Bagi banyak orang, ramyeon adalah produk mi instan biasa. Namun bagi Ji Young-jun, pionir kritikus ramen di Korea Selatan ini, ramyeon mengungkap sejarah hingga fenomena budaya yang berkembang pesat.
Perjalanan Ji mengenal hingga akhirnya jatuh cinta dengan ramyeon berawal dari rasa frustrasinya menghadapi kehidupan. Usai gagal berturut-turut dalam ujian masuk perguruan tinggi Korea, ia mendaftar di militer.
Saat menjelajahi lorong-lorong toko militer itulah ia menemukan inspirasi yang tak terduga. "Sebelum menyelesaikan masa dinas saya, saya menetapkan tujuan sederhana untuk diri saya sendiri: 'Mari kita cicipi setiap mi instan yang tersedia di sini,'" kata Ji seperti dikutip dari (28/6/2026).
Ji mengatakan tujuan sederhana itu benar-benar membuatnya bersemangat. Akhirnya pada tahun 2013, Ji mulai membagikan ulasan detailnya di media sosial.
Ia juga terinspirasi Hans Lienesch, sosok di balik The Ramen Rater asal Amerika Serikat, yang terkenal berkat ulasannya terhadap berbagai produk mi instan di dunia.
Menurut Ji, Korea Selatan kekurangan kritikus independen dan profesional yang berdedikasi pada bidang ini. "Orang Korea suka mi instan, dan rasa serta kualitas mi kami adalah yang terbaik di dunia, namun tidak ada seorang pun di Korea yang secara profesional berdedikasi untuk memperkenalkannya. Saya berpikir, 'Jika tidak ada Hans Lienesch di Korea, saya ingin maju dan menjadi orang itu,'" ujarnya.
Ji akhirnya nekat keluar dari pekerjaan utamanya sebagai pengajar. Sejak itu, ia telah mengulas lebih dari 2.300 varietas mi domestik dan internasional!
Penelitiannya berpuncak pada publikasi tahun 2024 berjudul The Chronicles of 'Ramyeon' - A History of Korean Instant Noodles. Publikasi itu bahkan telah diterjemahkan dan diterbitkan di Jepang dan Rusia. Tahun ini ia juga meluncurkan publikasi Ramyeon with Science and Common Sense.
Perkembangan ramyeon di Korea Selatan
Ji mengatakan meskipun mi instan ditemukan pada 1958 oleh pengusaha Jepang Momofuku Ando untuk mengatasi kelangkaan makanan pasca perang, makanan tersebut berkembang berbeda ketika Samyang Foods memperkenalkannya ke Korea lima tahun kemudian.
Orang Korea yang doyan rasa pedas secara aktif mendorong batas-batas rasa pedas. Preferensi kuliner ini meletakkan dasar bagi produk-produk legendaris dan terlaris seperti Shin Ramyun dari Nongshim (1986) dan Buldak Ramen dari Samyang (2012).
"Saya mengaitkan kesuksesan besar mi instan Korea dengan dua faktor utama: keseimbangan rasa dan kualitas yang luar biasa, dan cara mi tersebut secara harmonis mengintegrasikan rasa pedas," kata Ji.
Ia melanjutkan, "Konsumen global mulai menyebut mi pedas dan mengenyangkan ini sebagai 'ramyeon' secara khusus untuk membedakannya dari varietas lain."
Saat ini, pasar mi instan global juga dipengaruhi oleh unsur Korea, menurutnya. Indomie, misalnya, menggunakan brand ambassador girl group asal Korea Selatan, New Jeans untuk varian ramyeon.
Yang mengejutkan, bahkan Korea Utara telah meniru Shin Ramyun dan Buldak untuk diekspor ke China dengan nama lokal seperti "Spicy Kimchi Mixed Noodles".
Apakah ramyeon tidak sehat?
Penelitian Ji yang ekstensif juga membuatnya menjadi pembela setia nilai gizi mi tersebut. Ia berpendapat bahwa kampanye kesehatan modern telah secara tidak adil menjelekkan makanan tersebut.
"Reputasi ramyeon sebagai makanan tidak sehat di zaman modern bukan karena ramyeon itu sendiri beracun, tetapi karena menjadi kambing hitam untuk penyakit gaya hidup modern yang lahir dari terlalu banyak kalori dan kurangnya olahraga," jelasnya.
Ia melanjutkan, "Saya tidak mengklaim itu adalah makanan sehat, tetapi nilai sosioekonominya sebagai makanan yang dapat Anda nikmati dengan harga kurang dari satu dolar sangat besar."
"Banyak profesional di industri mi Korea bekerja tanpa lelah saat ini untuk mengembangkan produk berkualitas tinggi dan lezat dengan harga rendah. Saya berharap konsumen global menyadari peran besar yang telah dimainkannya dalam menstabilkan ketahanan pangan dan biaya hidup di seluruh dunia," ungkap Ji.
Tren ramyeon baru setelah Buldak
Ji juga berbicara soal inovasi ramyeon setelah Buldak yang terkenal akan rasa pedasnya. Ji merekomendasikan lini pasta dan spageti fusion baru Korea.
Inovasi seperti seri pasta Tangle dari Samyang, Shin Ramyun Toomba dan rasa Rosé dari Nongshim, dan seri Arih Modern Noodle dari Paldo - yang dikembangkan bekerja sama dengan BTS. Semua produk ini menunjukkan keserbagunaan industri ini.
"Untuk menarik konsumen internasional, industri mi instan Korea mengambil inspirasi dari makanan favorit Barat seperti pasta dan spageti. Produk yang dihasilkan sangat lezat dan memiliki kualitas yang luar biasa tinggi," katanya.
Ke depannya, Ji ingin membangun museum resmi dan berharap dapat mendirikan departemen khusus di universitas untuk memberikan fondasi akademis yang tepat bagi industri ini.
Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa mi instan diakui bukan hanya sebagai makanan cepat saji, melainkan juga sebagai bagian penting dari budaya modern.
"Bahkan 10 atau 20 tahun dari sekarang, saya ingin aktif bekerja untuk berbagi nilai dan pesona sejati mi dengan dunia," tutupnya.





