TRIBUNPADANG.COM, PADANG – Sejarah Sate Pariaman tidak hanya berkaitan dengan kuliner khas Sumatera Barat, tetapi juga menyimpan jejak penyebaran Islam dari Aceh ke Minangkabau pada awal abad ke-17.
Kuliner ini berkembang dari tradisi mengolah daging yang dibawa para ulama dari Aceh, lalu beradaptasi dengan budaya masyarakat pesisir Pariaman.
Menurut sejarawan Fikrul Hanif, Sejarah Sate Pariaman tidak bisa dipisahkan dari perjalanan Syekh Burhanudin yang belajar agama di Singkel, Aceh, kepada Syekh Abdul Rauf.
Baca juga: Cerita Hamzah Open House di Rumah Wali Kota Padang: Baksonya Enak, Mau Makan Sate Sama Teman-Teman
Dari perjalanan tersebut, masyarakat Pariaman mulai mengenal teknik pengolahan daging yang kemudian berkembang menjadi kuliner khas daerah.
Dalam Sejarah Sate Pariaman, kondisi geografis juga berperan membentuk tradisi kuliner masyarakat.
Wilayah pedalaman Minangkabau lebih banyak mengolah ikan air tawar, sedangkan masyarakat Pariaman yang berada di pesisir terbiasa mengolah hasil laut dan daging.
Berawal dari Perjalanan Syekh Burhanudin ke Aceh
Fikrul Hanif menjelaskan, tradisi mengolah daging mulai dikenal di Pariaman setelah Syekh Burhanudin menuntut ilmu kepada Syekh Abdul Rauf di Singkel, Aceh.
Selama berada di Aceh, Syekh Burhanudin mempelajari berbagai teknik pengolahan makanan.
Pada masa berikutnya, masyarakat Pariaman yang belajar Islam di Aceh turut membawa pulang pengetahuan tersebut.
"Ciri khas makanan di Pariaman, seperti gulai baga yang berbahan dasar daging, dikenal sejak para ulama dari Aceh membawanya pulang," kata Fikrul Hanif, Minggu (5/7/2026).
Tradisi mengolah daging itu kemudian berkembang hingga melahirkan kuliner yang kini dikenal sebagai Sate Pariaman.
Gunakan Hampir Seluruh Bagian Sapi
Fikrul Hanif mengatakan, salah satu ciri khas Sate Pariaman terletak pada penggunaan bahan bakunya.
Baca juga: Sate Padang di Tepi Laut, Ritual Senja yang Menghidupkan Taplau
Jika di Aceh sate umumnya menggunakan daging sapi, masyarakat Pariaman mengembangkan tradisi tersebut dengan memanfaatkan hampir seluruh bagian tubuh sapi.
Selain daging, masyarakat juga mengolah lidah, usus, dan berbagai jenis jeroan lainnya sebagai bahan sate.
"Intinya dari setiap tubuh sapi bisa diolah menjadi bahan makanan. Hingga berkembang menjadi kuliner, yang kita kenal sebagai Sate Pariaman," ujarnya.
Menurutnya, penggunaan jeroan menjadi salah satu pembeda utama antara Sate Pariaman dengan jenis sate lainnya di Sumatera Barat.
Perbedaan Sate Pariaman dengan Sate Padang
Perkembangan kuliner di Sumatera Barat melahirkan beberapa jenis sate, seperti Sate Pariaman, Sate Padang, dan Sate Danguang-Danguang.
Fikrul Hanif menjelaskan, perbedaan paling mencolok terdapat pada kuah dan bumbu.
Sate Pariaman menggunakan kuah berwarna merah dengan cita rasa pedas dan tekstur yang lebih encer.
Kuahnya dibuat dari campuran kacang tanah dan berbagai rempah.
Sementara itu, sate dari Padang Panjang, seperti Sate Danguang-Danguang, memiliki kuah lebih kental berwarna kuning karena menggunakan kunyit.
Kini Hadir dengan Lokan dan Ayam
Seiring perkembangan zaman, bahan baku Sejarah Sate Pariaman juga mengalami perubahan. Selain daging sapi, kini Sate Pariaman juga dibuat menggunakan lokan dan daging ayam.
Meski demikian, Fikrul Hanif mengaku belum mengetahui secara pasti kapan penggunaan bahan tersebut mulai berkembang.
Ia menegaskan, bentuk awal Sejarah Sate Pariaman tetap berasal dari olahan daging sapi yang teknik pengolahannya diadopsi dari Aceh.
Tradisi itu dibawa ke Minangkabau melalui perjalanan Syekh Burhanudin bersama para ulama dari kawasan pantai pada awal abad ke-17.