Ibu Hamil Tewas Terkena Peluru di Intan Jaya, Komnas HAM Papua Desak Prabowo Evaluasi Keamanan
Paul Manahara Tambunan July 04, 2026 01:29 PM

 

TRIBUN-PAPUA.COM, JAYAPURA - Duka mendalam kembali menyelimuti masyarakat Intan Jaya, Papua Tengah.

Seorang ibu hamil bernama Melkiana Dwitau dilaporkan meninggal dunia bersama bayi yang dikandungnya setelah diduga terkena peluru nyasar.

Peristiwa tragis ini terjadi di Kampung Wandoga, Distrik Sugapa, Kabupaten Intan Jaya pada Kamis (2/7/2026) malam pukul 18.45 WIT saat hujan deras mengguyur wilayah tersebut.

Korban sempat dilarikan untuk menjalani operasi darurat demi menyelamatkan sang buah hati.

Namun takdir berkata lain, bayi malang yang berada di dalam kandungan tersebut juga dinyatakan meninggal dunia.

Mendengar kabar memilukan ini, ribuan warga di Kota Sugapa spontan turun ke jalan.

Jenazah Melkiana dan bayinya diarak warga mengelilingi kota sebelum akhirnya dibawa menuju rumah duka.

Baca juga: Warga Intan Jaya Okto Tigau Tewas Ditembak, Keluarga Protes Aparat: Kami Bukan Binatang!

Dalam video yang beredar, warga berjalan kaki dengan tertib sambil membentangkan foto korban sebagai bentuk penghormatan terakhir dan ungkapan belasungkawa yang mendalam.

WARGA SIPIL TEWAS - Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, Wakil Bupati Intan Jaya, Elias Igapa, Tim penanganan Konflik, bersama masyarakat saat mengevakuasi jenazah Okto Tigau di belakang Pos Habema.
WARGA SIPIL TEWAS - Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, Wakil Bupati Intan Jaya, Elias Igapa, Tim penanganan Konflik, bersama masyarakat saat mengevakuasi jenazah Okto Tigau di belakang Pos Habema. (Tribun-Papua.com/Istimewa)

Bupati Aner Maisini: Intan Jaya Status Tanggap Darurat

Bupati Intan Jaya, Aner Maisini, menyampaikan rasa duka cita yang mendalam atas insiden yang merenggut nyawa ibu dan anak tersebut.

Ia membenarkan saat ini wilayah Kabupaten Intan Jaya masih berstatus tanggap darurat akibat penanganan konflik kelompok bersenjata.

"Tadi malam ada kejadian, saya tidak sampaikan pelakunya siapa. Ibu Melkiana Dwitau dengan anak dalam kandungan usia 32 minggu yang dalam waktu dekat akan melahirkan menjadi korban. Kami berduka karena mama dan anak tersebut meninggal," ujar Aner melalui keterangan video singkatnya.

Aner mengaku sangat kecewa lantaran konflik bersenjata yang terus bergulir di wilayahnya berulang kali mengorbankan warga sipil yang tidak tahu apa-apa.

"Saya sebagai Bupati turut berduka cita. Intan Jaya jadi daerah tanggap darurat dalam penanganan operasi militer."

"Masyarakat yang tidak bersalah jadi korban. Saya kecewa atas jatuhnya korban masyarakat, mulai dari gembala bahkan tadi malam ibu hamil," ungkap Aner dengan nada sesal.

"Mohon doa agar daerah ini damai dan masyarakat bisa beraktivitas biasa," tambahnya lagi.

KEKERASAN DI INTAN JAYA - Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits B. Ramandey mendesak Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keamanan di Papua menyusul serangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah.
KEKERASAN DI INTAN JAYA - Kepala Komnas HAM RI Perwakilan Papua, Frits B. Ramandey mendesak Presiden Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keamanan di Papua menyusul serangkaian peristiwa kekerasan yang terjadi di Kabupaten Intan Jaya, Papua Tengah. (Tribun-Papua.com/Yulianus Magai)

Komnas HAM Desak Presiden Prabowo Evaluasi Pasukan

Tragedi memilukan ini langsung memantik reaksi keras dari Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Perwakilan Papua.

Kepala Perwakilan Komnas HAM Papua, Frits Ramandey, mendesak Presiden RI Prabowo Subianto untuk segera turun tangan mengevaluasi tata kelola keamanan di wilayah rawan konflik Papua.

Baca juga: TNI Tuding Okto Tigau yang Tewas di Intan Jaya Pentolan KKB, Bupati Kecewa hingga Keluarga Protes

"Meminta Presiden RI, Prabowo Subianto melakukan evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola keamanan dan prosedur tetap prajurit TNI dan satuan keamanan lainnya yang bertugas di Papua, khususnya di wilayah rawan konflik," tegas Frits via pesan singkat WhatsApp.

Frits mengingatkan, penanganan keamanan di wilayah konflik di Papua sudah saatnya berubah. Penjagaan stabilitas tidak boleh hanya mengandalkan moncong senjata atau pendekatan represif semata.

Menurutnya, pemerintah harus mulai mengedepankan pendekatan kemanusiaan yang proporsional serta berbasis penuh pada perlindungan hak asasi manusia agar tidak ada lagi darah warga sipil yang tumpah. (*)

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.