Fakta Populasi Gajah, Jerat, hingga Solusi Cegah Konflik Manusia dan Satwa
Heri Prihartono July 04, 2026 05:49 PM

TRIBUNJAMBI.COM, JAMBI – Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Jambi terus memperkuat upaya perlindungan gajah sumatera di Bentang Alam Bukit Tigapuluh setelah ditemukannya seekor anak gajah liar yang terluka akibat jerat.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap satwa dilindungi masih tinggi, terutama akibat penyempitan habitat dan aktivitas manusia di kawasan jelajah gajah.

Kepala Balai KSDA Jambi, Himawan Sasongko, mengungkapkan penyelamatan anak gajah itu tidak terlepas dari pemantauan intensif menggunakan GPS Collar yang dipasang pada sejumlah kelompok gajah liar. 

Dalam wawancara khusus bersama Tribun Jambi, Himawan Sasongko menjelaskan kronologi penyelamatan, kondisi populasi gajah di Jambi, ancaman jerat, pentingnya menjaga koridor habitat, hingga konsep berbagi ruang antara manusia dan satwa liar.

Berikut petikan wawancaranya bersama host Rifani Halim dan Himawan Sasongko.

Tribun Jambi: Bagaimana Bapak melihat Jambi dari sudut pandang pekerjaan konservasi?

Himawan Sasongko: Kalau dari sisi pekerjaan, Jambi ini luar biasa. Bentang alam terbesar untuk gajah justru ada di Jambi. Bahkan Riau maupun Sumatera Selatan masih kalah. Dalam satu bentang alam saja ada sekitar 120 ekor gajah. Yang lebih luar biasa lagi, Jambi memiliki tiga bentang alam gajah. Ada yang berada di perbatasan Merangin dan ada juga di perbatasan Sumatera Selatan.

Tribun Jambi: Berarti pengalaman Bapak di dunia konservasi juga sudah cukup lama?

Himawan Sasongko: Saya mulai sejak tahun 1998.

Tribun Jambi: Berarti sudah sangat berpengalaman, Pak.

Himawan Sasongko: Jangan dibilang pakar. Saya hanya menjalani profesi ini karena memang ini pilihan hidup saya.

Tribun Jambi: Sebelumnya bertugas di mana saja?

Himawan Sasongko: Saya paling lama bertugas di Riau, di BKSDA. Sebelum di sini saya juga pernah di Bengkulu, Kalimantan Barat, Jawa Barat, Jakarta, dan beberapa daerah lainnya.

Tribun Jambi: Berarti suasana di Jambi menjadi pengalaman baru?

Himawan Sasongko: Bisa dibilang suasana baru, tetapi nuansanya tetap terasa lama karena saya memang lebih banyak bertugas di Sumatera dibandingkan wilayah lain.

 Kronologi Anak Gajah Terkena Jerat

Himawan Sasongko: Kejadian itu tidak terlepas dari upaya kami memasang GPS Collar pada kelompok-kelompok gajah betina. Pada bulan Mei kami memasang enam GPS Collar, terdiri dari lima kelompok betina dan satu kelompok jantan.

Setelah itu kami melakukan monitoring secara berkala, bukan hanya melalui satelit tetapi juga pemantauan langsung di lapangan. Pada tanggal 10 sampai 11 Juni, tim melihat seekor bayi gajah berjalan terpincang-pincang.

Anak gajah itu kemudian diantar induknya menuju lokasi yang dianggap aman. Sang induk tetap berada tidak jauh dari lokasi, tetapi tidak mengganggu proses pengamatan.

Melihat kondisi tersebut, kami segera membentuk tim bersama berbagai pihak. Kami meminta bantuan dari Riau, Aceh, serta Friends of the National Parks Foundation (FZS) untuk melakukan penyelamatan terhadap bayi gajah yang diduga terkena jerat.

Ternyata dugaan itu benar. Pada kaki depan sebelah kiri terdapat jerat kawat yang cukup besar. Lukanya sudah sangat dalam, hampir mengenai tulang. Dari perkiraan kami, jerat itu sudah melilit selama kurang lebih dua minggu.

