TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Bagi sebagian orang, secangkir kopi sudah menjadi bagian dari rutinitas harian. Ada yang meminumnya untuk mengusir kantuk, menemani bekerja, hingga sekadar menikmati waktu santai.
Namun, tidak sedikit yang mengeluhkan menjadi lebih sering buang air kecil atau beser setelah minum kopi.
Menurut Dokter Spesialis Urologi Subspesialis Fungsional dan Neurologi Konsultan, dr. Fina Widia, Sp.U., Subsp. F.F.N(K), kondisi tersebut memang dapat terjadi dan berkaitan dengan kandungan kafein di dalam kopi.
Bahkan, efek serupa juga dapat muncul setelah mengonsumsi minuman atau makanan lain yang mengandung kafein.
Dr. Fina menjelaskan, banyak orang hanya mengaitkan keluhan sering buang air kecil dengan kopi.
Padahal, kafein juga terdapat pada teh hijau, matcha, hingga cokelat.
Baca juga: 4 Bahan yang Sebaiknya Tidak Dicampurkan ke Kopi Menurut Ahli Gizi
Kandungan tersebut bersifat diuretik, yaitu merangsang tubuh memproduksi urine dalam jumlah lebih banyak.
"Dan perlu diingat, nggak cuma kopi sebenarnya, green tea, teh, matcha sekarang juga lagi hit. Terus jangan lupa coklat. Dan ini nggak hanya dalam bentuk minuman sebenarnya. Jadi kalau bisa makanan juga yang mengandung itu bisa memiliki arah yang sama," ujarnya pada media briefing di Jakarta Pusat, Kamis (2/7/2026).
Karena produksi urine meningkat, seseorang menjadi lebih sering ingin buang air kecil setelah mengonsumsi makanan atau minuman berkafein.
Selain meningkatkan produksi urine, kopi juga dapat membuat kandung kemih menjadi lebih sensitif pada sebagian orang.
Akibatnya, keinginan buang air kecil muncul lebih cepat meski kandung kemih belum terisi penuh.
Menurut dr. Fina, kondisi ini terutama dirasakan oleh orang yang memang sensitif terhadap efek kafein.
"Selain dari itu, kopi juga bisa mengiritasikan kemih. Jadi pada beberapa orang yang sensitif. Nah ini juga, selain karena memang produksi urin yang jadi banyak, ini juga mengiritasikan kemih,"lanjutnya.
Karena itu, tidak semua orang akan mengalami keluhan dengan tingkat yang sama setelah minum kopi.
Meski dapat memicu keluhan beser, dr. Fina mengatakan tidak semua orang harus berhenti mengonsumsi kopi.
Menurutnya, yang terpenting adalah mengetahui batas toleransi tubuh masing-masing.
Bagi mereka yang sulit beraktivitas tanpa kopi, pilihan seperti kopi tanpa kafein (decaffeinated) dapat dicoba untuk mengurangi keluhan.
"Mungkin kita jelaskan kalau, mungkin keluhan ini memang disebabkan karena konsumsi kopi yang banyak, tinggal dia mencari keseimbangan antara penyeimbangnya," kata dr Fina.
Ia menambahkan, hingga saat ini tidak ada obat yang dapat menghilangkan efek kafein terhadap kandung kemih.
Karena itu, setiap orang perlu mencari sendiri jumlah konsumsi kopi yang masih nyaman bagi tubuhnya.
Dr. Fina juga mengingatkan masyarakat tidak perlu terlalu khawatir mengalami dehidrasi hanya karena minum kopi, selama kondisi ginjal dan tubuh dalam keadaan sehat.
Menurutnya, tubuh memiliki mekanisme alami untuk menjaga keseimbangan cairan.
Saat cairan berlebih, ginjal akan mengeluarkannya melalui urine.
Sebaliknya, ketika tubuh kekurangan cairan, tubuh akan berusaha mempertahankan cadangan cairan yang ada.
Karena itu, menjaga pola minum yang cukup dan mengenali respons tubuh setelah mengonsumsi kopi menjadi langkah yang lebih penting dibandingkan menghentikan konsumsi kopi sepenuhnya.
(Tribunnews.com/ Aisyah Nursyamsi)