TRIBUNNEWS.COM - Perjalanan Kroasia di Piala Dunia 2026 resmi berakhir setelah takluk secara dramatis dari Portugal pada babak 32 besar, Jumat (3/7/2026).
Kekalahan 1-2 di Toronto Stadium, Kanada, tersebut terasa semakin menyakitkan karena gol penentu kemenangan Portugal lahir pada momen-momen akhir pertandingan.
Bagi Kroasia, hasil tersebut bukan sekadar mengakhiri langkah mereka di turnamen kali ini, melainkan juga berpotensi menjadi penutup perjalanan Luka Modric di panggung Piala Dunia.
Selama hampir dua dekade terakhir, Modric menjadi simbol dari salah satu generasi terbaik yang pernah dimiliki Kroasia.
Generasi yang dibangun oleh Zlatko Dalic itu berhasil mengubah Kroasia dari tim kuda hitam menjadi langganan pesaing di fase akhir Piala Dunia.
Dalam Podcast Super Taktik Tribunnews Solo di Karanganyar, Jawa Tengah, Football Enthusiast Gigih menilai pencapaian Kroasia selama ini tidak bisa dilepaskan dari peran Dalic serta kualitas lini tengah mereka.
"Prestasi Kroasia tak lepas dari Zlatko Dalic, dan kuncinya tim ini dari lini tengah yang ada Modric dan Kovacic," ujar Gigih.
Menurut Gigih, fondasi tim yang dibangun Dalic sejak beberapa tahun terakhir sejatinya masih menjadi kerangka utama Kroasia hingga Piala Dunia 2026.
"Dari 2022, ini adalah winning team-nya versi Dalic, tapi untuk mengulangi edisi sebelumnya itu susah," kata Gigih.
Ucapan tersebut seolah menjadi gambaran dari kenyataan yang harus diterima Kroasia setelah gagal mengulang pencapaian mereka pada dua edisi Piala Dunia sebelumnya.
Di tengah berakhirnya perjalanan Kroasia itu pula, Dalic kemudian menyampaikan permintaan maaf kepada Modric yang baru saja menuntaskan Piala Dunia terakhir dalam kariernya.
Usai pertandingan berakhir, Dalic mengaku sedih karena perjalanan Piala Dunia Modric kemungkinan besar harus berakhir dengan cara seperti ini.
"Memikirkan semuanya berakhir seperti ini, saya meminta maaf kepada Modric," ujar Dalic melansir Interfootball via Naver Sports.
Baca juga: Kata-kata Cristiano Ronaldo untuk Luka Modric setelah Kroasia Disingkirkan Portugal
Bagi Modric, Piala Dunia 2026 diyakini menjadi penampilan terakhirnya di turnamen empat tahunan tersebut.
Gelandang kelahiran 1985 itu pertama kali merasakan atmosfer Piala Dunia saat tampil di edisi 2006 di Jerman.
Puncak perjalanan Modric bersama Kroasia hadir pada Piala Dunia 2018 di Rusia.
Saat itu, Modric sukses membawa Kroasia mencapai final Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah.
Perjalanan menuju final tersebut juga mengantarkan Modric meraih penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola, yakni Ballon d'Or.
Empat tahun berselang, Modric kembali memimpin Kroasia meraih posisi ketiga pada Piala Dunia 2022 di Qatar.
Ketika banyak pihak memperkirakan Qatar menjadi penampilan terakhirnya, Modric justru kembali hadir di Piala Dunia 2026.
Meski berhasil membawa Kroasia lolos dari fase grup, langkah mereka akhirnya terhenti pada pertandingan pertama fase gugur.
Pelatih Kroasia itu juga memuji semangat juang Modric yang terus memimpin rekan-rekannya hingga menit terakhir pertandingan.
Menurut Dalic, Modric masih mampu menunjukkan kualitasnya sebagai pemain kunci meski telah menginjak usia 40 tahun.
"Modric menunjukkan kualitas, semangat juang, dan memimpin Kroasia sampai akhir pertandingan," kata Dalic.
Penghormatan kepada Modric tidak hanya datang dari pelatihnya sendiri tetapi juga dari lawan yang baru saja menyingkirkan Kroasia.
Kapten Portugal, Cristiano Ronaldo, turut memberikan apresiasi kepada mantan rekan setimnya di Real Madrid tersebut.
Ronaldo menyebut Modric sebagai salah satu legenda sepak bola dunia yang masih mampu tampil pada level tertinggi.
Ia juga mengaku bahagia dapat kembali berbagi lapangan dengan Modric untuk satu kesempatan terakhir di panggung Piala Dunia.
Meski perjalanan Kroasia telah berakhir, warisan yang ditinggalkan Modric bersama negaranya dipastikan akan terus dikenang dalam sejarah sepak bola dunia.
Finalis 2018, peringkat ketiga 2022, hingga penampilan terakhir pada 2026 menjadi bukti bahwa Modric telah menuntaskan salah satu perjalanan internasional paling istimewa di generasinya.
(Tribunnews.com/Niken)