Kelompok gajah ini kami beri nama Kelompok Wardani. Di dalamnya terdapat sekitar 15 hingga 20 ekor gajah.

Saat kami melakukan pemeriksaan, pilihannya hanya dua, yaitu melepas jerat lalu mengecek apakah tulangnya sudah terkena atau belum. Syukurlah tulangnya tidak terkena, hanya jaringan lunaknya saja.

 Tribun Jambi: Berarti dalam tim penyelamatan juga ada tenaga medis?

Himawan Sasongko: Tentu. Tim medis harus ada karena proses pengobatan sepenuhnya dikawal oleh dokter hewan dan tenaga medis satwa.

Setelah pengobatan selesai, kami melihat apakah anak gajah itu masih mampu berjalan kembali menemui induknya. Ternyata dia sanggup.

Menurut saya, posisi anak gajah itu memang sengaja diantar oleh induknya ke lokasi yang aman agar bisa mendapatkan pertolongan. Setelah kami obati, kami kembalikan lagi kepada induknya.

Saya melihat gajah adalah satwa yang sangat sensitif. Mereka mampu merasakan niat baik seseorang. Kalau ada orang yang berniat jahat, mereka bisa merasakannya.

Karena saat itu tujuan kami benar-benar untuk menolong anaknya, proses penyelamatan berjalan sangat lancar. Tidak ada konflik, tidak ada penyerangan dari kelompok gajah lain.

Padahal saat itu ada seekor gajah jantan berukuran besar yang terus berada di sekitar lokasi untuk mengawasi kondisi anak gajah tersebut. Selain itu induknya juga tetap berada di sekitar.

Yang saya syukuri, kelompok gajah itu sama sekali tidak mengganggu kami. Padahal kami sudah menyiapkan berbagai antisipasi, termasuk senjata bius dan perlengkapan jika sewaktu-waktu terjadi serangan.

Alhamdulillah, semua yang kami khawatirkan tidak terjadi.

 
Tribun Jambi: Kondisi luka pada kaki anak gajah seperti apa?

Himawan Sasongko: Kalau melihat dari bekas lukanya, jerat itu lebih menyerupai sling kawat kecil. Menurut saya memang jerat, tetapi bukan dipasang khusus untuk menangkap gajah.

Kemungkinan jerat itu dipasang untuk satwa lain. Namun anak gajah tersebut yang terkena. Saat berusaha melepaskan diri, kemungkinan induknya juga menarik sehingga kawat itu putus, tetapi sebagian masih melilit kaki depan kirinya.

 
Tribun Jambi: Penanganannya dilakukan langsung di lapangan?

Himawan Sasongko: Ya, dilakukan di lapangan. Kami tidak membawa anak gajah ke pusat konservasi karena mempertimbangkan keberadaan induknya.

Ternyata induknya tetap berada di sekitar lokasi dan masih bisa mengasuh anaknya.

Hasil monitoring terakhir menunjukkan lukanya mulai berangsur pulih. Secara visual kami melihat anak gajah itu sudah kembali bersama induknya.

Persoalan Gajah Harus Jadi Perhatian

Tribun Jambi: Kalau melihat jenis jeratnya, menurut Bapak kemungkinan dipasang untuk satwa apa?

Himawan Sasongko: Dari identifikasi teman-teman di lapangan, melihat ukuran kawat maupun talinya, kemungkinan memang dipasang untuk menjerat babi. Tetapi yang justru membuat saya waswas adalah jangan-jangan jerat itu sebenarnya dipasang untuk harimau. Itu yang menjadi kekhawatiran saya.

Karena itu, setelah proses penyelamatan, pengobatan, dan monitoring terhadap anak gajah beserta kelompoknya selesai dilakukan, kami langsung menerbangkan drone termal.

Kami mencoba memotret kondisi dari udara. Dari lima kelompok gajah betina dan satu kelompok jantan yang kami pantau, terdapat tiga kelompok betina yang memiliki cukup banyak anak dan remaja gajah.

