Re: dan peREmpuan, Novel yang Mengangkat Berbagai Isu Perempuan
Joko Widiyarso July 03, 2026 05:14 PM

TRIBUNJOGJA.COM- Salah satu novel Indonesia yang mengangkat berbagai isu sosial adalah Re: dan peREmpuan karya Maman Suherman.

Melalui kisah yang kuat, novel ini mengajak pembaca melihat realitas kehidupan dari sudut pandang yang berbeda.

Novel yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) pada 2021 ini merupakan gabungan dari novel Re: dan sekuelnya, peREmpuan.

Melalui dua kisah yang saling berkaitan, pembaca diajak mengikuti perjalanan hidup para tokohnya sekaligus melihat sisi lain dari kehidupan perempuan yang kerap luput dari perhatian masyarakat.

Cerita bermula dari pertemuan Herman, seorang mahasiswa jurusan Kriminologi, dengan Re, perempuan yang terjerat dalam praktik prostitusi dan mengaku dipaksa menjalani kehidupan tersebut.

Awalnya, Herman hanya berniat menjadikan Re sebagai objek penelitian skripsinya.

Namun, pertemuan itu justru membawanya masuk lebih dalam ke dunia prostitusi yang penuh kekerasan, dendam, eksploitasi, dan berbagai kenyataan pahit yang sebelumnya tidak pernah ia bayangkan.

Berbeda dari banyak novel fiksi yang sepenuhnya lahir dari imajinasi, Re berangkat dari pengalaman riset yang pernah dilakukan Maman Suherman saat masih menjadi mahasiswa Kriminologi.

Pengalaman tersebut kemudian dikembangkan menjadi sebuah karya fiksi dengan tetap menghadirkan berbagai realitas sosial yang ia temui selama proses penelitiannya.

Karena itulah, cerita dalam novel ini terasa dekat dengan kenyataan dan mampu menggambarkan sisi gelap kehidupan yang jarang dibahas secara terbuka.

Sementara itu, bagian peREmpuan melanjutkan kisah sekitar 26 tahun setelah kematian Re.

Tokoh Melur, anak yang dilahirkan Re kembali ke Indonesia setelah menyelesaikan pendidikan doktoralnya di luar negeri.

Kepulangannya diiringi berbagai pertanyaan tentang masa lalu sang ibu, mulai dari identitas keluarga hingga penyebab kematian Re.

Pencarian jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian menjadi awal terbukanya berbagai rahasia yang selama puluhan tahun disimpan rapat.

Meski mengangkat latar dunia prostitusi, novel ini tidak semata-mata bercerita tentang kehidupan pekerja seks.

Maman Suherman justru menggunakan latar tersebut untuk mengajak pembaca melihat persoalan yang lebih luas, seperti perdagangan manusia, eksploitasi, kekerasan terhadap perempuan, ketimpangan relasi kuasa, hingga stigma yang sering melekat pada para penyintas.

Berbagai isu tersebut dihadirkan melalui cerita para tokohnya sehingga terasa lebih hidup dan menyentuh.

Hal lain yang membuat Re: dan peREmpuan layak diapresiasi adalah cara penulis membangun karakter.

Tokoh-tokoh dalam novel ini tidak digambarkan secara hitam putih sebagai sosok yang sepenuhnya baik atau sepenuhnya buruk.

Sebaliknya, setiap karakter memiliki latar belakang, pilihan hidup, dan pergulatannya masing-masing.

Pendekatan tersebut membuat pembaca diajak memahami bahwa setiap orang memiliki cerita yang tidak selalu terlihat dari luar.

Dari sisi penyajian cerita, Maman Suherman menggunakan bahasa yang relatif sederhana sehingga novel ini mudah dipahami.

Meski mengangkat tema yang berat, alur cerita tetap terasa mengalir dan tidak dipenuhi istilah-istilah yang sulit dipahami.

Dialog antartokohnya juga dibangun secara natural sehingga emosi yang muncul dalam setiap konflik terasa lebih hidup.

Novel ini juga mampu mengangkat berbagai persoalan sosial tanpa terasa menghakimi pembaca.

Penulis tidak secara langsung mengarahkan pembaca untuk menyimpulkan siapa yang benar atau salah.

Sebaliknya, pembaca diajak mengikuti perjalanan hidup para tokoh, memahami latar belakang yang membentuk keputusan mereka, serta melihat bagaimana lingkungan dan kondisi sosial turut memengaruhi kehidupan seseorang.

