Teheran Siaga Tinggi dan Dijaga Ketat selama Rangkaian Pemakaman Ali Khamenei
Rustam Aji July 04, 2026 12:07 PM

TRIBUNBANYUMAS.COM, TEHERAN – Ribuan warga Iran mulai memadati kompleks Grand Mosalla di Teheran sejak Jumat (3/7/2026) malam waktu setempat untuk menghadiri rangkaian pemakaman Ali Khamenei. 

Otoritas kedutaan dan pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung dan upacara penghormatan selama enam hari berturut-turut untuk melepas sang Pemimpin Tertinggi Iran yang telah berkuasa selama 35 tahun tersebut.

Peti mati Ayatollah Ali Khamenei yang dibalut bendera nasional dan dihiasi sorban hitam di atasnya kini telah disemayamkan. Berdasarkan laporan AFP, prosesi penghormatan publik di Teheran akan berlangsung hingga Senin (6/7/2026), sebelum jenazah diarak menuju kota suci Qom, Irak, dan akhirnya dimakamkan di kota kelahirannya, Mashhad, pada Kamis (9/7/2026).

Momen pemakaman pemimpin Iran ini sekaligus dimanfaatkan oleh Teheran untuk menunjukkan persatuan nasional pascaperang. Pemakaman digelar di tengah situasi gencatan senjata antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel, menyusul penandatanganan nota kesepahaman (MoU) damai.

Sejumlah pejabat teras yang selamat dari perang tampak hadir dengan duka mendalam, termasuk Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf dan Komandan anyar Garda Revolusi Iran (IRGC) Ahmad Vahidi.

Namun, sosok Mojtaba Khamenei—putra sekaligus pengganti Ali Khamenei yang baru ditunjuk seminggu lalu—belum menampakkan diri ke publik karena dikabarkan masih dalam masa pemulihan akibat luka serangan udara.

Baca juga: Iran Peringatkan Israel Usai Pemimpin Tertinggi Mojtaba Khamenei Diancam Dibunuh

Keamanan Ketat dan Antisipasi Cuaca Ekstrem

Menghadapi gelombang jutaan pelayat yang diprediksi terus membeludak, aparat keamanan memberlakukan status siaga tinggi di seluruh penjuru kota. Polisi antihuru-hara dikerahkan secara masif dan sejumlah jalan protokol yang mengarah ke pusat kegiatan diisolasi total.

Guna mencegah insiden desak-desakan maut yang kerap menodai upacara besar sebelumnya, televisi nasional Iran terus menyiarkan panduan keselamatan secara berkala. Selain faktor keamanan, tantangan berat lainnya dalam pemakaman kenegaraan Iran ini adalah cuaca panas ekstrem yang membakar ibu kota.

"Suhu udara diperkirakan melonjak di atas 35 derajat Celsius selama beberapa hari ke depan. Truk-truk tangki air telah disiagakan di sepanjang jalan utama untuk menyemprotkan air guna mendinginkan para pelayat," tulis laporan resmi setempat.

Baca juga: Proses Verifikasi Lahan Rumit, Pembayaran Ganti Untung Bendungan Karangnongko Blora Tertunda

Sementara itu, fasilitas publik seperti taman besar Teheran kini disulap menjadi tempat perkemahan darurat bagi warga dari luar kota dengan ratusan tenda Bulan Sabit Merah.

Kontras Situasi Teheran Iran dan Hadirnya Tokoh Dunia

Sementara area Grand Mosalla dipadati lautan manusia yang menangis, situasi Teheran Iran di sudut kota lainnya justru dilaporkan lengang. Sebagian penduduk ibu kota memilih eksodus ke luar daerah untuk menghindari penutupan jalan massal selama ritual berlangsung.

"Jalan-jalan keluar dari Teheran sangat padat," ujar Saeid (29), seorang pekerja teknologi lokal.

Acara ini juga dihadiri oleh sederet delegasi internasional tingkat tinggi yang datang memberikan penghormatan terakhir. Di antaranya adalah Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif, Wakil Kepala Dewan Keamanan Rusia Dmitry Medvedev yang mewakili Presiden Vladimir Putin, hingga jajaran pemimpin kelompok regional seperti Mohammed Darwish dari Hamas. (danur/kps)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.