perempuan memilih berjualan jamu gendong di tanah rantau. Laki-laki menjadi petani, menggarap sawah di lahan sendiri maupun orang lain.

Baca juga: Bisa Survive dari Krisis Hebat, Produk Dua UMKM Solo Raya Ini Kini Mejeng di Mall dan Ekspor

Fenomena selama berpuluh tahun ini lantas diabadikan lewat Patung Pak Tani dan Jamu Gendong yang berdiri megah di Jalan Wonogiri - Sukoharjo, Bulakrejo, Sukoharjo, sebagai salah satu monumen identitas kabupaten.

Namun, identitas Sukoharjo kini perlahan mulai berubah. Generasi muda yang tumbuh di tengah era digital justru memilih membangun usaha di tanah kelahirannya.

Jika dulu Sukoharjo identik dengan jamu, kini wajah baru daerah ini mulai dibentuk oleh menjamurnya kedai kopi yang hampir ada di setiap kecamatan.

Misalnya di sepanjang Jalan Jenderal Sudirman di kawasan Proliman Sukoharjo, dalam radius 500 meter saja sudah ada tiga coffee shop.

Coffee shop ini tidak sekadar tempat menikmati secangkir kopi, namun juga menjadi ruang bertemu, berdiskusi, bekerja, hingga berkarya.

Dari bangunan lama bergaya industrial, rumah joglo yang disulap menjadi kafe, mobil mini van, hingga kedai sederhana di pinggir sawah, anak-anak muda menghadirkan warna baru bagi denyut ekonomi lokal di Sukoharjo.

Salah satu coffee shop di Sukoharjo bagian selatan yang belakangan naik daun adalah paitlegi. Berdiri kokoh di seberang Bundaran Tugu Adipura, paitlegi sudah jadi skena baru perkopian di Sukoharjo.

paitlegi hanya menjual menu pastry, kopi, dan non kopi. Untuk menu kopi susu ada Bertumbuh Ice yang terdiri dari espresso, susu, dan gula aren. Kemudian ada Manggo Legit Latte Ice (espresso, susu, sirup mangga).

Untuk menu coffee white terdiri dari Dirty Latte, Cappucino, Cafe Latte. Menu black coffee ada Espresso, Americano, Lemon Jasmine Americano, Filter Coffee,  dan Seasonal Filter Coffee.

Bagi bukan pecinta kopi, ada Artisan Tea Blend, Matcha Latte, Chocolate, dan Milk Brown Sugar, yang bisa dibeli.

"Kita itu baru grand opening tanggal 17 April 2026 kemarin. Ini adalah coffe shop pertama kami dan belum ada cabang lain," kata Anggit Budi P, penanggungjawab operasional di paitlegi membuka diskusi tentang industri kopi di Sukoharjo bersama TribunSolo.com pada Minggu (27/6/2026) sore lalu.

Meskipun baru seusia jagung, namun paitlegi memiliki passion tinggi untuk memberikan kopi berkualitas kepada para konsumennya.

Terlihat dari lengkapnya mesin espresso, grinder untuk menggiling biji kopi segar, portafilter, tamper, dan knock box yang digunakan barista dalam setiap proses ekstraksi.

Sementara itu, milk pitcher, timbangan digital, gelas saji, dan berbagai perlengkapan pendukung lainnya melengkapi rutinitas barista dalam menyajikan secangkir kopi bagi pelanggan.

"Saat ini sementara yang masih dijual bari kopi dan pastry. Karena kami belum ada kitchen set," ungkap dia.

Jenama paitlegi dipilih pemiliknya karena mewakili filosofi pahit dan manis kehidupan. Menurut Anggit, tiap coffeeshop juga harus memiliki identitasnya masing-masing seperti paitlegi yang memiliki jargon 'Bertumbuh'.

"Tagline kami kan bertumbuh, jadi harapannya bisa berkembang dan bertumbuh. Dari belum pernah punya kedai, kami merintis dari awal harapannya bisa berkembang dan buka cabang di tempat lain. Logo kita juga berbentuk daun yang mewakili identitas tersebut," tutur Anggit.

