Jakarta (ANTARA) - Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon mengharapkan perguruan tinggi di Indonesia untuk membangun museum sebagai ruang edukasi, riset, dan pelestarian sejarah institusi.

“Kita ingin menggerakkan setiap perguruan tinggi, terutama yang telah berusia lebih dari 50 tahun, memiliki museum,” kata Menbud Fadli dalam keterangan resminya diterima di Jakarta, Sabtu.

Hal itu disampaikan Menbud Fadli usai meresmikan Museum Institut Teknologi Bandung (ITB) di Kampus ITB, Bandung, Jumat (3/7).

Menbud Fadli menyampaikan bahwa Indonesia saat ini memiliki sekitar 516 museum yang teregistrasi, dan dengan hadirnya Museum ITB berharap jumlah itu terus bertambah.

Museum, lanjut Menbud harus menjadi ruang yang hidup, dikunjungi masyarakat, menginspirasi generasi muda, sekaligus menjadi bagian penting dari ekonomi budaya Indonesia.

Peresmian museum menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat ekosistem permuseuman nasional sekaligus mendorong pelestarian warisan intelektual perguruan tinggi sebagai bagian dari pemajuan kebudayaan Indonesia.

Menteri Kebudayaan mengapresiasi terwujudnya Museum ITB yang telah melalui proses panjang selama delapan tahun. Menurut dia, museum bukan sekadar tempat menyimpan artefak, melainkan ruang yang merekam perjalanan sejarah dan identitas sebuah institusi.

"Museum merupakan etalase budaya dan etalase peradaban. Ini bukan tempat penyimpanan artefak, tetapi memori kolektif sebuah institusi. ITB adalah institusi penting yang telah melahirkan banyak tokoh bangsa, sehingga keberadaan museum ini menjadi sangat penting untuk menjaga keberlanjutan memori kolektif tersebut," ujar Menbud.

Kementerian Kebudayaan berharap semakin banyak perguruan tinggi, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat berkolaborasi membangun museum sebagai ruang edukasi, pelestarian, dan penguatan identitas bangsa, sejalan dengan amanat Pasal 32 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 tentang pemajuan kebudayaan nasional.

Museum ITB sendiri dihadirkan sebagai ruang interaktif dan partisipatif yang merawat memori perjalanan ITB sejak berdirinya Technische Hoogeschool te Bandoeng pada 1920.

Museum ini menghadirkan empat zona utama, yakni Akar Sejarah Institut Teknologi Bandung, Jejak Pencerahan Riset dan Pendidikan, Kehidupan Kampus dari Masa ke Masa, dan Inspirasi Masa Depan, yang dilengkapi dengan 360° Theater Dome sebagai ruang pengalaman imersif berbasis teknologi digital.

Rektor ITB, Prof. Dr. Ir. Tatacipta Dirgantara mengatakan Museum ITB dibangun dari mimpi bersama para penggagas untuk menghadirkan ruang yang mampu merawat sejarah sekaligus
menginspirasi masa depan.

"Museum ini bukan sekadar tempat menyimpan benda-benda bersejarah. Ini adalah ruang pengetahuan, ruang refleksi, ruang dialog, dan ruang inspirasi. Tidak hanya menjadi kenangan masa lalu, tetapi juga sumber pembelajaran untuk masa depan," ujar Rektor ITB.