Hal itu membuat saya berpikir bahwa persoalan jerat harus benar-benar menjadi perhatian. Kalau kita tidak segera melakukan pembersihan jerat maupun penanganan pagar listrik, maka masa depan anak-anak gajah inilah yang dipertaruhkan. Padahal mereka merupakan generasi penerus populasi gajah di Jambi.

 
Tribun Jambi: Beberapa waktu lalu ada kasus Gajah Indro di Tesso Nilo. Apakah kejadian itu juga menjadi peringatan bagi populasi gajah di Jambi, khususnya di Tebo?

Himawan Sasongko: Saya melihatnya begini. Tanpa mengurangi rasa duka atas meninggalnya Gajah Indro dan juga kesedihan masyarakat, menurut saya yang terpenting sekarang adalah pelajaran apa yang bisa kita ambil dari kejadian tersebut.

Harus ada langkah pembenahan yang dilakukan secara simultan dan berkelanjutan. Habitat gajah tidak boleh terputus karena itulah yang menjadi penghubung kelangsungan hidup mereka antar-generasi.

Seekor gajah jantan, misalnya Indro, ketika memasuki masa reproduksi tentu harus menemukan kelompok betina. Kalau jalur itu terputus, dia akan mengalami stres.

Hal itu bisa terjadi pada gajah mana pun, baik di Jambi, Aceh, Riau maupun daerah lainnya.

Karena itu, pelajaran paling penting bagi Jambi adalah menjaga keterhubungan habitat antarkelompok gajah agar tetap ada.

Jangan sampai gajah liar mengalami stres karena tidak dapat berkembang biak. Itu bisa memicu konflik.

Bayangkan saja, mungkin ada gajah lain yang mengalami kondisi hormonal seperti Indro, tetapi tidak menemukan pasangan karena jalurnya sudah terputus. Akhirnya justru berkonflik dengan manusia.

Menurut saya, sekarang saatnya mengakhiri duka dan mulai membangun kembali konektivitas habitat. Itulah yang jauh lebih penting.

 
Tribun Jambi: Lokasi ditemukannya jerat itu apakah memang termasuk kawasan yang rawan konflik?

Himawan Sasongko: Kami mendasarkan pemantauan pada pergerakan gajah yang termonitor melalui satelit maupun pengamatan visual.

Tidak semua kelompok gajah berada di lokasi rawan.

Namun, kelompok Wardani memang sejak dulu memiliki pola pergerakan menuju bagian utara kawasan. Saat ini wilayah utara tersebut sudah banyak mengalami perambahan, pemasangan jerat, serta pagar listrik bertegangan tinggi.

 
Tribun Jambi: Masih berada di Bentang Alam Bukit Tigapuluh?

Himawan Sasongko: Ya, masih di Bentang Alam Bukit Tigapuluh, wilayah Tebo, tepatnya di kawasan hutan produksi.

Artinya, ada persoalan yang harus kita selesaikan secara bertahap agar pergerakan gajah tidak masuk ke wilayah yang memiliki potensi konflik tinggi dengan manusia.

Walaupun secara hukum manusia juga tidak diperbolehkan berada di kawasan tertentu, faktanya kondisi itu sudah terjadi dan menimbulkan konflik.

Karena itu kami melihat perlunya segera dilakukan reaktivasi jalur jelajah gajah yang saat ini mulai terpotong.

 
Tribun Jambi: Maksudnya koridor gajah?

Himawan Sasongko: Kami menggunakan istilah reaktivasi jalur jelajah gajah.

Di Tebo, bahkan di Jambi secara umum, gajah sebenarnya masih bisa bergerak dan bertemu dengan kelompok lain.

Namun jalurnya semakin terbatas.

Belum benar-benar terputus, tetapi terus menyempit.

Kalau terus dihimpit oleh aktivitas manusia, itu sangat berbahaya.

Penyelidikan BKSDA

Tribun Jambi: Apakah dari kasus jerat ini BKSDA juga melakukan penyelidikan?

Himawan Sasongko: Selalu.

Berdasarkan data lapangan, sebenarnya kami sudah bisa memprediksi pola pergerakan gajah.

Kami mengetahui kapan mereka berpindah dari satu titik ke titik lain.