Anggit menjelaskan, sejak pertama kali dibuka, paitlegi sudah menyasar segmen kelas menengah. Terutama mereka pekerja-pekerja kantoran yang ingin istirahat sejenak sembari menikmati segelas kopi dengan suasana perkotaan.

"Kita target marketnya pekerja kantoran. Termasuk ibu-ibu yang menunggu anak sekolah. Soalnya harga kopi di tempat kita memang Rp20 ribuan ke atas. Kalau yang target marketnya Gen Z atau anak sekolah itu biasanya harganya Rp20 ribu ke bawah. Kalau kita memang targetnya orang-orang dengan umur 30 tahun ke atas," ujarnya.

Anggit mengakui di Kabupaten Sukoharjo dengan Upah Minimum Regional (UMR) kisaran Rp2.500.000, harga adalah hal yang sensitif.

Umumnya, coffee shop-coffee shop di Sukoharjo tidak berani memanderol harga menu yang terlalu mahal.

"Tapi, kami mengedepankan kualitas kopi juga," tambah Anggit.

Anggit melanjutkan, tantangan membuka coffee shop di Sukoharjo saat ini adalah persaingan harga. Untuk harga kopi di atas Rp20 ribu, pada umumnya kurang cocok untuk anak-anak muda yang belum bekerja.

Rata-rata dengan harga sekian, anak muda umumnya datang ke kedai hanya bisa sekali dalam seminggu untuk ngopi.

Untuk biji kopi di paitlegi sendiri didatangkan langsung dari Malang, Jawa Timur. paitlegi memiliki langganan petani lokal langsung di Malang. Mereka juga jadi pemasok ke sejumlah coffee shop di Sukoharjo.

paitlegi buka tiap hari mulai pukul 08.00 WIB-22.00 WIB. Khusus untuk hari Minggu, mereka buka lebih awal yakni jam 07.00 WIB karena bertepatan dengan event Car Free Day (CFD).

"Jam-jam paling ramai itu biasanya jam delapan malam setelah Isya. Kadang pagi juga ramai, tapi enggak selalu. Kalau sekarang kan musim liburan, kalau enggak liburan itu biasanya ramai sama ibu-ibu yang nunggu anaknya sekolah TK atau SD. Kadang orang lari atau sepedaan itu juga ngopi di sini," terang Anggit.

Anggit menilai prospek coffee shop di Sukoharjo sejauh ini masih cukup bagus. Masih banyak customer yang rutin ngopi di tempat-tempat favorit mereka.

Untuk target paitlegi ke depannya, Anggit menyebut pihaknya memasang target bisa menggaet komunitas-komunitas yang ada di Sukoharjo. 

"Mungkin nanti kita bisa bikinkan member, ada harga khusus untuk komunitas. Jadi rencananya ke depan mau kolaborasi dengan komunitas. Ada rencana ekspansi ke depannya, tapi mau mematangkan di sini atau bangun branding di sini dulu.

Misal Edukasi soal Kopi di Sukoharjo

Sementara itu, membuka coffee shop di Sukoharjo tak semata soal misi ekonomi. Di samping itu, Anggit melalui paitlegi juga ingin memberikan edukasi soal ngopi di Sukoharjo.

Ia ingin mengajak warga Sukoharjo untuk sesekali merasakan kopi berkualitas yang diracik dengan cara profesional, alih-alih hanya minum kopi sachet yang tinggi gula setiap harinya.

"Budaya ngopi di Sukoharjo saat ini sudah berkembang. Jadi, memang ada rasa ada kualitas. Buat yang mengerti prosesnya mungkin harga Rp20 ribu untuk segelas kopi itu sepadan," kata Anggit.

Anggit mengatakan, di paitlegi bijo kopinya memakai full Arabica.

