Jeritan Pekerja di Solo Usai BBM Naik, Gaji Cuma UMR Tak Lagi Cukup, Bahlil: 'Baru Juga 2 Minggu'
Putri Asti June 30, 2026 09:44 PM

 

TRIBUNSTYLE.COM - Gelombang kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) mulai memukul kantong masyarakat. 

Mereka yang setiap hari bergantung pada kendaraan pribadi menjadi kelompok yang paling cepat merasakan dampaknya.

Di Solo, keluhan datang dari Indri (24), seorang karyawan swasta yang harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bekerja setiap hari. 

Kenaikan harga BBM membuat biaya transportasinya melonjak.

Indri (24), seorang karyawan swasta di Solo, harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bekerja setiap hari. Kenaikan harga BBM membuat biaya transportasinya melonjak.
Indri (24), seorang karyawan swasta di Solo, harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk bekerja setiap hari. Kenaikan harga BBM membuat biaya transportasinya melonjak. (TribunStyle/Putri Asti)

Rutinitas perjalanan dari Karanganyar menuju Solo kini menjadi beban yang lebih berat. 

Dana yang sebelumnya masih bisa disisihkan untuk kebutuhan lain kini habis di SPBU.

Beban hidup yang terus bertambah membuat Indri harus memutar otak mengatur keuangan. 

Baca juga: Update Akhir Pekan Tarif BBM Pertamina di Jateng, Warga Sukoharjo Tetap Nyalakan Motor Meski Antre

Penghasilannya yang masih setara UMR dinilai semakin sulit mengejar laju kenaikan harga berbagai kebutuhan.

Tak hanya biaya transportasi, kebutuhan sehari-hari juga ikut mengalami kenaikan. 

Kondisi tersebut membuat ruang gerak finansialnya semakin sempit.

Dengan nada penuh keluhan, Indri mengaku kenaikan harga BBM benar-benar menguras pengeluarannya. 

Hampir setiap pekan ia harus menambah anggaran untuk membeli bahan bakar.

"Pengeluaran saya membengkak sekali sejak BBM naik. Padahal gaji cuma UMR, masih segitu-gitu saja," ujar Indri.

Keluhan serupa diyakini juga dirasakan banyak pekerja yang menggantungkan mobilitas pada kendaraan pribadi. 

Mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar hanya untuk berangkat dan pulang bekerja.

Sementara pendapatan belum mengalami perubahan, harga berbagai kebutuhan justru terus merangkak naik. 

Harapan agar harga BBM kembali turun pun terus disuarakan. 

Masyarakat berharap daya beli dapat kembali pulih di tengah tekanan ekonomi yang belum sepenuhnya reda.

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat melihat persoalan ini secara menyeluruh. Ia menilai penilaian terhadap kebijakan harga BBM seharusnya dilakukan secara adil.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat melihat persoalan ini secara menyeluruh. Ia menilai penilaian terhadap kebijakan harga BBM seharusnya dilakukan secara adil. (KOMPAS.com/ADHYASTA DIRGANTARA)

Di tengah berbagai keluhan tersebut, pemerintah memberikan penjelasan mengenai kebijakan harga Pertamax. 

Menteri ESDM Bahlil Lahadalia meminta masyarakat melihat persoalan ini secara menyeluruh.

Menurut Bahlil, pemerintah sempat menahan harga Pertamax ketika harga minyak dunia melonjak selama lebih dari dua bulan. 

"Kita lihat saja, teman-teman media, teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik dua bulan lebih, hampir tiga bulan kan (harga Pertamax) enggak kita naikkan," ujar Bahlil dilansir dari Kompas.com

Lonjakan harga minyak global, kata Bahlil, tidak serta-merta diikuti kenaikan harga BBM di dalam negeri. 

Pemerintah memilih menahan penyesuaian selama kondisi masih memungkinkan.

Karena itu, ia menilai penilaian terhadap kebijakan harga BBM seharusnya dilakukan secara adil. 

Tidak hanya saat harga naik, tetapi juga ketika pemerintah berhasil menahannya.

"Masa baru naik baru naik dua minggu hampir tiga minggu ya? Teman-teman sudah tanya itu, kenapa waktu kemarin kok tidak tanya nggak diturunkan?" tandasnya.

(TribunStyle.com/Putri Asti)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.