Harga BBM Dexlite & Turbo Turun Per 1 Juli 2026, Tapi Kenapa Pertamax 92 Tidak?
Amirullah July 01, 2026 01:39 PM

 

SERAMBINEWS.COM — Kabar gembira sekaligus tanda tanya menyelimuti penyesuaian harga Bahan Bakar Minyak (BBM) non-subsidi per Rabu (1/7/2026). Mulai hari ini, PT Pertamina resmi menurunkan harga sejumlah BBM andalannya seperti Pertamax Turbo hingga Dexlite. Anehnya, harga Pertamax RON 92 justru jalan di tempat alias tidak ikut turun.

Padahal, publik masih ingat betul pada 10 Juni 2026 lalu, harga Pertamax RON 92 baru saja dikerek naik cukup tajam dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter. Kenapa sekarang saat yang lain turun, Pertamax malah tertahan?

Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, meminta masyarakat untuk bersabar menanti keputusan resmi dari pemerintah terkait nasib harga Pertamax 92 ini. Bahlil menilai, publik juga harus melihat kondisi ini secara objektif.

"Kita lihat saja, teman-teman juga harus fair dong. Pada saat harga minyak lagi naik, dua bulan lebih hampir tiga bulan kan enggak kita naikkan. Masa baru naik (harga Pertamax 92) dua minggu atau tiga minggu? teman-teman sudah tanya itu," ujar Bahlil saat ditemui di Komplek Parlemen, Jakarta, Senin (29/6/2026).

Di sisi lain, Corporate Secretary Pertamina Patra Niaga, Roberth M.V. Dumatubun, menjelaskan bahwa naik-turunnya harga BBM non-subsidi ini memang murni mengikuti dinamika pasar energi global yang sangat fluktuatif. Evaluasi pun dilakukan secara berkala.

"Evaluasi harga BBM non subsidi dilakukan secara berkala bisa dalam periode waktu tertentu," kata Roberth.

Kendati demikian, Roberth menyebut tren penurunan harga minyak dunia saat ini diharapkan bisa membawa angin segar untuk perhitungan harga keekonomian BBM ke depan. Kalau tren positif ini terus bertahan, bukan tidak mungkin harga Pertamax dkk bakal disesuaikan lagi.

"Apabila fluktuasi harga pasar dalam kurun waktu tertentu ini cenderung positif stay menurun dan kondusif, karena mengikuti harga pasar maka potensi penyesuaian harga BBM non subsidi dapat dilakukan. Penyesuaian harga akan mengikuti harga pasar dan mempertimbangkan dua poin di atas," pungkasnya.

Sebagai gambaran, harga minyak mentah dunia yang menjadi acuan memang sedang melandai. Saat ini, minyak mentah jenis Brent bertengger di kisaran 72,40 dolar AS per barel, sementara satu acuan lainnya berada di level sekitar 73,51 dolar AS per barel.

Baca juga: Link Twibbon & Ucapan Hari Bhayangkara 2026, Desain Umum Bisa Digunakan Anggota Hingga Masyarakat

Daftar Harga BBM Turbo hingga Dexlite yang Resmi Turun

Bagi pengguna Pertamax Turbo, Pertamina Dex, Dexlite, hingga Avtur, Anda sudah bisa menikmati harga baru yang berlaku mulai 1 Juli 2026 pukul 00.00 WIB.

Berikut adalah rincian daftar harga terbaru untuk wilayah dengan tarif PBBKB 5 persen:

  • Pertamax Turbo: Turun dari Rp20.750 per liter menjadi Rp19.300 per liter.
  • Pertamina Dex: Turun dari Rp24.800 per liter menjadi Rp21.150 per liter.
  • Dexlite: Turun dari Rp23.000 per liter menjadi Rp19.700 per liter.
  • Avtur Penerbangan Domestik (sebelum pajak di Bandara Soekarno-Hatta): Turun dari Rp22.190 per liter (Juni) menjadi Rp19.190 per liter (Juli).

Baca juga: Harga Pertamax Turbo, Dexlite, dan Pertamina Dex Turun, Cek Daftar Lengkap BBM di Seluruh Indonesia

Pengamat: Pertamax 92 Seharusnya Ikut Turun, Antrean Pertalite Sudah Mengular

Keputusan mempertahankan harga Pertamax di angka Rp16.250 menuai kritik dari para pengamat ekonomi. Banyak yang menilai Pertamax 92 seharusnya sudah ikut turun demi menjaga daya beli masyarakat.

Direktur Eksekutif Core Indonesia, Mohammad Faisal, mengungkapkan bahwa Indonesian Crude Price (ICP) atau harga patokan minyak mentah Indonesia sebenarnya sudah menyusut di bawah 84 dolar AS per barel secara year to date (dari awal tahun hingga sekarang), setelah sebelumnya sempat bertengger di atas 85 dolar AS per barel.

"Penurunan harga Pertamax itu berpengaruh ke daya beli masyarakat kelas menengah. Jadi sudah semestinya diturunkan untuk mendongkrak daya beli dan harga minyak dunia juga sudah turun," papar Faisal.

Pandangan senada datang dari Policy and Program Director Prasasti, Piter Abdullah. Menurutnya, penurunan harga minyak dunia saat ini memberikan ruang yang cukup bagi pemerintah untuk menurunkan harga Pertamax secara wajar sesuai pasar, tanpa harus mengembalikannya langsung ke harga lama.

Piter juga mengingatkan pentingnya memisahkan fungsi BBM subsidi dan nonsubsidi agar beban APBN tidak jebol.

"Kewajiban pemerintah adalah menjaga BBM bersubsidi. BBM non-subsidi seharusnya dibiarkan mengikuti harga pasar. Dengan begitu masyarakat paham mana harga yang dijaga pemerintah dan mana yang mengikuti pasar," kata Piter.

Jika harga Pertamax dibiarkan terlalu tinggi, dampaknya bisa berbahaya. Piter melihat gejala migrasi konsumen dari Pertamax ke Pertalite sudah mulai terjadi secara masif di lapangan.

"Antrean Pertalite yang memanjang menandakan sebagian konsumen sudah beralih. Kalau dibiarkan, kuota Pertalite yang terbatas bisa tidak mencukupi. Pasokan dan permintaan tidak lagi cocok. Risikonya bisa sampai kelangkaan," jelas Piter memperingatkan.

Sementara itu, Ibrahim Assuaibi selaku Pengamat Ekonomi, Mata Uang, dan Komoditas dari PT Traze Andalan Futures, menyebutkan bahwa meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah menjadi faktor utama di balik melorotnya harga minyak mentah global saat ini.

Ia memprediksi harga minyak dunia masih punya ruang untuk merosot lebih dalam lagi ke depannya.

“Saya masih optimis BBM non-subsidi awal bulan (Juli) akan turun. Minyak mentah kemungkinan besar akan di bawah 70 dolar AS per barel,” tutur Ibrahim.

(Serambinews.com/TribunTrends/Tribunnews)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.