Laporan Wartawan TribunLombok.com, Ahmad Wawan Sugandika
TRIBUNLOMBOK.COM, LOMBOK TENGAH - Kondisi Gedung Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) di Kabupaten Lombok Tengah kini tengah menjadi sorotan.
Gedung yang seharusnya menjadi pusat pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) tersebut diduga terbengkalai dan tidak dimanfaatkan secara optimal oleh pihak terkait.
Berdasarkan pantauan langsung di lokasi pada pukul 09.00 Wita, tampak pemandangan yang memprihatinkan di area gedung.
Sejumlah fasilitas pendukung terlihat tidak terawat, bahkan banyak ditumbuhi tumbuhan menjalar yang menutupi bagian depan hingga belakang gedung.
Menanggapi kondisi tersebut, Kepala Dinas Koperasi dan UKM Lombok Tengah, Ikhsan, memberikan penjelasannya.
Ia berdalih bahwa kendala utama dalam pemeliharaan kebersihan gedung dan halaman tersebut adalah tidak tersedianya anggaran yang memadai dari pemerintah.
Ikhsan membantah keras tudingan bahwa gedung PLUT tersebut sudah tidak beroperasi lagi. Ia menegaskan bahwa setiap hari tetap ada aktivitas yang berlangsung di sana, bahkan mengklaim gedung tersebut pernah meraih penghargaan tingkat nasional.
“Siapa yang bilang gedung itu terbaik nasional kok bisa tidak beroperasi ngawur aja orang yang mengatakan itu. Orang tiap hari ada aktivitas,” ucap Ikhsan setelah dikonfirmasi, Jumat (3/7/2026).
Baca juga: Dekranasda NTB Perluas Akses Pasar UMKM Lewat Kolaborasi dengan UNIQLO
Terkait dengan banyaknya tumbuhan liar yang merusak estetika gedung, Ikhsan kembali menekankan masalah biaya operasional.
Menurutnya, kondisi tersebut murni karena ketiadaan dana pembersihan yang dialokasikan untuk instansinya.
“Itu di depan karena kita tidak memiliki biaya pembersihan dan lainnya. Itu perlu didorong oleh pemerintah,” tambahnya.
Lebih lanjut, Ikhsan memaparkan bahwa gedung PLUT tersebut masih aktif digunakan untuk berbagai kegiatan strategis. Kegiatan yang dimaksud meliputi pelatihan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP), pembinaan UMKM, hingga pertemuan aneka bisnis.
Ia juga menyebutkan bahwa gedung tersebut berfungsi sebagai inkubator bisnis dan menampung kantor Badan Standardisasi Nasional (BSN).
Ikhsan mengklaim fungsi produktif gedung masih berjalan dengan adanya kegiatan ekspor komoditas lokal ke luar negeri.
“Ada aktivitas di sana, baru-baru ini kita ekspor ke Prancis seperti rotan dan ketak dan yang terpenting masih berfungsi di sana,” ujar Ikhsan.
Namun, keterangan berbeda disampaikan oleh salah satu warga yang tinggal di sekitar gedung PLUT tersebut. Warga yang tidak disebutkan namanya itu mengungkapkan bahwa gedung tersebut terkesan sudah tidak aktif karena aktivitas staf yang sudah berkurang drastis.
“Kemarin aja wifinya dicabut karena sudah tidak aktif (sudah pindah) kerja di sini,” ungkap warga tersebut.
Dia juga menambahkan bahwa keramaian di gedung itu hanya terjadi pada saat-saat tertentu saja, tidak seperti layaknya kantor pelayanan publik setiap hari. Gedung tersebut dinilai hanya hidup saat ada agenda formal dari kedinasan.
“Kalau untuk sehari-hari hanya digunakan jika ada pelatihan dan pembinaan saja dek,” pungkasnya.
(*)