Tribunlampung.co.id, Bandar Lampung – Balai Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan Lampung (Karantina Lampung) mengungkap adanya penambahan eksportir baru Palm Kernel Expeller (PKE) atau bungkil inti sawit.
Baca juga: Ekspor Lampung Januari-Mei 2026 2,362 Miliar Dolar AS
Eksportir baru ini resmi melakukan pengiriman sebanyak 14 ribu ton PKE ke Selandia Baru senilai Rp 20 miliar, Jumat (3/7/2026).
Pengiriman tersebut setelah komoditas PKE atau bungkil sawit dinyatakan memenuhi berbagai persyaratan ketat, termasuk standar yang ditetapkan oleh negara tujuan.
Kepala Balai Karantina Lampung, Donni Muksydayan, mengungkapkan bahwa kehadiran eksportir baru ini menjadi indikator positif bagi iklim usaha di Lampung.
Menurutnya, hal ini menunjukkan bahwa peluang pasar internasional untuk komoditas perkebunan lokal semakin terbuka lebar.
"Ekspor ini menjadi bukti bahwa komoditas asal Lampung memiliki daya saing di pasar internasional," ujar Donni, Jumat (3/7/2026).
Donni menuturkan, keberhasilan ini juga membuktikan bahwa sistem sertifikasi dan pengawasan yang diterapkan Karantina Lampung mampu mendukung pelaku usaha menembus pasar global secara berkelanjutan.
"Karantina berkomitmen mengawal setiap proses ekspor agar memenuhi persyaratan negara tujuan sehingga kepercayaan pasar global terhadap produk Indonesia terus meningkat," tegasnya.
PKE atau bungkil inti sawit merupakan ampas padat yang tersisa dari proses pengepresan dan ekstraksi minyak inti sawit (Palm Kernel Oil).
Meskipun merupakan produk sampingan (by-product) dari industri kelapa sawit, PKE memiliki nilai ekonomi yang sangat tinggi.
Selandia Baru menjadi salah satu pasar paling potensial karena kandungan serat tinggi pada PKE sangat dibutuhkan sebagai bahan baku pakan ternak alternatif, khususnya untuk sapi perah dan sapi potong guna mendongkrak produktivitas.
Selain Selandia Baru, produk PKE asal Lampung ini juga telah merambah ke berbagai negara lintas benua.
Khusus pasar Eropa, PKE asal Lampung dikirim ke Belanda, Jerman, Inggris, serta Prancis. Selain itu, produk turunan kelapa sawit ini juga dikirim ke sejumlah negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, China, Filipina, Taiwan, dan Singapura, serta Arab Saudi di kawasan Timur Tengah.
Donni mengungkapkan bahwa ekspor bungkil inti sawit asal Lampung di semester pertama 2026 mencapai 513 ribu ton dengan nilai mencapai Rp 1,17 triliun. Data tersebut yang tercatat dari Januari-Juni 2026, sehingga tidak termasuk dengan bungkil sawit yang dikirim eksportir baru ke Selandia Baru.
Sebab ekspor bungkil sawit ke Selandia Baru masuk dalam data Juli 2026, atau semester dua di tahun 2026.
Meski begitu, berdasarkan data Karantina Lampung, performa ekspor komoditas bungkil sawit (PKE) dari Bumi Ruwa Jurai terus menunjukkan tren positif sejak 2024. Secara rinci data tersebut sebagai berikut:
"Kenaikan ini dipicu oleh melonjaknya kebutuhan industri peternakan global terhadap bahan baku pakan alternatif yang lebih efisien," ujar Donni.
Melihat data tersebut, Donni optimis peluang peningkatan angka ekspor hingga akhir tahun 2026 masih terbuka sangat lebar.
Guna memastikan kelancaran di pelabuhan ekspor, Karantina Lampung bertindak ketat dalam melakukan pemeriksaan, pengawasan, serta sertifikasi kesehatan tumbuhan melalui jaminan dalam bentuk Phytosanitary Certificate.
"Karantina hadir sebagai fasilitator perdagangan yang aman. Kami memastikan setiap komoditas ekspor memenuhi persyaratan karantina negara tujuan sehingga proses perdagangan berjalan lancar," jelas Donni.
Menurut Donni, langkah preventif ini penting dilakukan untuk mencegah risiko penyebaran organisme pengganggu tumbuhan sekaligus menjaga reputasi dan akses pasar internasional produk ekspor Indonesia.
Donni berharap capaian eksportir baru ini dapat memicu pelaku usaha lain di Lampung untuk terus memacu kapasitas produksi, memperluas jangkauan pasar, dan memperkuat kontribusi daerah terhadap devisa negara.
(Tribunlampung.co.id/Hurri Agusto)