Fakta Tidur Siang di Tiongkok: Dilakukan 72 Persen Penduduk, Diyakini Baik untuk Kesehatan Jantung
Eko Sutriyanto July 03, 2026 10:23 PM

 

TRIBUNNEWS.COM, TIONGKOK  – Di banyak negara, tidur siang kerap dipandang sebagai kemewahan atau bahkan identik dengan rasa malas.

Namun di Tiongkok, kebiasaan tersebut justru menjadi bagian dari budaya yang diwariskan lintas generasi dan diyakini berkontribusi terhadap kesehatan.

Di tengah tekanan dunia kerja modern yang dikenal dengan budaya kerja 996—bekerja dari pukul 09.00 hingga 21.00 selama enam hari dalam sepekan—jutaan warga Tiongkok tetap menyisihkan waktu untuk beristirahat sejenak pada tengah hari.

Dilansir South China Morning Post, bagi mereka, tidur siang bukan sekadar melepas kantuk, melainkan ritual menjaga kebugaran fisik dan kejernihan pikiran yang telah berlangsung selama ribuan tahun.

Survei China Sleep Research Society yang dirilis pada Maret 2026 menunjukkan sekitar 72 persen masyarakat Tiongkok terbiasa tidur siang setidaknya selama 30 menit setiap hari.

Angka tersebut memperlihatkan bahwa tradisi kuno ini masih bertahan di tengah kehidupan modern yang semakin kompetitif.

Baca juga: Tidur Siang Ideal: Tidak Terlalu Singkat, Tidak Terlalu Lama

Berakar dari Filosofi Pengobatan Kuno

Kebiasaan tidur siang telah tercatat dalam Huangdi Neijing atau Kanon Batin Kaisar Kuning, kitab pengobatan tertua di Tiongkok yang diperkirakan disusun sekitar 2.000 tahun lalu.

Kitab tersebut menganjurkan masyarakat memperoleh tidur malam yang berkualitas pada jam Zi (23.00–01.00) serta beristirahat sejenak pada jam Wu (11.00–13.00).

Dalam teori Pengobatan Tradisional Tiongkok (Traditional Chinese Medicine/TCM), jam Wu merupakan saat energi Yang mencapai puncaknya. Energi Yang melambangkan kehangatan, vitalitas, dan kekuatan hidup yang dipercaya berkaitan erat dengan fungsi jantung. Karena itu, tidur siang diyakini membantu memulihkan energi sekaligus menjaga kesehatan jantung.

Meski berakar pada filosofi tradisional, sejumlah penelitian modern juga menunjukkan bahwa tidur siang berdurasi singkat dapat meningkatkan konsentrasi, daya ingat, produktivitas, serta membantu mengurangi kelelahan mental. Hal ini membuat kebiasaan tersebut tetap relevan hingga sekarang.

Dari Sastra hingga Kehidupan Sehari-hari

Tidur siang bukan hanya menjadi bagian dari praktik kesehatan, tetapi juga mewarnai perjalanan budaya Tiongkok.

Penyair sekaligus negarawan Dinasti Song Utara, Wang Anshi (1021–1086), menulis puisi berjudul Tidur Siang yang menggambarkan ketenangan beristirahat di tengah semilir angin sebelum akhirnya terbangun oleh kicauan burung.

Penyair Dinasti Song Selatan, Lu You (1125–1210), juga mengabadikan pengalaman serupa dalam puisinya.

Ia menggambarkan rasa kantuk yang datang setelah beraktivitas dan penyesalannya karena tidak tidur lebih awal pada malam sebelumnya.

Kehadiran tema tidur siang dalam karya sastra menunjukkan bahwa masyarakat Tiongkok sejak dahulu memandang waktu istirahat sebagai bagian dari keseimbangan hidup, bukan sekadar jeda dari pekerjaan.

Baca juga: Tidur Qailulah dalam Islam, Anjuran Tidur Siang yang Jarang Diketahui

Tetap Dipertahankan di Era Modern

Tradisi tersebut terus bertahan hingga abad ke-20. Mantan pemimpin Tiongkok Deng Xiaoping dikenal memiliki kebiasaan tidur siang secara rutin.

Ia bahkan disebut kerap meminum sedikit baijiu, minuman tradisional Tiongkok, saat makan siang untuk membantu memperoleh kualitas tidur yang lebih baik.

Di era modern, budaya tidur siang masih mudah dijumpai di berbagai kantor.

Banyak pekerja membawa bantal kecil atau tempat tidur lipat agar dapat beristirahat selama jeda makan siang.

Sebagian bahkan menyebut diri mereka sebagai "sapi dan kuda", istilah yang menyindir beratnya beban kerja yang mereka jalani.

Fenomena ini menunjukkan bahwa di tengah tuntutan produktivitas yang tinggi, masyarakat Tiongkok tetap menilai waktu istirahat sebagai investasi untuk menjaga stamina dan performa kerja.

Ada Daerah yang Menjadikan Tidur Siang Sebagai Budaya

Provinsi Shanxi di Tiongkok tengah dikenal sebagai wilayah yang sangat menjaga tradisi tidur siang.

Sejumlah restoran, toko hingga layanan kurir memilih menghentikan aktivitas operasional selama beberapa jam pada siang hari agar para pekerja dapat beristirahat.

Budaya tersebut menjadi bukti bahwa tidur siang tidak hanya dipraktikkan secara individu, tetapi juga telah menjadi bagian dari ritme kehidupan masyarakat setempat.

Tidur Siang Tetap Ada Aturannya

Menurut TCM, durasi tidur siang yang ideal sekitar 20 hingga 30 menit.

Tidur lebih lama justru dikhawatirkan membuat tubuh terasa lemas setelah bangun.

TCM juga menyarankan agar tidur siang tidak dilakukan segera setelah makan karena dapat mengganggu proses pencernaan.

Selain durasi, posisi tidur juga perlu diperhatikan. Rumah Sakit Universitas Pengobatan Tradisional Tiongkok Chengdu mengingatkan bahwa tidur dengan posisi menunduk di atas meja dapat memberikan tekanan pada leher dan tulang belakang, menghambat pernapasan, serta menurunkan kualitas istirahat.

Setelah bangun, seseorang dianjurkan tidak langsung beraktivitas berat.

Bangun secara perlahan, melakukan peregangan, dan berjalan ringan dipercaya membantu tubuh kembali beradaptasi sehingga manfaat tidur siang dapat dirasakan secara optimal.

Di Tiongkok, tidur siang bukan sekadar kebiasaan turun-temurun.

Tradisi ini mencerminkan cara pandang yang menempatkan istirahat sebagai bagian penting dari kesehatan dan produktivitas.

Di tengah kehidupan modern yang serba cepat, filosofi tersebut justru menjadi pengingat bahwa menjaga keseimbangan antara bekerja dan beristirahat sama pentingnya dengan mengejar produktivitas itu sendiri.

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.