Bahkan ketika kelompok gajah tiba-tiba bergerak sangat cepat dari satu lokasi menuju lokasi lain, kami bisa menduga telah terjadi sesuatu.

Data satelit menunjukkan Kelompok Wardani pernah bergerak sangat jauh dari wilayah utara ke selatan tanpa berhenti.

Artinya ada sesuatu yang terjadi.

Apakah mereka diusir, menyelamatkan kelompoknya, atau ada gangguan lain.

Dari data seperti itu kami kemudian memetakan sejumlah lokasi yang harus menjadi perhatian.

 
Tribun Jambi: Saya baru sebatas berkunjung ke PIKG dan melihat gajah-gajah di sana yang kondisinya cukup baik.

Himawan Sasongko: Nah, saya ingin menambahkan.

Saya berharap masyarakat maupun para netizen tidak hanya melihat konservasi gajah dari sisi gajah yang berada di pusat konservasi atau pusat latihan gajah.

Yang jauh lebih penting justru bagaimana kita memikirkan gajah-gajah yang hidup liar di habitat alaminya.

Kalau masyarakat tertarik melihat gajah, jangan hanya datang ke PIKG.

Lihat juga bagaimana kehidupan gajah liar.

Kami sudah memiliki pemetaan.

Kami bisa memonitor posisi gajah setiap hari, bahkan setiap dua jam sekali.

Harapan saya, suatu saat nanti informasi ini dapat disampaikan kepada masyarakat agar muncul ketertarikan untuk bersama-sama menjaga habitat gajah.

Bentuknya bisa bermacam-macam, mulai dari wisata alam hingga bentuk partisipasi lainnya.

Itu nanti bisa kita diskusikan bersama.

 
Tribun Jambi: Memang banyak masyarakat yang belum mengetahui bahwa di Jambi masih ada gajah liar maupun PIKG. Bahkan di media sosial kami banyak komentar yang baru tahu ternyata ada gajah di Tebo.

Himawan Sasongko: Betul. Masih ada kesenjangan informasi dan itu menjadi pekerjaan rumah kita bersama.

Saya bahkan kadang ingin menguji sejauh mana masyarakat Jambi mengenal gajah.

Jangan-jangan justru orang luar Jambi yang lebih mengenal gajah dibanding masyarakat Jambi sendiri.

Banyak yang tahunya hanya Gajah di Taman Rimba.

Padahal kita memiliki populasi gajah liar yang hidup di alam.

Saya rasa sesekali perlu mengajak teman-teman media melihat langsung gajah liar di habitatnya.

Kalau tidak bisa mendekat, kita bisa menggunakan drone.

Melihat jejak ataupun kotoran gajah saja sebenarnya sudah memberikan pengalaman yang luar biasa.

Populasi Gajah di Bukit Tigapuluh

Tribun Jambi: Saat ini bagaimana kondisi populasinya?

Himawan Sasongko: Di Bentang Alam Bukit Tigapuluh populasinya berkisar antara 90 hingga maksimal sekitar 120 ekor.

Bentang alam itu membentang dari Tanjung Jabung Barat hingga Tebo.

Selain itu masih ada kelompok kecil di kawasan Hutan Harapan, perbatasan Jambi dan Sumatera Selatan, jumlahnya kurang dari 15 ekor.

Kemudian di wilayah Merangin hingga Taman Nasional Kerinci Seblat juga masih ada.

Memang populasi terbesar tetap berada di Tebo.

Tribun Jambi: Melihat bentang alam yang ada sekarang, apakah mungkin dulunya seluruh populasi gajah di Sumatera, termasuk Jambi dan Riau, merupakan satu kelompok yang saling terhubung?

Himawan Sasongko: Sangat mungkin. Berdasarkan data satelit yang kami miliki, sekitar tahun 2012 masih terlihat adanya keterhubungan antara populasi gajah di Provinsi Jambi dengan Riau. Bahkan ada jalur yang menghubungkan hingga ke Sumatera Barat.

Namun sekitar tahun 2018 mulai terlihat bahwa keterhubungan itu semakin sulit ditemukan. Dari data satelit terlihat jelas jalurnya mulai terputus.

