TRIBUNNEWSMAKER.COM - Aktivitas vulkanik Gunung Merapi yang berada di perbatasan Kabupaten Klaten, Sleman, Magelang, dan Boyolali masih terpantau cukup tinggi.
Meski secara visual puncak gunung terlihat jelas pada Kamis (2/7/2026), masyarakat di wilayah lereng Merapi, khususnya Kabupaten Klaten, tetap diminta meningkatkan kewaspadaan menyusul masih berlangsungnya aktivitas vulkanik di gunung tersebut.
Berdasarkan laporan harian yang dirilis melalui laman magma.esdm.go.id, dalam periode pengamatan pukul 00.00 hingga 06.00 WIB, aktivitas kegempaan Gunung Merapi masih didominasi gempa guguran dan gempa hybrid.
Selama enam jam pengamatan, tercatat sebanyak 31 kali gempa guguran dengan amplitudo 2–11 mm dan durasi 56,55 hingga 152,59 detik.
Selain itu, terekam 22 kali gempa hybrid atau fase banyak dengan amplitudo 2–45 mm dan durasi 25,82 hingga 53,14 detik.
Petugas juga mencatat dua kali gempa tektonik jauh dengan amplitudo 4 mm dan durasi 63,05 hingga 87,01 detik.
Meski demikian, pada periode pengamatan tersebut guguran lava pijar tidak teramati.
Baca juga: Ruben Onsu Sebar Bukti Pernah Dibuntuti oleh Giorgio Antonio saat Ketemu Anak: Saya Orangtua Kandung
Secara visual, kondisi Gunung Merapi tampak cukup jelas. Asap putih terlihat keluar dari kawah utama dengan intensitas tipis dan ketinggian sekitar 25 meter dari puncak.
Cuaca di sekitar gunung dilaporkan cerah dengan angin bertiup tenang ke arah utara. Suhu udara berkisar antara 14,3 hingga 16 derajat Celsius, dengan kelembapan mencapai 92,2–93 persen.
Hingga saat ini, status aktivitas Gunung Merapi masih berada di Level III (Siaga).
Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta mengingatkan bahwa potensi bahaya masih berupa guguran lava dan awan panas, terutama di sektor selatan hingga barat daya, meliputi Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng sejauh maksimal 7 kilometer.
Sementara di sektor tenggara, potensi bahaya mencakup Sungai Woro hingga radius 3 kilometer dan Sungai Gendol sejauh 5 kilometer.
BPPTKG juga mengingatkan bahwa apabila terjadi letusan eksplosif, lontaran material vulkanik dapat menjangkau radius hingga 3 kilometer dari puncak Merapi.
Berdasarkan hasil pemantauan, suplai magma ke Gunung Merapi masih berlangsung sehingga berpotensi memicu terjadinya guguran lava maupun awan panas di kawasan rawan bencana.
Karena itu, masyarakat di wilayah lereng Merapi, termasuk Kabupaten Klaten, diimbau untuk tidak melakukan aktivitas di daerah potensi bahaya.
Baca juga: Rumah Angel Lelga Kemalingan, Pelakunya Ternyata ART Sendiri, Topi Branded hingga Vitamin Hilang
Warga juga diminta mewaspadai ancaman lahar dan awan panas guguran, terutama saat hujan turun di kawasan Gunung Merapi.
Selain itu, masyarakat di sekitar Merapi diharapkan tetap mengantisipasi kemungkinan gangguan akibat hujan abu vulkanik apabila terjadi erupsi.
BPPTKG menegaskan akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Merapi.
Apabila terjadi peningkatan aktivitas yang signifikan, status gunung akan segera dievaluasi dan disampaikan kepada masyarakat.
(Tribunnewsmaker.com/TribunJogja.com/HAS)