Tribunlampung.co.id, Bandung - Misteri di balik drama penangkapan Taufik Hidayat (30), buronan kasus penganiayaan sadis dan penyekapan tiga tahun terhadap kekasihnya, YTR (29), akhirnya dikuliti habis.
Baca juga: 21 Adegan Kekerasan Terungkap di Rekonstruksi Kasus Taufik Hidayat
Rahmat Hidayat (55), warga Kampung Cikatul, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, membongkar draf kongkalikong yang sempat dirancang oleh mantan bos pelaku, Dadang Ahyar Ismail (53).
Pria yang akrab disapa Mang Jabrig ini mengaku terkejut bukan main lantaran rumah pribadinya di kawasan Pacet nyaris dijadikan sebagai "save house" atau tempat persembunyian darurat untuk menyembunyikan sang buronan dari kejaran polisi.
Kepada awak media, Mang Jabrig membeberkan kronologis lengkap bagaimana Dadang mencoba menitipkan Taufik, hingga akhirnya berbalik arah mengontak polisi demi mengeklaim draf skenario penyelamatan.
"Waktu sebelum penangkapan, Selasa (23/6/2026) pagi, Pak Dadang sempat menelepon saya tapi tidak keangkat. Terus dia kirim pesan WA, nanya: 'Mang Jabrig ada di rumah enggak? Ada perlu, nitip orang dua hari'. Ya saya jawab silakan saja," kenang Rahmat alias Mang Jabrig, Kamis (2/7/2026), dilansir TribunJabar.id.
Tak berselang lama setelah pesan singkat tersebut dikirim, Dadang datang ke kediaman Mang Jabrig dengan memboyong dua orang rekannya, yakni Ujeir dan Taufik Hidayat alias Opik.
Saat pertama kali menginjakkan kaki di rumahnya, wajah Taufik dalam kondisi ditutup rapat menggunakan masker atau kain.
Kecurigaan Mang Jabrig akhirnya terbukti saat penutup wajah tersebut dibuka. Ia langsung mengenali draf wajah Taufik yang fotonya sudah viral di platform media sosial TikTok sebagai pelaku KDRT sadis.
"Pas dibuka tutup mukanya, saya kaget luar biasa. Ternyata dia Taufik yang viral di TikTok. Di situ, Taufik sudah frustrasi, dia bilang pilihannya cuma dua: ingin bunuh diri atau nekat kabur sekalian ke Pulau Sumatera," papar Jabrig.
Melihat situasi genting tersebut, Mang Jabrig mencoba mengambil pendekatan persuasif untuk merayu pelaku agar membatalkan niat nekatnya tersebut.
"Saya bilang ke dia, daripada kamu kabur-kabur terus, nanti malah ketemu polisi di jalan terus 'dibolongin' (ditembak), mending menyerahkan diri. Dia akhirnya ketakutan dan luluh."
"Tapi dia minta syarat, maunya diantar langsung untuk bertemu Kang Dedi Mulyadi (KDM), Gubernur Jawa Barat. Kami bertiga sempat sepakat untuk itu dan mau sewa mobil Grab tetangga," urainya.
Namun, rencana pengantaran ke hadapan Gubernur Jabar itu urung terlaksana. Pada hari yang sama, jajaran kepolisian langsung melakukan penyergapan kilat dan menciduk Taufik Hidayat di kawasan Ciparay, Kabupaten Bandung, setelah Dadang diam-diam mengubah keputusan dan membocorkan posisi pelaku ke aparat.
Langkah Dadang yang mendadak "balik arah" inilah yang memicu kekecewaan mendalam di hati Mang Jabrig.
Ia menilai mantan bos pelaku tersebut bertindak egois dan tidak menghargai keberadaannya yang sejak awal sudah berupaya meredam emosi pelaku di dalam rumah.
"Awalnya saya menghargai Pak Dadang, makanya saya terima di rumah. Saya ini juga dekat dengan Pak Hendi (anggota Polisi). Tapi pada akhirnya, dia seolah tidak menghargai saya sama sekali."
"Seolah-olah Pak Dadang yang punya panggung sendirian, seolah dia yang paling punya lakon menyelamatkan situasi ini. Makanya, persoalan ini mau saya jelaskan langsung ke Kang Dedi Mulyadi," pungkas Mang Jabrig dengan nada dongkol.