TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tidak sedikit perempuan menganggap perdarahan yang muncul menjelang atau setelah menopause sebagai hal biasa.
Bahkan, sebagian memilih menunggu karena mengira itu hanya "darah penghabisan".
Padahal, anggapan tersebut bisa membuat diagnosis kanker endometrium terlambat ditegakkan.
Dokter Spesialis Obstetri dan Ginekologi Subspesialis Onkologi Ginekologi RS Pondok Indah Bintaro Jaya, dr. Renny Anggia Julianti, Sp.OG, Subsp.Onk., mengatakan perdarahan yang terjadi setelah seorang perempuan memasuki masa menopause merupakan kondisi yang perlu dievaluasi.
Menurutnya, meski tidak selalu berarti kanker, perdarahan tersebut tidak boleh dianggap normal.
Dr. Renny menjelaskan, kanker endometrium selama ini memang lebih sering ditemukan pada perempuan yang memasuki masa perimenopause atau menopause.
Baca juga: Ayah Terdakwa Sakit Kanker Stadium Akhir, Hakim Tangguhkan Penahanan Pembeli 25 Liter Pertalite
Karena itu, salah satu tanda yang paling sering menjadi perhatian dokter adalah munculnya perdarahan setelah menstruasi sudah berhenti.
"Kalau orang yang pas menopause nih, misalnya ibu-ibu umur 50 misalnya udah menopause ya, tiba-tiba umur 55 berdarah, nah itu kita evaluasi dulu nih, bisa aja sih bukan apa-apa ya, tapi bisa juga kanker endometrium,"ungkapnya pada media briefing di Menteng Jakarta Pusat, Rabu (1/7/2026).
Sementara pada perempuan yang masih mengalami menstruasi, tanda awal biasanya berupa perubahan pola haid.
Menstruasi dapat berlangsung lebih lama, jumlah darah lebih banyak, atau datang tanpa pola yang jelas.
Bila keluhan tidak membaik meski sudah mendapatkan pengobatan, kondisi tersebut perlu diperiksa lebih lanjut.
Selain perdarahan, gejala lain yang dapat muncul antara lain keputihan bercampur darah, nyeri panggul, nyeri perut bagian bawah, nyeri saat berhubungan intim, hingga rasa penuh di perut bawah akibat pembesaran rahim.
Menurut dr. Renny, salah satu kendala yang masih sering ditemui di lapangan adalah anggapan bahwa perdarahan menjelang menopause merupakan proses alami.
Akibatnya, tidak sedikit perempuan baru datang berobat setelah keluhan berlangsung cukup lama.
"Kalau yang saya dapetin, misalkan di stadium yang sudah agak lanjut, kalau ditanya, ibu sudah berapa lama, misalnya sudah 2 tahun berdarah terus. Tapi katanya ini penghabisan saja, karena sudah menopause, jadi itu adalah yang paling sering,"lanjutnya.
Ia mengatakan, perdarahan pada kanker endometrium tidak memiliki pola tertentu.
Ada yang mengeluarkan darah dalam jumlah banyak hingga harus sering mengganti pembalut, tetapi ada pula yang hanya mengalami bercak darah sedikit demi sedikit.
Karena itu, sekecil apa pun perdarahan setelah menopause tetap perlu diperiksakan.
Berbeda dengan kanker serviks yang memiliki program skrining melalui Pap smear, IVA, atau tes HPV DNA, kanker endometrium belum memiliki skrining untuk masyarakat umum.
Pemeriksaan rutin hanya dianjurkan pada kelompok berisiko tinggi, misalnya mereka yang memiliki riwayat keluarga dengan kanker payudara, kanker ovarium, atau kanker kolorektal.
Untuk memastikan diagnosis, dokter biasanya akan melakukan USG transvaginal terlebih dahulu guna melihat kondisi lapisan rahim.
Jika ditemukan penebalan atau kelainan yang mencurigakan, pemeriksaan dilanjutkan dengan pengambilan sampel jaringan (biopsi) untuk memastikan ada tidaknya sel kanker.
Dr. Renny mengingatkan bahwa peluang keberhasilan pengobatan kanker endometrium jauh lebih baik bila penyakit ditemukan pada stadium awal.
Karena itu, perempuan tidak dianjurkan menunda pemeriksaan hanya karena menganggap perdarahan merupakan bagian dari proses menopause.
"Tapi kalau populasi besar, tidak ada screeningnya, jadi tidak seperti kanker serviks,"sambungnya.
Menurutnya, karena belum ada skrining untuk masyarakat umum, mengenali perubahan pada tubuh sendiri menjadi langkah penting.
Perdarahan yang tidak biasa, baik setelah menopause maupun perubahan pola haid yang berlangsung terus-menerus, sebaiknya tidak diabaikan agar penyebabnya dapat diketahui sejak dini dan penanganan bisa segera dilakukan.