Polemik Lagu Lalaki Lalanang Bejad Ciptaan Om Zein Bupati Purwakarta, Dinilai Rendahkan Wanita
Ardhi Sanjaya July 01, 2026 07:07 PM

TRIBUNNEWSBOGOR.COM -- Lagu "Lalaki Langit, Lalanang Bejad" yang dirilis Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau Om Zein menuai kritik dari pegiat isu perempuan.

Shela Amelia, yang juga pernah menjabat Ketua Aliansi BEM Purwakarta periode 2024-2025, menilai sejumlah lirik dalam lagu tersebut mengandung narasi yang merendahkan perempuan dan berpotensi melanggengkan budaya kekerasan berbasis gender.

Menurut Shela, lirik lagu yang diawali dengan kalimat "nuhun gusti tos nyiptakeun kuring jadi lalaki" kemudian diikuti penggambaran bahwa menjadi perempuan adalah sebuah "celaka" karena harus memakai bra, mengalami menstruasi, hingga berdandan, menunjukkan cara pandang yang keliru terhadap perempuan.

"Narasi itu seolah menggambarkan bahwa kodrat perempuan merupakan beban dan sesuatu yang menyulitkan. Padahal menstruasi, payudara, organ reproduksi, dan seluruh kondisi biologis perempuan adalah kodrat yang melekat sejak lahir sebagai anugerah dari Tuhan, bukan sesuatu yang layak dijadikan bahan candaan atau dianggap sebagai kemalangan," ujar Shela kepada Tribunjabar.id, Rabu (1/7/2026).

Shela menilai penggambaran tersebut justru memperkuat budaya yang membuat perempuan merasa malu terhadap tubuhnya sendiri. Akibatnya, perempuan ditempatkan pada posisi yang lebih rendah dan tubuhnya semakin mudah dijadikan objek.

"Perempuan adalah manusia yang lahir dengan banyak anugerah. Perempuan melahirkan kehidupan dan peradaban. Mereka tidak pantas dilecehkan ataupun dijadikan objek yang direndahkan," katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa candaan atau narasi yang bernada seksis bukan persoalan sepele. Mengacu pada konsep rape culture pyramid, Shela menjelaskan bahwa candaan seksis, objektifikasi tubuh perempuan, dan sikap yang merendahkan perempuan merupakan fondasi awal yang menormalisasi kekerasan.

"Di dasar piramida terdapat candaan seksis dan objektifikasi yang dianggap biasa. Ketika itu terus dinormalisasi, kekerasan terhadap perempuan menjadi semakin mudah terjadi, bahkan hingga bentuk yang paling ekstrem seperti kekerasan seksual maupun pembunuhan," ujarnya.

Karena itu, Shela menilai seorang kepala daerah seharusnya lebih berhati-hati dalam menyampaikan pesan kepada publik melalui karya maupun pernyataan yang dibuat.

"Seorang bupati adalah figur publik yang memiliki pengaruh besar. Ketika narasi yang merendahkan perempuan disampaikan oleh seorang pemimpin, hal itu berpotensi ikut membentuk lingkungan yang tidak aman bagi perempuan serta memperkuat budaya yang mewajarkan diskriminasi dan kekerasan berbasis gender," kata Shela.(*)

 

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.