TRIBUNPONTIANAK.CO.ID- Tingginya harga tiket pesawat masih menjadi salah satu faktor yang memengaruhi mobilitas masyarakat di Kalimantan Barat. Kondisi tersebut tercermin dari menurunnya jumlah penumpang angkutan udara selama Mei 2026.
Di saat yang sama, aktivitas angkutan laut untuk penumpang juga mengalami perlambatan setelah berakhirnya periode arus balik Lebaran dan kepulangan santri, meski aktivitas distribusi barang melalui jalur laut justru menunjukkan tren pertumbuhan yang positif.
Data yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS) Kalimantan Barat menunjukkan jumlah penumpang yang datang menggunakan moda transportasi udara mengalami penurunan cukup signifikan pada Mei 2026.
Dibandingkan April 2026, jumlah penumpang yang tiba melalui penerbangan turun sebesar 22,75 persen. Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, penurunannya mencapai 14,17 persen.
Kepala BPS Kalimantan Barat, Muh. Saichudin, mengatakan salah satu penyebab utama menurunnya jumlah penumpang pesawat adalah harga tiket yang masih relatif tinggi akibat kebijakan penyesuaian tarif yang berlaku pada saat itu.
"Penurunan ini merupakan dampak dari relatif tingginya harga tiket pesawat. Saat itu terdapat kebijakan pemerintah yang memperbolehkan kenaikan tarif hingga maksimal 50 persen," ujarnya kepada awak media di Kantor BPS Kalimantan Barat, Jalan Sutan Syahrir, Kota Pontianak, Rabu 1 Juli 2026.
• Bhayangkari Kapuas Hulu Tampilkan Atraksi Bongkar Pasang Senjata pada HUT Bhayangkara ke-80
Menurut Saichudin, kebijakan tersebut berdampak langsung terhadap kenaikan harga tiket penerbangan sehingga sebagian masyarakat memilih mengurangi perjalanan menggunakan transportasi udara.
"Akibatnya harga tiket pesawat meningkat dan masyarakat mengurangi minat menggunakan transportasi udara," katanya.
Selain angkutan udara, sektor transportasi laut juga mencatat penurunan jumlah penumpang. BPS mencatat penumpang yang datang melalui jalur laut turun 66,95 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Secara tahunan, jumlah tersebut juga mengalami penurunan sebesar 6,31 persen.
Saichudin menjelaskan, turunnya jumlah penumpang kapal merupakan kondisi yang wajar karena telah berakhirnya masa arus balik Lebaran maupun kepulangan santri yang sebelumnya meningkatkan mobilitas masyarakat pada April 2026.
"Penurunan ini salah satunya dipengaruhi berakhirnya arus balik pasca-Lebaran serta arus balik santri setelah Hari Raya yang berlangsung pada awal hingga pertengahan April," jelasnya.
Sementara itu, jumlah penumpang yang berangkat menggunakan angkutan laut juga mengalami penurunan sebesar 62,69 persen dibandingkan bulan sebelumnya. Meski demikian, jika dibandingkan dengan Mei 2025, angka keberangkatan penumpang kapal masih menunjukkan pertumbuhan sebesar 10,78 persen.
Di tengah menurunnya jumlah penumpang, aktivitas logistik melalui jalur laut justru memperlihatkan perkembangan yang positif. Volume barang yang dibongkar di pelabuhan-pelabuhan Kalimantan Barat meningkat 40,28 persen dibandingkan April 2026.
• Balai PK Pontianak Perluas Layanan Kelautan, Pelaku Usaha Tak Perlu Lagi Datang ke Pontianak
Bahkan secara tahunan, peningkatan aktivitas bongkar barang tercatat sangat signifikan. Volume bongkar melonjak sekitar 1.176 persen, dari sekitar 1 juta ton pada Mei 2025 menjadi sekitar 13,4 juta ton pada Mei 2026.
Selain aktivitas bongkar, volume muat barang melalui angkutan laut juga mengalami pertumbuhan. BPS mencatat kegiatan muat barang meningkat 2,78 persen secara bulanan dan naik 22,89 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Data tersebut menunjukkan bahwa meskipun mobilitas penumpang melalui moda udara dan laut mengalami perlambatan pada Mei 2026, aktivitas distribusi logistik di Kalimantan Barat tetap tumbuh.
Kondisi ini mengindikasikan sektor perdagangan dan pergerakan barang masih berjalan cukup kuat, meski masyarakat cenderung menahan perjalanan akibat tingginya biaya transportasi udara serta berakhirnya momentum perjalanan musiman. (*)