Konten kini semakin mudah beredar dan menumpuk di media sosial. Namun sayangnya, konten yang muncul tak hanya bermanfaat, tetapi juga ada yang menyesatkan.
Bagi sebagian warga awam, mereka bisa mempercayai sebuah konten hoaks begitu saja. Atas permasalahan tersebut, mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) menghadirkan sebuah solusi.
Difasilitasi oleh Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi), sejumlah mahasiswa UGM mengembangkan aplikasi sistem pemantauan isu publik berbasis kecerdasan buatan (AI) bernama Use Case. Aplikasinya ini berfungsi untuk menyaring berita di media sosial.
Aplikasi ini akan melakukan , mengklasifikasikan isu dan sentimen, menganalisis narasi pemberitaan, dan menghasilkan harian. Aplikasi ini juga memiliki fitur untuk mengumpulkan data dari berbagai platform, mengolah gambar, teks, hingga audio. Selain itu, aplikasi dapat menyusun narasi isu dan daily brief serta memiliki chatbot yang membantu pengambilan keputusan.
Sistem Kerja Aplikasi Use Case
Salah satu anggota dari tim pengembangan yakni Gevan menjelaskan bahwa Use Case dibuat karena keresahanya terhadap perkembangan digital. Banyak konten sangat cepat muncul baik dari variasi hingga volumenya.
"Sistem ini memudahkan pemantauan, analisis, dan perumusan strategi komunikasi menjadi mustahil atau sangat sulit dilakukan secara manual," jelasnya dikutip dari laman UGM, Kamis (2/7/2026).
Gevan dan tim berusaha menyuguhkan sistem monitoring cerdas dengan alur kerja terintegrasi. Alur kerja dimulai dari deteksi tren terkini lewat Google Trends dan Trends 24.
Aplikasi juga akan mengakomodasi input kata kunci manual spesifik sesuai kebutuhan. Lalu, teknologi akan mengembangkan kata kunci turunan yang relevan.
Meskin pun menghimpun konten multimodal berupa teks, gambar hingga audio. Teks dan gambar tersebut bisa berasal dari media online atau media sosial.
Apa yang Dihasilkan Aplikasi Use Case?
Setelah itu, konten yang terkumpul diperkaya dengan sentuhan AI. Gambar akan diproses dengan dan audio ditranskrip secara otomatis dengan fitur .
Lalu, sistem akan memberikan label, membuat kategorisasi sub-isu, dan menganalisis sentimen secara otomatis pada seluruh data.
"Sistem pun dapat membuat yang berisi dokumen berisi isu-isu viral pada H-1 untuk menjadi panduan bagi pihak berwenang untuk menanggapi itu," jelas Gevan.
Baru setelah itu, akan disimpan ke dalam database untuk divisualisasikan secara interaktif pada untuk mendukung pengambilan keputusan yang cepat dan tepat.
"Dengan model LLM, kita dapat memetakan narasi dan percakapan di ruang digital, lalu merumuskan strategi komunikasi yang proaktif berdasarkan analisis data artikel terbaru yang di-," jelasnya.
Aplikasi ini disambut hangat oleh Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Said Mirza Pahlevi. Ia mengatakan aplikasi ini adalah usaha dari mahasiswa dan pemerintah dalam menghadapi perkembangan AI.
"Melalui solusi AI yang ditampilkan, kita dapat melihat sejauh mana teknologi AI dapat dimanfaatkan, khususnya dalam membaca dinamika opini publik dan mendukung pengambilan keputusan yang lebih cepat berbasis data," tutur Said.





