Laporan Reporter TRIBUNFLORES.COM, Charles Abar
TRIBUNFLORES.COM, BAJAWA – Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menghadapi berbagai tantangan pembangunan, terutama tingginya angka stunting dan kemiskinan ekstrem. Persoalan tersebut dinilai membutuhkan kolaborasi lintas sektor, termasuk keterlibatan aktif perguruan tinggi melalui program Sains dan Teknologi Berdampak.
Melalui kerja sama LLDIKTI Wilayah XV, Pemerintah Provinsi NTT, serta pemerintah kabupaten/kota, dilaksanakan Program Gerakan Pengentasan Stunting dan Kemiskinan Ekstrem (Gentaskin) yang menyasar wilayah-wilayah dengan angka stunting dan kemiskinan tertinggi.
Memasuki tahun kedua pelaksanaannya, Sekolah Tinggi Pertanian Flores Bajawa (STIPER FB) kembali mengutus 100 mahasiswa untuk mengikuti Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Gentaskin di empat kabupaten, yakni Flores Timur, Nagekeo, Manggarai Timur, dan Ngada.
Mahasiswi Semester IV Program Studi Peternakan STIPER Flores Bajawa, Herti Temaluru, mengaku bangga dipercaya menjadi bagian dari program tersebut. Ia bertekad mengaplikasikan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.
Baca juga: 100 Mahasiswa STIPER Flores Bajawa Diterjunkan di Empat Kabupaten, Atasi Stunting dan Kemiskinan
Menurut Herti, salah satu fokus utama yang akan mereka kerjakan adalah mengoptimalkan potensi pertanian dan peternakan desa agar mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
"Kami dari mahasiswa STIPER berfokus pada sektor pertanian, termasuk peternakan di dalamnya. Karena saya berasal dari Program Studi Peternakan, fokus kami adalah mendampingi para peternak untuk mengetahui berbagai kendala yang mereka hadapi. Setelah itu kami akan bersama-sama mencari solusi agar mampu menghasilkan ternak yang lebih baik," ujar Herti, usai mengikuti misa Perutusan di Kampus C Turekisa, Jumat (03/07/2026).
Ia menilai persoalan stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja, melainkan membutuhkan kerja sama seluruh elemen masyarakat.
Menurutnya, salah satu penyebab masih tingginya angka stunting adalah belum optimalnya pemanfaatan potensi pangan lokal yang sebenarnya memiliki kandungan gizi tinggi.
"Menurut saya, potensi yang kita miliki di Flores sangat besar. Namun sumber daya untuk mengelolanya belum maksimal. Banyak pangan lokal yang bergizi tinggi belum dimanfaatkan secara optimal sehingga berdampak pada kesehatan masyarakat. Begitu juga dengan kemiskinan, potensi ekonomi yang ada belum dikelola secara maksimal untuk meningkatkan pendapatan masyarakat," katanya.
Herti juga mengaku bersyukur karena terpilih mengikuti KKNT Gentaskin bersama mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di NTT.
"Kami merasa bangga karena dari ribuan mahasiswa STIPER, kami mendapat kesempatan bergabung bersama mahasiswa dari kampus lain. Ini menjadi kesempatan yang sangat baik untuk membangun relasi, belajar budaya, bertukar pengalaman, dan bekerja sama dalam mengabdi kepada masyarakat," ungkapnya.
Ia berharap kolaborasi antarmahasiswa dapat menghasilkan program-program yang benar-benar memberi dampak bagi desa tempat mereka mengabdi.
Senada dengan Herti, mahasiswi Program Studi Peternakan STIPER Flores Bajawa, Resti Wea, menilai KKNT Gentaskin menjadi momentum bagi mahasiswa untuk terlibat langsung dalam pembangunan desa melalui pemberdayaan masyarakat.
"Untuk lokasi kami di Flores Timur, kami akan melihat terlebih dahulu potensi yang ada, kemudian bersama masyarakat mengembangkannya melalui berbagai program pemberdayaan," ujar mahasiswi asal Riung tersebut.
Hal serupa disampaikan Jein Lede, mahasiswa Program Studi Biologi Terapan yang akan menjalankan KKNT di Kecamatan Nangaroro, Kabupaten Nagekeo.
Menurut Jein, langkah awal yang akan dilakukan bersama tim adalah memetakan seluruh potensi desa sebelum menyusun program kerja.
"Kami akan melakukan survei terlebih dahulu terhadap potensi yang ada di desa sehingga program yang dijalankan benar-benar sesuai dengan kebutuhan dan potensi masyarakat setempat," tutup Jein.
Melalui keterlibatan mahasiswa dalam KKNT Gentaskin, STIPER Flores Bajawa berharap lahir berbagai inovasi pemberdayaan berbasis potensi lokal yang mampu mendukung percepatan penurunan angka stunting dan kemiskinan ekstrem di NTT sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat desa. (Cha)