Lama-kelamaan gajah yang berada di Riau tidak kembali lagi ke sana, tetapi bergabung dengan kelompok yang berada di Jambi. Begitu juga dengan kelompok yang berada di Sumatera Barat.

Harapan kita tentu suatu saat nanti keterhubungan itu bisa kembali. Tetapi melihat perkembangan pembangunan saat ini memang sangat sulit.

Karena itu kita tidak bisa terus berandai-andai. Fakta yang ada sekarang seperti ini. Maka paling tidak populasi yang ada di Tebo inilah yang harus benar-benar kita jaga.

 
Tribun Jambi: Kalau berbicara mengenai populasi, tentu kebutuhan makan gajah juga sangat besar. Saya melihat di PIKG saja kebutuhan pakan sudah luar biasa. Bagaimana dengan populasi liar yang mencapai sekitar 120 ekor?

Himawan Sasongko: Betul. Gajah setiap hari membutuhkan makanan dalam jumlah sangat besar.

Mereka tidak makan di satu titik saja. Setelah makan mereka akan terus berpindah ke lokasi lain.

Karena itu, ketika berbicara mengenai konservasi gajah, kita tidak bisa memisahkan dua kebutuhan utama mereka, yaitu bergerak dan mencari makan.

Gajah membutuhkan ruang jelajah sekaligus area pakan.

Karena itu kami melakukan delineasi kawasan sekitar 390 ribu hingga hampir 400 ribu hektare. Kawasan seluas itu menurut kami masih mampu menopang perkembangan populasi gajah untuk lima sampai sepuluh tahun ke depan.

Persoalannya, kawasan tersebut tidak seluruhnya merupakan kawasan hutan.

Di dalamnya terdapat Areal Penggunaan Lain (APL), perkebunan, serta berbagai izin pemanfaatan lainnya.

Di sinilah tantangannya.

Bagaimana semua pihak menyadari bahwa wilayah yang mereka tempati juga merupakan ruang hidup gajah.

Artinya konsep berbagi ruang menjadi sesuatu yang harus kita kelola bersama.

Dengan begitu gajah tetap bisa berkembang, sementara masyarakat juga tetap dapat menjalankan aktivitas kehidupannya.

 
Tribun Jambi: Berarti yang paling penting adalah meningkatkan kesadaran masyarakat?

Himawan Sasongko: Tepat sekali.

Edukasi hanya akan berjalan apabila terlebih dahulu muncul kesadaran.

Yang terus ingin kami gaungkan adalah menerima kenyataan dengan lapang dada bahwa wilayah yang kita tempati juga merupakan habitat satwa liar.

Memang proses itu tidak mudah.

Setelah muncul kesadaran, barulah kita memberikan edukasi mengenai apa yang bisa dilakukan masyarakat.

Kemudian setelah edukasi berjalan dan populasi gajah tetap lestari, kita juga harus memikirkan manfaat apa yang dapat diperoleh masyarakat.

Kita tidak bisa hanya memikirkan gajah saja.

Masyarakat juga harus mendapatkan manfaat.

Manfaat itu bukan semata-mata uang tunai, tetapi bisa berupa perhatian pemerintah, program pemberdayaan, maupun bentuk peningkatan kesejahteraan lainnya.

 
Tribun Jambi: Saya terus terang kadang melihat persoalan ini dari sisi yang cukup emosional. Ketika melihat masyarakat memiliki lahan yang sangat luas hanya untuk tanaman monokultur, saya berpikir kenapa tidak dibuat lebih beragam agar manusia dan gajah sama-sama bisa hidup. Bagaimana pandangan Bapak?

Himawan Sasongko: Saya melihatnya tidak seekstrem itu.

Menurut saya, pada masa lalu memang manusia belum berada di kawasan tersebut.

Namun perkembangan zaman membuat manusia akhirnya masuk hingga ke kawasan hutan, baik kawasan hutan negara maupun APL.

Ketika manusia mulai bersinggungan dengan satwa liar, maka yang memiliki kemampuan mengatur semuanya adalah manusia.

Mengapa?

Karena manusia memiliki akal, bisa belajar, bisa diedukasi, dan bisa dilatih.

