BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Tradisi nganggung kembali mewarnai peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram 1448 Hijriah di Himpang Lima Habang, Kabupaten Bangka Selatan, Kepulauan Bangka Belitung, Selasa (30/6/2026).
Pemerintah daerah bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), aparatur sipil negara (ASN), dan masyarakat duduk bersama membawa dulang berisi aneka hidangan sebagai simbol kebersamaan. Kegiatan ini tetap terlaksana meski di tengah kebijakan efisiensi anggaran, melalui semangat gotong royong seluruh elemen.
Satu per satu warga datang ke lokasi sambil memanggul dulang yang telah ditutup tudung saji berwarna-warni. Dulang tersebut kemudian disusun memanjang hingga membentuk barisan khas tradisi nganggung masyarakat Bangka Selatan. Suasana kebersamaan semakin terasa ketika warga saling menyapa dan berkumpul dalam satu hamparan hidangan.
Tidak lama kemudian, jajaran Forkopimda, ASN, tokoh masyarakat, dan warga duduk bersama tanpa sekat. Momen kebersamaan semakin terasa ketika tudung saji dibuka secara serentak dan hidangan dinikmati bersama.
Bupati Bangka Selatan, Riza Herdavid mengatakan, tradisi nganggung merupakan budaya yang harus terus dipertahankan karena menjadi identitas masyarakat Bangka Selatan. Doa bersama dan makan dalam satu hamparan menjadi wujud nyata kedekatan antara pemerintah dan masyarakat tanpa sekat. Tradisi tersebut menjadi momentum memperkuat silaturahmi sekaligus mempererat persatuan.
“Budaya Bangka Selatan salah satunya adalah nganggung bareng, doa dulang rame-rame, biar masyarakat bisa merasakan kehadiran kita bersama-sama dan makan bersama masyarakat,” kata Riza Herdavid kepada Bangkapos.com, Selasa (30/6/2026).
Riza Herdavid menuturkan, pelaksanaan nganggung tahun ini terlaksana berkat gotong royong seluruh pihak, mulai dari Forkopimda, ASN hingga masyarakat. Semangat kebersamaan itu menunjukkan bahwa pelestarian budaya tetap dapat dilakukan meski pemerintah tengah menerapkan efisiensi anggaran. Ia berharap nilai kebersamaan yang terkandung dalam tradisi tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Selain menjadi tradisi keagamaan dan budaya, nganggung juga memberikan manfaat bagi pelaku usaha di sekitar lokasi kegiatan. Riza mengungkapkan isi dulang yang dibawa ASN berasal dari makanan yang dibeli di warung-warung sekitar Simpang Lima sehingga turut menggerakkan roda perekonomian masyarakat. Langkah tersebut sengaja dilakukan agar perayaan budaya juga memberikan dampak langsung bagi warga.
“Mereka saya perintahkan untuk beli makanan warung-warung di sekitaran sini. Jadi isi dulangnya tadi adalah isi dari warung-warung makanan yang jualan di seputaran Simpang Lima ini,” jelas Riza Herdavid.
Bupati menilai tradisi nganggung memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar membawa hidangan untuk disantap bersama. Menurutnya, budaya tersebut menjadi pengingat bahwa semangat hijrah harus diwujudkan melalui kebersamaan, kepedulian, dan pelayanan yang lebih baik kepada masyarakat. Ia berharap nilai gotong royong yang tumbuh dalam tradisi ini terus menjadi kekuatan masyarakat Bangka Selatan dalam menghadapi berbagai tantangan pembangunan.
Selain melestarikan budaya, Pemerintah Kabupaten Bangka Selatan juga ingin menjadikan Simpang Lima sebagai salah satu ikon yang lebih dikenal masyarakat luar daerah. Menurut Riza, kawasan tersebut perlu terus dipromosikan agar menarik wisatawan maupun tamu yang datang untuk urusan kedinasan sehingga berdampak pada sektor ekonomi lokal. Ia optimistis peningkatan kunjungan akan memberikan manfaat bagi pelaku usaha di Bangka Selatan.
“Simpang Lima memang salah satu yang harus kita promosikan ke dunia luar agar orang-orang di luar Bangka Selatan berkenan main ke sini, berdinas ke sini, terus menginap di sini,” sebutnya.
Riza Herdavid berharap tradisi nganggung tetap menjadi agenda tahunan yang terus dipertahankan di Bangka Selatan. Menurutnya, budaya tersebut bukan hanya menjadi warisan leluhur, tetapi juga menjadi ruang mempererat hubungan antara pemerintah dan masyarakat. Ia pun mengajak seluruh pihak, termasuk media, ikut menjaga agar tradisi itu terus hidup di tengah perkembangan zaman.
“Saya minta support dari rekan-rekan media agar ini bisa terus kita pertahankan, budaya-budaya yang membuat kita saling bersilaturahmi antara satu dengan yang lain, tidak ada jarak,” ucapnya. (Bangkapos.com/Cepi Marlianto)