TRIBUNPONTIANAK.CO.ID, KAYONG UTARA - Sukadana, ibu kota Kabupaten Kayong Utara, menyimpan sejarah panjang yang erat kaitannya dengan kerajaan besar di Kalimantan Barat.
Nama Sukadana sendiri berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti “anugerah menyenangkan”.
Sejak abad ke-17, penulis Eropa sudah mengenal wilayah ini dengan sebutan Succadano.
Dalam catatan sejarah, Sukadana pernah menjadi pusat pemerintahan Kerajaan Tanjungpura dan Matan.
Peran penting muncul ketika Raja Giri Kusuma memeluk Islam pada abad ke-14, menjadikan Sukadana sebagai pusat kekuasaan baru.
Selain itu, letaknya yang strategis di pesisir menjadikan Sukadana sebagai pelabuhan penting dalam perdagangan internasional.
VOC Belanda dan Inggris bahkan sempat berebut pengaruh di kawasan ini.
• 6 Cagar Budaya Kayong Utara yang Wajib Dikunjungi! Ada Tangsi Militer Belanda Abad 19
-Sanskerta “Sukadana” berarti “anugerah menyenangkan”.
-Nama ini sudah dikenal sejak abad ke-17 oleh penulis Eropa dengan sebutan Succadano.
-Kerajaan Tanjungpura & Matan: Sukadana menjadi pusat pemerintahan setelah Raja Giri Kusuma memeluk Islam pada abad ke-14.
-Perdagangan internasional: Sukadana dikenal sebagai pelabuhan penting, tempat VOC Belanda dan Inggris berebut pengaruh.
• Fakta-fakta Masjid Agung Oesman Al-Khair, Masjid Terapung Megah Ikon Kayong Utara
-Pemekaran dari Ketapang: Aspirasi masyarakat untuk mempercepat pembangunan mendorong terbentuknya kabupaten baru.
-UU No. 6 Tahun 2007: Disahkan pada 2 Januari 2007, efektif berdiri 26 Juni 2007.
-Ibu kota Sukadana: Dipilih karena sejarah panjang sebagai pusat kerajaan dan perdagangan.
-Bupati pertama: Syarif Abdullah Alkadrie sebagai penjabat awal, kemudian Hildi Hamid menjabat periode 2008–2013.
-Wilayah administratif: Luas 4.568,26 km⊃2;, terdiri dari 6 kecamatan dan 43 desa/kelurahan.
-Penduduk: Sekitar 128 ribu jiwa (2023), mayoritas beragama Islam. (*)