Sementara gajah hanya mengikuti nalurinya.

Karena itu manusialah yang harus bijaksana dalam menyikapi kondisi tersebut.

Kalaupun hidup berdampingan tidak bisa dihindari, maka harus ada pengelolaan yang baik.

Bagaimana supaya masyarakat tidak terdorong memusuhi gajah.

Bagaimana pula agar gajah tidak masuk ke kawasan inti kehidupan manusia, seperti rumah maupun pondok.

Semua itu harus dikelola dengan baik.

Berbeda jika yang terjadi merupakan aktivitas ilegal seperti perambahan.

Kalau itu tentu persoalan lain.

Namun terhadap kondisi yang sudah berlangsung puluhan tahun dan melibatkan ribuan orang, harus ada jalan tengah.

Harus ada solusi yang membuat ruang hidup gajah lebih aman, sekaligus memberikan alternatif bagi masyarakat yang sudah tinggal di kawasan tersebut.

Karena itu saya mempelajari Bentang Alam Bukit Tigapuluh dengan pendekatan bahwa tidak boleh ada satu kepentingan yang dianggap lebih penting daripada kepentingan lainnya.

Konsepnya harus berbagi ruang.

Yang menjadi tantangan adalah bagaimana konsep berbagi ruang itu diwujudkan.

Hanya manusia yang mampu merancang dan melaksanakannya.

 
Tribun Jambi: Konsep berbagi ruang seperti apa yang ingin segera diwujudkan?

Himawan Sasongko: Yang pertama adalah mengembalikan fungsi kawasan hutan yang sejak awal diperuntukkan sebagai kawasan perlindungan agar kembali menjalankan fungsi perlindungannya.

Mengapa itu penting?

Karena langkah tersebut akan mereaktivasi jalur jelajah gajah sekaligus mengurangi tekanan sosial yang terjadi di kawasan APL.

Kalau itu tidak dilakukan, maka gajah akan semakin banyak memasuki kawasan APL.

Padahal masyarakat yang berada di APL memiliki hak legal untuk tinggal di sana.

Kita harus menjaga cara pandang masyarakat agar tidak berubah menjadi memusuhi gajah.

Karena itu reaktivasi kawasan perlindungan habitat gajah harus dilakukan.

Yang kedua, kita juga harus menjaga jalur-jalur penting yang sejak lama digunakan gajah.

Kami sudah memetakan ada tiga sungai yang menjadi jalur utama, yaitu Sungai Mendelang, Sungai Menggatal, dan Sungai Pekundangan.

Jalur tersebut sebaiknya tetap dibiarkan alami dan tidak dirambah.

Kalaupun berada di kawasan konsesi, bisa dijadikan jalur hijau.

Kalau sampai muncul aktivitas lain seperti PETI, persoalannya akan semakin berat.

Yang ketiga, kita harus memastikan area makan gajah tetap tersedia.

Harus ada kawasan yang benar-benar dipertahankan sebagai area inti tempat gajah mencari makan.

Kemudian bagaimana dengan APL?

Di sana juga harus ada skema pengelolaan tertentu.

Karena faktanya gajah tetap mencari makan di kawasan milik masyarakat.

Apakah kita akan terus membiarkan masyarakat berhadapan langsung dengan gajah?

Tentu tidak bisa.

Beberapa tahun lalu bahkan pernah terjadi korban jiwa akibat konflik manusia dan gajah.

Karena itu harus ada intervensi manajemen di kawasan APL.

Pendekatan pengelolaannya tentu berbeda dengan kawasan hutan.

Semua itu harus dibahas bersama pemerintah daerah.

Yang terakhir, ketika masyarakat sudah menjaga habitat dan populasi gajah tetap lestari, maka mereka juga harus mendapatkan manfaat.

Kita tidak boleh membiarkan masyarakat menjaga hutan tetapi tetap hidup dalam kemiskinan.

Harus ada bentuk kompensasi, insentif, ataupun penghargaan bagi masyarakat yang menyediakan lahannya sebagai habitat maupun jalur jelajah gajah.

