Gelombang Panas Mematikan Pindah ke AS, Suhu Ekstrem Ancam Jutaan Warga Amerika
Wahyu Gilang Putranto July 03, 2026 04:15 PM

TRIBUNNEWS.COM – Gelombang panas ekstrem yang sebelumnya menewaskan lebih dari 1.300 orang di Eropa kini mulai menghantam Amerika Serikat. 

Jutaan warga di sepanjang Pantai Timur AS menghadapi ancaman suhu berbahaya yang diperkirakan bertahan selama beberapa hari ke depan.

Badan Layanan Cuaca Nasional Amerika Serikat (NWS) mengeluarkan peringatan panas ekstrem untuk sejumlah wilayah padat penduduk seperti Washington DC, Philadelphia, hingga New York.

Dalam peringatannya, NWS menyebut suhu udara diperkirakan mencapai 100 derajat Fahrenheit atau sekitar 38 derajat Celsius. 

Bahkan, indeks panas atau suhu yang dirasakan tubuh akibat kombinasi suhu dan kelembapan diprediksi bisa menembus 115 derajat Fahrenheit atau sekitar 46 derajat Celsius saat akhir pekan perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat pada 4 Juli.

Situasi ini memicu kekhawatiran besar karena jutaan warga diperkirakan akan memadati ruang terbuka untuk menghadiri perayaan nasional, konser, hingga pertandingan olahraga internasional yang digelar di luar ruangan.

Gelombang panas yang kini menyerang Amerika terjadi setelah Eropa mengalami salah satu cuaca panas paling mematikan dalam beberapa tahun terakhir. 

Suhu ekstrem di berbagai negara Eropa dilaporkan menyebabkan lebih dari 1.300 kematian akibat dehidrasi, serangan panas, hingga gangguan kesehatan lainnya yang dipicu cuaca panas berkepanjangan.

Kini, pola cuaca panas yang sebelumnya menghantam wilayah Midwest Amerika Serikat telah bergerak ke kawasan Timur Laut dan negara bagian Atlantik tengah.

“Panas yang langka dan berlangsung lama ini, dengan sedikit atau tanpa pendinginan pada malam hari, akan berdampak pada siapa pun yang tidak memiliki pendinginan memadai atau hidrasi yang cukup,” tulis NWS dalam peringatan resminya.

New York dan Washington Catat Suhu Terpanas dalam Belasan Tahun

Pada Jumat (3/7/2026) pagi waktu setempat, suhu di Washington DC dan New York sudah mendekati 90 derajat Fahrenheit atau sekitar 32 derajat Celsius sejak pagi hari.

Baca juga: Panik Gelombang Panas, Warga di Prancis Rela Antre Berjam-jam Demi AC Murah

Di Central Park, New York, suhu bahkan mencapai 100 derajat Fahrenheit dan terasa seperti 106 derajat Fahrenheit akibat kelembapan udara yang sangat tinggi. Menurut NWS, kondisi tersebut menjadi suhu terpanas di wilayah itu dalam 15 tahun terakhir.

Wali Kota New York City, Zohran Mamdani, meminta warga untuk membatasi aktivitas di luar ruangan demi menghindari risiko kesehatan serius.

“Rekomendasi saya kepada seluruh warga New York adalah tetap berada di dalam ruangan dan menjaga tubuh tetap sejuk,” ujar Mamdani dalam konferensi pers mengutip dari BBC International.

Peringatan tersebut muncul di tengah berbagai acara besar yang tetap dijadwalkan berlangsung di kota itu, termasuk pesta pernikahan bintang pop Taylor Swift dan pemain NFL Travis Kelce yang disebut akan digelar di Madison Square Garden.

Trump Tetap Hadir di Perayaan 4 Juli

Cuaca panas ekstrem juga membayangi perayaan Hari Kemerdekaan Amerika Serikat yang akan digelar besar-besaran akhir pekan ini.

Meski begitu Presiden Donald Trump dijadwalkan tetap menghadiri acara terbuka dan menyampaikan pidato di tengah suhu yang diperkirakan sangat tinggi.

“Pada 4 Juli suhu mungkin mencapai 107 derajat Fahrenheit dan saya tetap akan menyampaikan pidato panjang untuk menunjukkan bahwa saya bisa melakukannya,” ujar Trump.

Sementara itu, Kepolisian Capitol AS mengumumkan pembatasan jumlah masyarakat yang diperbolehkan menghadiri latihan konser perayaan 4 Juli di Washington demi mengurangi risiko kesehatan akibat cuaca panas ekstrem.

Fenomena “Kubah Panas” Jadi Penyebab Utama

Meteorolog menjelaskan bahwa gelombang panas kali ini dipicu fenomena “heat dome” atau kubah panas, yaitu kondisi ketika area tekanan udara tinggi memerangkap udara panas di suatu wilayah dalam waktu lama.

Kondisi tersebut diperparah oleh tanah yang kering akibat kekeringan di kawasan Timur Laut AS. Tanah yang kehilangan kelembapan tidak mampu menyerap panas matahari sehingga suhu di permukaan meningkat lebih cepat.

Kombinasi antara panas ekstrem, kelembapan tinggi, dan minimnya pendinginan pada malam hari membuat risiko gangguan kesehatan meningkat drastis, terutama bagi lansia, anak-anak, dan warga yang memiliki penyakit kronis.

Sementara itu para ilmuwan menyebut gelombang panas yang semakin sering dan lebih ekstrem merupakan dampak nyata perubahan iklim global akibat aktivitas manusia.

Sejak era industri dimulai, suhu rata-rata bumi telah meningkat sekitar 1,1 derajat Celsius akibat emisi gas rumah kaca yang terus meningkat.

Akibat perubahan iklim tersebut, fenomena cuaca ekstrem seperti gelombang panas, kekeringan, dan badai besar kini terjadi lebih sering, berlangsung lebih lama, dan berdampak lebih mematikan.

Meski suhu di wilayah Timur Laut AS diperkirakan sedikit menurun saat perayaan 4 Juli karena potensi badai petir, para ahli cuaca menegaskan suhu tetap berada jauh di atas rata-rata normal musim panas.

Penurunan suhu yang lebih signifikan diperkirakan baru akan terjadi pada Minggu dan Senin ketika udara dingin mulai bergerak turun dari wilayah utara Amerika Serikat.

(Tribunnews.com / Namira)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.