TRIBUNJAMBI.COM, MUARASABAK – Rumah Budidaya Maggot sekaligus tempat perkembangbiakan lalat Black Soldier Fly (BSF) bantuan SKK Migas PetroChina International Jabung Ltd yang dikelola Kelompok Tani Suka Maju di Taman Ekologi Gerbang Lestari desa Kota Baru, Kecamatan Geragai, Kabupaten Tanjung Jabung Timur, terus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Tidak hanya menjadi pusat edukasi budidaya maggot, fasilitas ini juga mendukung pengolahan sampah organik yang terintegrasi dengan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Program budidaya maggot melalui program Pelibatan dan Pengembangan Masyarakat (PPM) SKK Migas–PetroChina International Jabung Ltd, tersebut mulai dikembangkan sejak November tahun lalu sebagai upaya menghadirkan solusi pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat. sampah organik yang sebelumnya berpotensi menjadi limbah kini dapat dimanfaatkan sebagai pakan maggot yang bernilai ekonomis.
Selain membantu mengurangi timbunan sampah organik, budidaya maggot juga menghasilkan larva berkualitas untuk pakan ikan dan unggas serta kasgot atau sisa media budidaya yang dimanfaatkan sebagai pupuk organik.
Sejak beroperasi, Rumah Budidaya Maggot bantuan SKK Migas–PetroChina International Jabung Ltd rutin menerima kunjungan dari berbagai kelompok yang ingin mempelajari teknik budidaya maggot sekaligus sistem pengelolaan sampah organik berbasis masyarakat.
Ika Armitasari, pekerja budidaya maggot Kelompok Tani Suka Maju, mengatakan antusiasme masyarakat untuk belajar budidaya maggot terus meningkat.
Baca juga: Wakili Jambi ke Istana Negara, Fachri dan Rizkia Ungkap Perjalanan Lolos Paskibraka Nasional
Baca juga: Viral Video Dua Pria Dilakban Disebut Maling Mirip Teletubbies, Pemilik Rekaman Beri Klarifikasi
“Alhamdulillah banyak kelompok dan masyarakat yang datang belajar, termasuk dari pondok pesantren. Ada juga kelompok dari Kecamatan Dendang dan beberapa kabupaten lainnya,” ujar Ika.
Menurutnya, masyarakat tertarik karena budidaya maggot mampu mengubah limbah organik menjadi produk yang memiliki nilai ekonomi sekaligus ramah lingkungan.
Saat ini, rumah budidaya maggot juga menerima pasokan sampah organik dari dapur SPPG untuk diolah sebagai pakan maggot. Namun, dalam pelaksanaannya masih terdapat sejumlah tantangan, terutama pada proses pemilahan sampah karena masih ditemukan limbah yang bercampur plastik kemasan makanan.
“Sampah yang datang kadang masih ada plastiknya, sehingga harus dipisahkan terlebih dahulu sebelum diberikan kepada maggot,” katanya.
Selain itu, kondisi media budidaya harus dijaga agar tidak terlalu basah. Jika kadar air terlalu tinggi, maggot berpotensi keluar dari wadah sehingga dapat mengganggu proses pembesaran.
Setelah dipanen, sebagian maggot dikeringkan atau digoreng terlebih dahulu untuk mengurangi kadar air sebelum disimpan di dalam drum tertutup. Cara tersebut membuat maggot dapat bertahan hingga berbulan-bulan sebagai cadangan pakan ternak.
“Kami simpan dalam drum tertutup supaya tidak terkontaminasi lalat. Jadi saat dibutuhkan masih bisa digunakan,” ujarnya.
Ika mengakui budidaya maggot merupakan pengalaman baru bagi kelompoknya sehingga seluruh anggota masih terus mempelajari siklus hidup lalat BSF agar produksi tetap stabil. Saat ini, sebagian maggot sengaja dibiarkan berkembang menjadi lalat untuk menghasilkan telur sehingga siklus budidaya dapat terus berlanjut.
Kelompok juga tengah mencari solusi untuk mengatasi serangan burung gereja dan tikus yang menjadi hama utama. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari pemasangan jaring pelindung hingga perbaikan konstruksi rumah budidaya.
Ke depan, Kelompok Tani Suka Maju berharap adanya dukungan lanjutan untuk pengembangan fasilitas pengeringan dan pembuatan pelet berbahan maggot agar hasil panen memiliki nilai tambah.
Melalui bantuan Rumah Budidaya Maggot dan tempat perkembangbiakan lalat BSF dari SKK Migas PetroChina International Jabung Ltd, program ini diharapkan terus berkembang sebagai pusat pengolahan sampah organik terintegrasi dengan SPPG, mendukung ketahanan pakan ternak, sekaligus membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat di Kabupaten Tanjung Jabung Timur. (adv)
Simak informasi lainnya di media sosial Facebook, Instagram, Thread dan X Tribun Jambi
Baca juga: Viral Video Dua Pria Dilakban Disebut Maling Mirip Teletubbies, Pemilik Rekaman Beri Klarifikasi
Baca juga: Mahfud MD Soroti Putusan Kasus Nadiem Makarim, Pertanyakan Perubahan Dakwaan hingga Vonis