"Untuk yang lambungnya bermasalah lebih aman. Tapi, untuk yang kopi susu masih 50:50 sama robusta. Tapi kalau selain kopi susu, kita sudah full Arabika," ucapnya.

Anggit lantas memperkenalkan bean Geisha (sering juga ditulis Gesha) yang adi andalan di paitlegi. Untuk informasi, bean Geisha adalah varietas kopi arabika yang dikenal sebagai salah satu kopi premium dengan cita rasa yang kompleks, floral, dan bernilai tinggi.

Nama "Geisha" bukan berasal dari budaya Jepang, melainkan dari Hutan Gesha di barat daya Ethiopia, tempat varietas ini pertama kali ditemukan pada 1930-an.

"Buat para pecinta kopi, Gesha itu tahta tertingginya dari bean kopi untuk filter manual brew. Biasanya kita ada itu ready," terang Anggit.

Menurutnya, setiap jenis biji kopi memiliki flavor notes atau karakter rasa yang berbeda-beda, dipengaruhi oleh varietas, daerah tanam (terroir), ketinggian, proses pascapanen, hingga cara sangrai (roasting).

Misi edukasi soal budaya ngopi ini juga turut disampaikan oleh Sultan, salah satu barista di paitlegi.

Sultan sudah menjadi barista paitlegi sejak awal berdiri. Kecintaannya terhadap kopi dimulai ketika pandemi Covid-19. 

Kala itu, dirinya belajar soal kopi secara otodidiak.

"Sudah ngulik kopi itu sejak Covid-19 kalau enggak salah mas. Dulu cuma ikut temen yang kerja di coffee shop, lama-lama paham sendiri," ucapnya.

Setiap pagi sebelum paitlegi buka, Sultan sebagai barista rutin melakukan kalibrasi kopi. Kalibrasi kopi adalah proses penyetelan ulang parameter seduhan agar rasa kopi yang dihasilkan konsisten, seimbang, dan sesuai standar yang diinginkan.

Barista adalah garda terdepan coffee shop, Sultan pun mengemban amanah memberikan wawasan untuk pelanggan awam tentang kopi. Saat pelanggan ada yang pesan, dia tak segan menjelaskan bahan-bahan kopi dan proses pembuatannya.

"Misal ada pelanggan ibu-ibu yang pesan espresso, biasanya kami tanya dulu, apakah biasa pesan espresso? apakah punya sakit lambung? Lalu kami jelaskan espresso itu apa dan nanti hanya dapat segelas kecil. Biasanya banyak pelanggan yang asal pesan tapi belum paham apa yang dipesannya. Ketika mereka sudah paham, biasanya lalu pesan yang lain," katanya.

Dia juga menjelaskan, dalam menyajikan kopi itu, momentum dan proses penyaringan adalah salah satu hal vital. 

Di paitlegi, customer bisa melihat langsung proses pembuatan kopi dan bertanya kepada barista. Sultan dan Anggit biasanya dengan ramah akan menjelaskan sebagai bagian dari edukasi.

“Banyak orang pikir rasa kopi itu cuma soal biji dan mesin. Padahal cara kita menuang air itu sangat menentukan,” ujar Sultan.

Ia menjelaskan, momentum saat menuang air, baik dari kecepatan, tekanan, maupun pola tuangan. akan memengaruhi bagaimana bubuk kopi bereaksi. Jika air dituangkan terlalu cepat, ekstraksi cenderung tidak merata.

“Kalau terlalu kencang, air langsung ‘menembus’ kopi. Akhirnya rasa bisa jadi belum keluar maksimal, kadang malah cenderung asam,” ujarnya.

Digitalisasi Pembayaran Bantu Coffee Shop Berkembang di Sukoharjo

Menjamurnya coffee shop di Sukoharjo dalam menggerakkan perekonomian kabupaten tak lepas dari peran Bank Rakyat Indonesia (BRI). Termasuk paitlegi yang hanya berjarak puluhan meter dari BRI Unit Sukoharjo.

paitlegi pun menggunakan layanan EDC dari BRI. Mesin EDC (Electronic Data Capture) adalah perangkat elektronik yang digunakan untuk memproses transaksi pembayaran maupun layanan perbankan secara digital dengan menghubungkan kartu debit, kartu kredit, atau rekening nasabah ke sistem bank secara real time.

