TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA – Pemerintah India menawarkan sistem rudal jelajah supersonik BrahMos kepada Indonesia untuk memperkuat persenjataan militer.
Duta Besar India untuk Indonesia Sandeep Chakravorty mengungkapkan, pembahasan mengenai peluang pengadaan senjata tersebut telah mencapai tahap kemajuan.
Sandeep menyampaikan perkembangan tersebur saat menjawab pertanyaan dalam konferensi pers di Kedutaan Besar India di Jakarta, Jumat (3/7/2026), menjelang kunjungan Perdana Menteri India Narendra Modi bertemu Presiden Prabowo Subianto, di Istana Negara Jakarta.
Sandeep menegaskan, kerja sama pertahanan tetap menjadi salah satu agenda yang terus berkembang dalam hubungan bilateral kedua negara. Indonesia sendiri kata dia, telah mengungkap minatnya terhadap BrahMos.
"Seperti yang mungkin sudah Anda baca di media, Indonesia memang telah menyatakan minatnya terhadap BrahMos. Saya percaya BrahMos adalah sistem yang sangat terjangkau dan andal yang sangat cocok diperoleh oleh negara-negara seperti Indonesia," katanya.
Pernyataan tersebut menjadi sinyal jelas dari pihak India bahwa negosiasi pengadaan rudal BrahMos dengan Indonesia terus mengalami kemajuan.
BrahMos merupakan rudal jelajah supersonik hasil pengembangan perusahaan patungan BrahMos Aerospace, yang dibentuk oleh India dan Rusia.
Baca juga: Iran Kerahkan Drone Baru dan Rudal Canggih setelah Perang 40 Hari: Sistem dan Kemampuan Lebih Maju
Rudal Brahmos memiliki kecepatan hingga sekitar Mach 2,8–3, atau setara 3.704 kilometer per jam, menjadikannya salah satu rudal jelajah tercepat di dunia yang telah diproduksi secara operasional.
Sistem tersebut dapat diluncurkan dari berbagai platform, mulai dari kapal perang, peluncur darat, hingga pesawat tempur.
Dalam beberapa tahun terakhir, India juga mulai memasarkan BrahMos kepada negara-negara sahabat sebagai bagian dari ekspansi industri pertahanannya.
Baca juga: Rudal BrahMos, Efektifkah Mengamankan Wilayah Laut Indonesia?
Indonesia telah beberapa kali dikabarkan berminat terhadap sistem senjata tersebut, terutama untuk memperkuat kemampuan pertahanan pantai dan menjaga wilayah maritim yang luas.
Dengan posisi geografis sebagai negara kepulauan terbesar di dunia, Indonesia membutuhkan sistem pertahanan yang mampu memberikan efek tangkal terhadap potensi ancaman di laut.
India sendiri telah mencatat keberhasilan ekspor BrahMos melalui kontrak dengan Filipina. Kesepakatan tersebut menjadi penjualan ekspor pertama BrahMos dan dipandang sebagai tonggak penting bagi industri pertahanan India.
Jika pembahasan dengan Indonesia berhasil diselesaikan, kerja sama itu akan menjadi salah satu capaian terbesar dalam hubungan pertahanan kedua negara, sekaligus memperkuat kemitraan strategis Indonesia dan India yang selama ini terus berkembang di berbagai bidang.
"Diskusi dengan Indonesia saat ini sudah berada di tahap yang sangat maju, dan kami berharap dapat menyelesaikan kesepakatan tertentu mengenai BrahMos ini," katanya.
Sebelumnya Kepala Biro Informasi Pertahanan Sekretariat Jenderal Kementerian Pertahanan, Brigjen TNI Rico Sirait, mengatakan kerja sama penguatan sistem pertahanan dengan India merupakan bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista).
Salah satunya pembelian sistem rudal BrahMos untuk memperkuat pertahanan pantai Indonesia.
“Indonesia memang menjalin kerja sama dengan India dalam penguatan teknologi dan industri pertahanan, termasuk terkait sistem rudal BrahMos untuk mendukung kemampuan coastal defence sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan,” kata Rico, Rabu (11/3/2026).
Kemhan belum merinci jumlah rudal yang akan dibeli maupun angka kontraknya. Informasi tersebut bersifat rahasia dan tidak dapat disampaikan ke publik, karena menjadi bagian dari kesepakatan.
“Untuk jumlah yang dipesan maupun rincian kontrak tidak dapat kami sampaikan karena merupakan informasi kontraktual,” kata dia.