Konsep seperti itulah yang sedang kami dorong agar masyarakat merasa memperoleh perhatian ketika ikut menjaga keberlangsungan hidup gajah.

Pagar Ramah Satwa

Tribun Jambi: Berarti ke depan harapannya tidak ada lagi pagar kawat ataupun pagar listrik yang membahayakan satwa?

Himawan Sasongko: Pagar listrik sebenarnya secara legal diperbolehkan. Namun bentuknya harus berupa sistem poligon, bukan memotong jalur jelajah gajah.

Artinya, ketika satwa mendekat, pagar itu berfungsi menghalau sehingga satwa menjauh, bukan membuat satwa tersengat hingga terperangkap seperti yang banyak terjadi di kawasan perambahan saat ini.

Kalau yang kita kembangkan adalah pagar yang ramah satwa, begitu gajah menyentuh pagar, dia akan terpental dan menjauh. Jalurnya pun tidak dipotong.

Intervensi seperti itu harus dilakukan melalui edukasi dan praktik-praktik yang ramah terhadap satwa liar.

 
Tribun Jambi: Konsep yang Bapak sampaikan tadi sangat menarik. Apakah konsep tersebut sudah dibicarakan dengan pemerintah daerah maupun lembaga lain?

Himawan Sasongko: Teman-teman NGO sebenarnya sudah memahami konsep ini karena mereka memiliki pengalaman panjang dalam pengelolaan satwa liar maupun pendampingan masyarakat.

Sekarang tinggal bagaimana kita membangun pemahaman yang sama dengan pemerintah daerah.

Saya menyadari prosesnya tidak mudah, tetapi harus terus dicoba.

Mumpung kondisi di Jambi belum separah Tesso Nilo.

Kalau sudah seperti Tesso Nilo, energi yang dibutuhkan untuk memulihkannya akan jauh lebih besar.

Karena itu kami terus melakukan sosialisasi, menawarkan berbagai program, sekaligus memperjuangkan dukungan anggaran.

Mudah-mudahan hingga tahun 2028 nanti berbagai program tersebut sudah bisa berjalan.

 
Tribun Jambi: Menarik sekali, Pak.

Himawan Sasongko: Makanya saya sampai kelelahan. Suara habis, tenaga juga terkuras.

Tetapi memang pekerjaan seperti inilah yang harus dilakukan agar kondisi di Jambi tidak menjadi seperti Tesso Nilo.

Bukan berarti Tesso Nilo adalah sesuatu yang buruk, tetapi itu merupakan pelajaran yang sangat berharga.

Kita harus mencegah hal serupa terjadi di Jambi.

Karena itu saya sangat serius memasang GPS Collar.

Kalau masih kurang, kita tambah lagi.

Harapannya seluruh pergerakan gajah dari Tanjung Jabung Barat hingga Tebo bisa terus dimonitor.

 
Tribun Jambi: Sedikit beralih ke Pusat Informasi Konservasi Gajah (PIKG). Bagaimana kondisi PIKG saat ini?

Saya melihat di media sosial cukup banyak masyarakat yang ingin berkunjung ke sana. Ketika saya mengunggah video saat berada di PIKG, banyak yang bertanya lokasi tempat tersebut.

Bagaimana BKSDA menyikapi tingginya minat masyarakat?

Himawan Sasongko: Ini juga berkaitan dengan banyaknya konten para pecinta maupun pemerhati gajah yang ternyata memiliki pengikut sangat banyak.

PIKG pada awalnya memang dibangun sebagai pusat penanganan konflik gajah sekaligus pusat informasi konservasi.

Luasnya sekitar enam hektare.

Kalau melihat kondisi sekarang, menurut saya masih belum ideal.

Idealnya PIKG benar-benar menjadi pusat informasi konservasi gajah yang mendukung edukasi sekaligus pariwisata.

Untuk itu luas enam hektare tentu belum cukup.

Ke depan kami ingin meningkatkan kualitasnya.

Gajah yang berada di PIKG juga harus diberi keleluasaan untuk berperilaku sebagaimana gajah liar.

Mereka harus tetap bisa mencari makan secara alami, berjalan, dan mengenal habitatnya.

