BANGKAPOS.COM, BANGKA -- Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang mencatat sebagian wilayah Provinsi Kepulauan Bangka Belitung mulai memasuki musim kemarau. Kondisi ini ditandai dengan berkurangnya intensitas hujan dan meningkatnya kemunculan titik panas (hotspot) di sejumlah wilayah.
Prakirawan BMKG Stasiun Meteorologi Depati Amir Pangkalpinang, Muhamad Bais, mengatakan hingga Dasarian III Juni 2026, Zona Musim (ZOM) 3 terindikasi telah memasuki musim kemarau.
Menurutnya, secara umum kondisi cuaca di Bangka Belitung saat ini mulai menunjukkan pola khas musim kemarau, yakni dominasi cuaca panas pada siang hari dengan curah hujan yang semakin berkurang dibandingkan beberapa bulan sebelumnya.
"Berdasarkan analisis BMKG hingga Dasarian III Juni 2026, Zona Musim 3 terindikasi sudah memasuki musim kemarau," kata Bais kepada Bangkapos.com, Jumat (3/7/2026).
Ia menjelaskan, meskipun musim kemarau mulai berlangsung, masyarakat tidak boleh berasumsi bahwa hujan akan berhenti sepenuhnya. Pasalnya, potensi hujan ringan hingga sedang masih dapat terjadi secara sporadis di sejumlah wilayah Bangka Belitung.
Menurut Bais, kondisi ini lazim terjadi pada masa transisi awal kemarau, ketika atmosfer masih menyimpan cukup kelembapan untuk memicu pembentukan awan hujan, terutama pada sore hingga malam hari.
"Walaupun sudah memasuki musim kemarau, bukan berarti cuaca akan terus panas sepanjang waktu. Hujan masih berpotensi terjadi di beberapa titik, hanya saja sifatnya lebih lokal dan tidak merata," jelasnya.
Seiring dengan menguatnya musim kemarau, BMKG juga terus memantau perkembangan titik panas yang berpotensi menjadi indikator awal kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Bais mengatakan, sebaran titik panas diperbarui setiap hari melalui pemantauan satelit yang mendeteksi area dengan suhu permukaan lebih tinggi dibandingkan wilayah sekitarnya.
"Sebaran titik panas ini di-update setiap hari dan dipantau melalui satelit. Satelit mendeteksi area yang suhunya lebih panas dibandingkan area di sekelilingnya," ujarnya.
Berdasarkan pemantauan terbaru, sebaran titik panas pada hari sebelumnya lebih banyak ditemukan di wilayah Kabupaten Bangka Selatan. Bahkan, jika ditarik dari periode Januari 2026 hingga awal Juli 2026, Bangka Selatan tercatat sebagai daerah dengan akumulasi titik panas tertinggi di Provinsi Kepulauan Bangka Belitung.
BMKG pun mengimbau masyarakat, khususnya yang beraktivitas di area perkebunan, pertanian, maupun lahan terbuka, agar meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran.
Masyarakat diminta tidak melakukan pembakaran lahan untuk membuka area kebun maupun membersihkan semak, karena api dapat dengan cepat meluas saat vegetasi mengering.
Selain itu, warga juga diingatkan untuk tidak membuang puntung rokok sembarangan, terutama di kawasan yang dipenuhi rumput kering atau semak belukar.
"Potensi kebakaran akan meningkat seiring bertambahnya hari tanpa hujan. Karena itu kami mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aktivitas yang bisa memicu kebakaran lahan," kata Bais.
BMKG juga meminta pemerintah daerah, aparat desa, serta pihak terkait untuk memperkuat pengawasan di wilayah yang kerap muncul titik panas, terutama di Bangka Selatan dan daerah rawan karhutla lainnya. (Bangkapos.com/Andini Dwi Hasanah)