TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan pada perdagangan Kamis (2/7/2026), nyaris tembus Rp18.000 per dolar AS.
Pelemahan mata uang rupiah karena memburuknya data manufaktur Indonesia, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal, hingga pelaku pasar yang menanti rilis data ketenagakerjaan Amerika Serikat.
Rupiah pada perdagangan sore ini ditutup melemah 43 poin ke level Rp 17.995 per dolar AS dari penutupan sebelumnya di Rp 17.950 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Ibrahim Assuaibi mengatakan, kepercayaan pelaku pasar terhadap Indonesia dinilai menghadapi ujian cukup berat setelah munculnya sejumlah sentimen negatif memasuki kuartal II, mulai dari kasus korupsi tingkat tinggi, kekhawatiran terhadap kondisi fiskal pemerintah setelah neraca perdagangan indonesia bulan Mei defisit, Inflasi melonjak hingga penundaan pengumuman tentang pasar modal Indonesia oleh penyedia indeks global MSCI.
Baca juga: Rupiah Kembali ke Rp18.000? Siang Ini Sudah di Posisi Rp17.999 per Dolar AS
"Purchasing Managers' Index (PMI) yang dirilis S&P Global menunjukkan PMI Indonesia berada di 46,9 pada Juni 2026. Ini adalah tingkat penurunan yang paling kuat dalam setahun, pesanan baru yang masuk kembali menurun menyebabkan penurunan volume output terbesar sejak bulan April 2025," jelas Ibrahim kepada Wartawan, Kamis (2/7/2026).
Menurut S&P Global, penurunan tersebut mencerminkan memburuknya kondisi operasional sektor manufaktur Indonesia.
Melemahnya permintaan terhadap produk manufaktur membuat pesanan baru kembali turun untuk pertama kalinya dalam tiga bulan, sekaligus menjadi laju penurunan tercepat dalam setahun.
Selain itu, Ibrahim menyoroti proyeksi lembaga pemeringkat Fitch Ratings yang memperkirakan cadangan devisa Indonesia pada 2026 hanya mampu membiayai sekitar 4,9 bulan kebutuhan pembayaran eksternal berjalan, sedikit di bawah median negara berperingkat BBB sebesar lima bulan.
Fitch menilai penurunan cadangan devisa dipengaruhi memburuknya terms of trade akibat kenaikan harga energi global, intervensi Bank Indonesia di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas rupiah, serta pembayaran utang luar negeri.
Dari eksternal, pasar juga mencermati sejumlah data ekonomi Amerika Serikat. Data ADP Employment Change menunjukkan penambahan tenaga kerja sektor swasta sebanyak 98 ribu pada Juni, lebih rendah dari ekspektasi pasar sebesar 113.000 dan turun dibandingkan realisasi Mei yang mencapai 122.000.
Sementara itu, indeks aktivitas manufaktur ISM PMI turun menjadi 53,3 pada Juni dari 54,0 pada bulan sebelumnya, juga berada di bawah perkiraan pasar.
"Perhatian pasar saat ini beralih ke rilis data Nonfarm Payrolls AS nanti malam, dengan ekspektasi bahwa ekonomi AS akan meningkatkan angkatan kerjanya sebesar 110.000. Sementara Tingkat Pengangguran diperkirakan tetap tidak berubah di 4,3 persen," ujar Ibrahim.
Untuk perdagangan Jumat (3/7/2026), Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan fluktuatif dengan kecenderungan melemah di kisaran Rp 17.990 - Rp 18.050 per dolar AS.