Fasilitas ini diberikan BRI untuk paitlegi dan sejumlah coffee shop di Sukoharjo untuk menunjang transaksi pembayaran digital.

"Kemarin waktu kita opening ada BRI ke sini menawarkan (EDC). Terus kita dikasih sejumlah layanan. Misal tukar uang atau receh nanti bisa diprioritaskan," kata Anggit.

Anggit mengungkapkan, pernah ada trouble massal ketika menggunakan EDC, pihaknya langsung menghubungi BRI.

Dijelaskan jika permasalahan transaksi tidak hanya ada di paitlegi, namun juga usaha-usaha lain. Respons dari BRI pun kata dia cukup cepat dan tanggap.

"Langsung diperbaiki sama BRI dan ada pengembalian dananya. Troublenya langsung diselesaikan sama BRI dan sampai sekarang aman," ucapnya.

Anggit menyebut mayoritas pelanggan di paitlegi adalah pengguna QRIS. Menurutnya, di Sukoharjo kini, banyak warganya yang sudah melek digital. Apalagi untuk kaum muda.

"Sekarang itu kayaknya orang bawa cash jarang. Lebih simplenya memang pakai QRIS. Nah kalau tunai kadang kita juga ribet untuk kembaliannya. Kalau pembayarannya tunai semua, kadang uang recehnya cepat habis. Memang kita sarankan kalau ada yang mau bayar tunai, kita tawarkan 'QRIS-nya kak," ujar Anggit.

paitlegi sendiri saat ini juga menyediakan fasilitas QRIS BRI untuk pelanggan di samping mesin EDC.

Di sisi lain, maraknya coffe shop di Sukoharjo turut memberikan sumber pendapatan tambahan bagi warga sekitar di sana.

Salah satunya adalah Pras Aji, salah satu juru parkir yang TribunSolo.com temui di kawasan Proliman. Setiap pagi Pras bekerja sebagai buruh pabrik.

"Kalau malam biasanya jaga di sini mas. Alhamdulillah dengan banyaknya kedai kopi di sekitar sini ikut membawa rezeki. Pagi kerja di pabrik, malamnya cari uang tambahan di sini," kata Pras.

Uang itu menurutnya bisa dipakai untuk menopang kebutuhan anak dan istrinya sehari-hari. Terlebih, Pras saat ini harus merawat orang tua dan adiknya yang sakit.

"Sehari bisa dapat bersih Rp50 ribu sudah cukup mas. Apalagi ini kan hanya pekerjaan sampingan, kalau ada event di Alun-alun bisa dapat lebih banyak lagi," ungkapnya.

Coffee shop, terutama yang buka hingga larut malam di Sukoharjo saat ini sudah menjadi magnet baru bagi anak muda, pekerja, hingga keluarga kecil yang mencari tempat bersantai.

Dari situ, kendaraan yang datang silih berganti menciptakan perputaran ekonomi kecil di luar bangunan utama. Meski demikian, ada tanggung jawab besar menjaga kendaraan orang lain dan juga menjaga kepercayaan pemilik usaha.

“Yang penting kita benar-benar amanah. Kalau orang nyaman, mereka juga enak datang lagi,” pungkas ayah dua anak ini. 

Sukoharjo yang selama puluhan tahun dikenal sebagai “Kota Jamu” kini mulai bertransformasi menjadi “Kota Kopi” seiring menjamurnya coffee shop di berbagai wilayah.

Perubahan ini tidak hanya menggeser gaya hidup masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru yang ditopang oleh digitalisasi seperti QRIS dan EDC BRI.

Dampaknya, UMKM dan pelaku usaha lokal semakin berkembang, sekaligus menciptakan perputaran rezeki baru di tingkat masyarakat. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.