Melalui pendekatan tersebut, Re: dan peREmpuan membuka ruang untuk berdiskusi mengenai berbagai persoalan kemanusiaan.

Novel ini memperlihatkan bahwa karya sastra dapat menjadi medium untuk menghadirkan refleksi terhadap realitas sosial sekaligus menumbuhkan kepekaan terhadap pengalaman hidup orang lain.

Selain menghadirkan konflik yang kuat, novel ini juga mengajak pembaca melihat perempuan sebagai individu yang memiliki suara, pilihan, dan perjuangan di tengah berbagai tekanan sosial.

Perspektif tersebut menjadi salah satu alasan mengapa karya ini banyak dibahas dalam kajian sastra dan penelitian akademik yang menyoroti isu perempuan, relasi gender, hingga kritik terhadap sistem patriarki.

Di samping berbagai isu yang diangkat, novel ini juga menawarkan pengalaman membaca yang mampu meninggalkan kesan bagi pembacanya.

Buku ini bukan hanya menghadirkan alur yang mengundang rasa penasaran, tetapi juga membuka ruang refleksi mengenai berbagai persoalan yang masih dihadapi perempuan hingga saat ini.

Oleh karena itu, Re: dan peREmpuan menjadi salah satu novel Indonesia yang layak masuk dalam daftar bacaan bagi pembaca yang ingin menikmati cerita yang kuat sekaligus sarat makna.

Selain itu, penulis juga memberikan ruang bagi setiap karakter untuk berkembang.

Tokoh-tokoh dalam novel ini memiliki latar belakang, pandangan hidup, dan pengalaman yang berbeda sehingga cerita tidak hanya berpusat pada satu sudut pandang.

Kehadiran berbagai karakter tersebut memperlihatkan bahwa setiap perempuan memiliki perjuangan yang unik, sekaligus menghadapi tantangan sosial yang tidak selalu sama.

Di balik kisah yang disajikan, Re: dan peREmpuan turut menghadirkan refleksi mengenai pentingnya empati.

Novel ini mengingatkan bahwa seseorang yang tampak baik-baik saja belum tentu benar-benar terbebas dari luka masa lalu.

Begitu pula sebaliknya, seseorang yang sering menerima stigma dari masyarakat belum tentu sepenuhnya bertanggung jawab atas keadaan yang dialaminya.

Bagi pembaca yang menyukai novel bertema sosial, buku ini mengajak untuk melihat berbagai persoalan dari sudut pandang yang lebih luas.

Berbagai persoalan yang diangkat masih memiliki keterkaitan dengan kondisi masyarakat saat ini, seperti kekerasan berbasis gender, diskriminasi terhadap perempuan, hingga pentingnya menghadirkan ruang yang aman bagi orang-orang yang pernah mengalami kekerasan atau trauma.

Karena itu, cerita dalam novel ini tetap terasa relevan meskipun telah beberapa tahun sejak pertama kali diterbitkan.

Meski demikian, perlu diketahui bahwa novel ini diperuntukkan bagi pembaca dewasa.

 Beberapa bagian cerita memuat pembahasan mengenai prostitusi, kekerasan, dan trauma sehingga memerlukan kedewasaan dalam memahami konteks yang disampaikan penulis.

Tema-tema tersebut dihadirkan bukan untuk sensasi, melainkan sebagai bagian dari realitas yang ingin ditampilkan dalam cerita.

Bagi yang sedang mencari daftar bacaan, Re: dan peREmpuan bisa menjadi salah satu pilihan.

Novel ini menghadirkan perpaduan antara cerita yang kuat, karakter yang dibangun dengan baik, serta isu sosial yang relevan dengan kehidupan masyarakat.

Cerita yang dihadirkan juga berpotensi meninggalkan kesan mendalam setelah halaman terakhir selesai dibaca.

Pada akhirnya, Re: dan peREmpuan bukan sekadar novel tentang perjalanan hidup sejumlah perempuan.

Lebih dari itu, karya ini mengajak pembaca memahami bahwa di balik setiap orang terdapat cerita yang mungkin tidak pernah terlihat di permukaan.

Melalui kisah-kisah tersebut, Maman Suherman mengingatkan bahwa empati sering kali menjadi langkah awal untuk memahami kehidupan orang lain tanpa terburu-buru menghakimi.

 (MG- Mayumi Cinta Mahesi)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.