Kalau setiap hari hanya diberi makan di dalam area enam hektare, apa bedanya dengan kebun binatang?

Konsep saya bukan seperti itu.

Saya ingin gajah-gajah tersebut diajak berkelana ke kawasan yang aman agar tetap mengenal jenis pakan alaminya.

Jangan sampai gajah lupa bahwa pelepah sawit ataupun pelepah pisang bukan makanan alaminya.

Makanan yang berasal dari habitat asli tetap harus dikenalkan.

Karena itu konsep pengembangan PIKG bukan hanya memperbaiki area inti seluas enam hektare, tetapi juga memperluas kawasan penggembalaan dan area mencari makan di luar kawasan tersebut.

Kami sedang menggandeng berbagai mitra untuk mewujudkan konsep itu.

Tujuannya sederhana, jangan sampai gajah lupa bahwa dirinya adalah gajah liar, bukan sekadar satwa peliharaan.

Kalau nanti dampaknya kawasan itu berkembang menjadi destinasi wisata edukasi, itu adalah manfaat tambahan.

Yang utama tetap kesejahteraan satwanya.

 
Tribun Jambi: Berarti sudah ada kawasan khusus untuk mencari makan?

Himawan Sasongko: Sudah ada.

Tetapi saya ingin mengembangkannya lebih luas lagi.

Kalau sekarang baru sekitar dua sampai tiga hektare, ke depan saya berharap bisa mencapai sekitar 30 hektare.

Lokasinya tentu berada di luar kawasan inti PIKG.

Kalau berada di kawasan hutan produksi, kita bisa bekerja sama dengan pemegang konsesi.

Kalau berada di APL, kita juga bisa bekerja sama dengan masyarakat.

Sekali lagi, konsepnya adalah gajah tidak boleh hanya dikurung seperti di kebun binatang.

Kalau nantinya kawasan itu berkembang menjadi objek wisata maupun sarana edukasi, tentu harus dipersiapkan dengan matang.

Keselamatan pengunjung harus terjamin.

Gajah juga tidak boleh merasa tertekan.

Semua membutuhkan proses dan waktu.

Namun arah pengembangannya memang menuju ke sana.

Kemudian kita juga harus memikirkan infrastruktur pendukung.

PIKG berada di Kecamatan Sumay, Kabupaten Tebo, yang lokasinya cukup jauh.

Akses jalannya juga belum seperti destinasi wisata di Pulau Jawa.

Namun di sisi lain ada peluang.

Bandara Muara Bungo kini sudah melayani penerbangan setiap hari dari Jakarta.

Saya membayangkan suatu saat nanti informasi mengenai PIKG dapat ditampilkan di Bandara Muara Bungo maupun Bandara Soekarno-Hatta sehingga masyarakat mengetahui bahwa dari Bungo perjalanan menuju PIKG sudah relatif dekat.

Harapannya, ekonomi masyarakat sekitar juga ikut tumbuh.

Saya tahu semua itu tidak mudah.

Tetapi kalau semua pihak memiliki semangat yang sama, saya optimistis program tersebut bisa diwujudkan.

Karena itu saya tidak bisa bekerja sendiri.

BKSDA harus menggandeng banyak mitra.

 
Tribun Jambi: Terima kasih banyak, Pak Himawan, atas waktunya.

Tribuners, demikian perbincangan kami bersama Kepala Balai KSDA Jambi mengenai kondisi gajah liar di Provinsi Jambi.

Mudah-mudahan di kesempatan berikutnya kami bisa ikut turun langsung ke Bentang Alam Bukit Tigapuluh untuk melihat lebih dekat kehidupan gajah liar di habitatnya.

Tentu tetap dengan menjaga jarak demi keselamatan bersama.

Semoga perbincangan ini dapat menambah pemahaman kita mengenai pentingnya menjaga habitat gajah serta mewujudkan hidup berdampingan antara manusia dan satwa liar di Jambi.

Baca juga: Keteguhan Mbah Suyati: Menjaga Asa di Kebun Kopi dan Jejak Gajah Muara Kilis Tebo

© Copyright @2026 LIDEA. All Rights Reserved.