Penjelasan BMKG soal Surabaya Bediding hingga Agustus, Suhu Malam Hari Capai 18 Derajat Celsius
Ani Susanti July 02, 2026 07:14 PM

TRIBUNJATIM.COM - Warga Surabaya dan wilayah sekitarnya belakangan ini merasakan udara malam hingga pagi yang terasa lebih menusuk dibanding biasanya.

Suhu udara tercatat mengalami penurunan hingga menyentuh kisaran 18 derajat Celsius dalam beberapa hari terakhir.

Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Juanda menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan bagian dari fenomena bediding, yakni periode udara dingin yang umum terjadi menjelang puncak musim kemarau.

Baca juga: Perbedaan El Nino dan Musim Kemarau Menurut BMKG, Dua Fenomena yang Sering Disamakan

Prakirawan BMKG Juanda, Trya Chandra, menyebutkan bahwa fenomena ini dipengaruhi oleh masuknya angin muson timur dari Australia yang membawa massa udara lebih kering dan dingin. 

Selain itu, kondisi langit yang cerah tanpa banyak awan turut mempercepat pelepasan panas dari permukaan bumi ke atmosfer pada malam hari.

"Juga akibat pelepasan radiasi matahari ke atmosfer secara maksimal karena tidak adanya tutupan awan saat musim kemarau," kata Trya saat dikonfirmasi, Kamis (2/7/2026).

Ia menambahkan, tingkat penurunan suhu pada periode bediding tidak seragam di setiap wilayah. Faktor seperti kondisi cuaca lokal, kecepatan angin, hingga karakteristik geografis ikut memengaruhi besarnya penurunan suhu.

Di wilayah dataran rendah, suhu udara pada malam hingga dini hari umumnya berada di kisaran 18 hingga 22 derajat Celsius. Sementara di daerah dataran tinggi, suhu dapat turun lebih rendah lagi, yakni sekitar 15 hingga 18 derajat Celsius, bahkan berpotensi lebih dingin dalam kondisi tertentu.

Berlangsung Sampai Agustus

BMKG memperkirakan fenomena udara dingin ini masih akan berlangsung hingga mencapai puncak musim kemarau pada Agustus 2026.

Meski terasa lebih dingin dari biasanya, kondisi ini disebut masih tergolong normal dalam pola iklim tahunan Indonesia.

Seiring kondisi tersebut, BMKG mengimbau masyarakat untuk lebih waspada terhadap perubahan suhu harian, terutama saat beraktivitas pada malam dan pagi hari.

Penggunaan pakaian hangat dianjurkan untuk menjaga kondisi tubuh tetap stabil.

Masyarakat juga disarankan menjaga daya tahan tubuh dengan pola hidup sehat, seperti mengonsumsi makanan bergizi, beristirahat cukup, serta rutin berolahraga.

BMKG turut mengingatkan potensi gangguan kesehatan seperti ISPA, flu, dan batuk yang dapat meningkat saat suhu udara menurun.

Selain itu, petani di wilayah dataran tinggi diminta mewaspadai kemungkinan terjadinya embun beku yang dapat berdampak pada tanaman.

BMKG juga menekankan pentingnya masyarakat untuk terus memantau pembaruan informasi cuaca resmi sebelum melakukan aktivitas di luar ruangan, guna mengantisipasi perubahan kondisi atmosfer secara tiba-tiba.

Surabaya Susun Konsep Drainase Berkelanjutan untuk Waspadai Banjir dan Suhu Ekstrem

Pemerintah Kota Surabaya mulai menyusun strategi jangka panjang untuk menghadapi ancaman banjir dan suhu ekstrem akibat perubahan iklim. 

Salah satu langkah yang disiapkan adalah penerapan sistem drainase berkelanjutan atau Sustainable Drainage Systems (SuDS) sebagai bagian dari pembangunan kota yang lebih tangguh dan ramah lingkungan.

Upaya tersebut diawali dengan penyusunan peta jalan (road map) kota berkelanjutan melalui kolaborasi antara Pemkot Surabaya dan Fakultas Teknik Sipil dan Perencanaan (FTSP) Universitas Kristen Petra.

Kolaborasi itu diwujudkan dalam workshop bertajuk “Blue-Green Infrastructure (BGI) in Surabaya” yang digelar di Kebun Raya Mangrove Surabaya, Kamis (18/6/2026).

Konsep BGI sendiri merupakan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan pengelolaan air (blue) dan ruang hijau (green) sebagai solusi berbasis alam (nature-based solutions). 

Penerapannya di lapangan dapat berupa taman air, atap hijau, sengkedan, hingga sistem drainase berkelanjutan.

Baca juga: Ramalan Cuaca Jatim Kamis 2 Juli 2026 Didominasi Cerah hingga Berawan, Surabaya Capai 31 Derajat

Dekan FTSP UK Petra, Rully Damayanti mengungkapkan bahwa Surabaya saat ini menghadapi tantangan serius terkait minimnya lahan terbuka kota. Kondisi tersebut membuat Kota Pahlawan rentan terhadap bencana ekologis akibat perubahan iklim.

"Workshop ini memperkenalkan konsep BGI yang relatif masih baru di Surabaya, sekaligus memulai penyusunan peta jalan penerapannya demi mewujudkan kota yang lebih tangguh dan berkelanjutan," ujar Rully.

Dipilihnya Kebun Raya Mangrove Surabaya sebagai lokasi workshop bukan tanpa alasan. Kawasan pesisir ini dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi proyek percontohan penerapan konsep infrastruktur hijau-biru di Surabaya.

Untuk mematangkan konsep, UK Petra menerjunkan enam dosen lintas jurusan guna mendampingi sekitar 30 peserta workshop. 

Para peserta merupakan perwakilan lintas sektor dari berbagai Organisasi Perangkat Daerah (OPD) Pemkot Surabaya, mulai dari bidang tata ruang, hidrologi, hingga mitigasi kota, serta kalangan akademisi dan organisasi masyarakat sipil.

Kegiatan yang dibuka langsung oleh Ketua Tim Penggerak PKK Kota Surabaya, Rini Indriyani, S.Farm., Apt., ini diharapkan menjadi momentum penguat kolaborasi antara birokrasi dan akademisi.

Rully menegaskan, keterlibatan aktif ini merupakan komitmen nyata perguruan tinggi dalam menghadirkan solusi konkret bagi masyarakat.

"Melalui kolaborasi dengan Pemkot Surabaya, kami berharap penyusunan peta jalan ini menjadi langkah awal yang penting untuk mengembangkan Surabaya sebagai kota yang tangguh, berkelanjutan, dan ramah lingkungan," pungkasnya.

Agenda ini menghadirkan narasumber utama Prof. Robby Soetanto, pakar dari Loughborough University, Inggris Raya.

Alumni Teknik Sipil UK Petra yang sebelumnya sukses mendampingi Pemkot Bandung dan Semarang dalam menyusun peta jalan serupa ini menekankan pentingnya menjaga keseimbangan tiga aspek utama perkotaan.

“Pembangunan kota perlu memperhatikan keseimbangan aspek ekonomi, sosial, dan lingkungan. Pendekatan berbasis alam menjadi semakin penting untuk memastikan kota tetap layak huni di masa depan,” kata Prof. Robby.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.