Jangan Bedong Bayi Terlalu Kencang! Dokter Ortopedi Ungkap Risiko Sendi Panggul Bergeser
Anita K Wardhani July 03, 2026 09:38 AM

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Aisyah Nursyamsi

 

 

TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Tradisi membedong bayi masih banyak dilakukan oleh orang tua di Indonesia. 

Bahkan, tak sedikit yang membungkus tubuh bayi hingga kedua kakinya lurus dan terikat rapat karena dianggap membuat bayi lebih nyaman atau agar bentuk kakinya bagus.

Baca juga: Biarkan Anak Berjalan Sesuai Tahapan, Tak Perlu Baby Walker, Dokter Bedah Ortopedi Ungkap Berisiko

Padahal, cara tersebut justru berisiko mengganggu perkembangan sendi panggul bayi.

Dokter Spesialis Bedah Ortopedi dan Traumatologi Eka Hospital Cibubur, dr. Gabriel Klemens Wienanda, M.Ked(Surg), Sp.OT, AIFO-K, mengingatkan bedong yang terlalu ketat, terutama pada bagian kaki, sebaiknya dihindari.

Menurutnya, bagian atas tubuh bayi masih boleh dibedong agar terasa hangat dan nyaman, tetapi area kaki harus tetap longgar agar panggul dapat bergerak secara alami.


Bedong Ketat Masih Banyak Ditemukan

Dr. Gabriel mengatakan anggapan bahwa bedong ketat aman karena sudah dilakukan sejak zaman dulu masih sering dijumpai.

Namun, menurutnya, kebiasaan yang telah lama dilakukan bukan berarti bebas dari risiko.

"Kalau mau bedong, bedongnya yang atasnya dibedong, bawahnya loose," ujar dr. Gabriel dalam media briefing di Jakarta Selatan, Rabu (1/7/2026).

Ia mengungkapkan, kasus gangguan panggul akibat posisi bedong yang tidak tepat masih ditemukan, bahkan di kota besar.

Menurutnya, persoalan ini tidak hanya terjadi karena kurangnya akses informasi, tetapi juga karena masih banyak orang tua yang mempertahankan kebiasaan lama.

Sendi Panggul Keluar

Dr. Gabriel mengatakan, praktik membedong bayi dengan posisi kaki lurus dan terikat rapat masih dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk mereka yang memiliki tingkat pendidikan tinggi.

Ia bahkan mengaku masih menangani pasien dengan gangguan panggul akibat posisi bayi yang tidak tepat saat dibedong.

"Jadi masih banyak. Di Jakarta aja masih banyak. Makanya di Jakarta kasusnya masih banyak yang kita tangani kayak gini. Baru dua minggu lalu ada yang ditangani kasus (sendi) panggulnya keluar," katanya.

Karena itu, ia mengimbau orang tua mulai mengubah cara membedong bayi agar tidak memberikan tekanan pada sendi panggul yang masih berkembang.

Jangan Asal Percaya Sendi yang Dikletek

Dalam kesempatan yang sama, dr. Gabriel juga menyinggung kebiasaan sebagian orang yang sengaja membunyikan sendi atau melakukan manipulasi tulang (kletek-kletek) untuk menghilangkan pegal.

Menurutnya, rasa nyaman yang muncul setelah tindakan tersebut bukan berarti masalah pada sendi telah teratasi.

Ia menjelaskan, tubuh memang dapat melepaskan hormon yang membuat seseorang merasa lebih rileks setelah mendapat rangsangan tertentu. Namun, efek tersebut hanya bersifat sementara.

"Enak di saat itu. Tapi apakah dia memperbaiki masalah? Tidak. Jadi sendi itu dirancang tidak boleh bunyi," tegasnya.

Karena itu, ia mengimbau masyarakat agar tidak sembarangan melakukan manipulasi pada sendi.

Dianjurkan memilih berkonsultasi kepada tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi apabila mengalami keluhan pada tulang maupun persendian.

Menurut dr. Gabriel, baik cara membedong bayi maupun penanganan keluhan sendi sama-sama membutuhkan pengetahuan yang benar agar tidak menimbulkan masalah kesehatan di kemudian hari.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.